Gereja Santa Maria Pertolongan Orang Kristen, Sidikalang
| Gereja Maria Pertolongan Orang Kristen | |
|---|---|
| Gereja Maria Pertolongan Orang Kristen, Sidikalang | |
| Informasi umum | |
| Lokasi | Jalan Merga Silima No.1, Sidikalang, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara |
| Negara | Indonesia |
| Denominasi | Gereja Katolik Roma |
| Jumlah anggota/umat | 17.481 jiwa |
| Sejarah | |
| Didirikan | 26 September 1938 |
| Dedikasi | Santa Maria Pertolongan Orang Kristen |
| Tanggal konsekrasi | 1959 |
| Arsitektur | |
| Status fungsional | Aktif |
| Gaya | Inkulturasi Rumah Adat Batak Toba dan Pakpak |
| Administrasi | |
| Keuskupan Agung | Medan |
| Klerus | |
| Uskup Agung | Kornelius Sipayung, O.F.M. Cap. |
| Imam kepala | R.P. Alfonsus Arpol Manik, O. Carm. |
| Imam rekan | R.P. Doni Malau, O. Carm. |
| Parokial | |
| Stasi | 27 |
Gereja Maria Pertolongan Orang Kristen, Sidikalang (Gereja MPOK Sidikalang) adalah sebuah gereja paroki Katolik yang berlokasi di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, Indonesia. Gereja ini berada di bawah pengelolaan Keuskupan Agung Medan dan secara administratif termasuk dalam Vikariat Santo Andreas Rasul Sidikalang.[1] Gereja ini didedikasikan kepada Maria Pertolongan Orang Kristen, sebuah gelar devosional kepada Maria yang menekankan perannya sebagai penolong umat beriman. Gereja ini telah dikonsekrasi pada tahun 1959 dan memiliki corak arsitektur inkulturatif yang menggabungkan unsur Rumah Adat Batak Toba dan Pakpak. Dalam pelayanan pastoral, gereja ini dikelola oleh para imam Karmelit.
Sejarah
Masuknya Misi Katolik ke Dairi
Perkembangan Gereja Katolik di Sidikalang tidak dapat dilepaskan dari kebijakan pemerintah kolonial Hindia Belanda yang mencabut larangan misi Katolik di Tanah Batak. Pemerintah secara resmi mengeluarkan izin masuk bagi misi Katolik pada 17 Februari 1932, sementara larangan tersebut dicabut pada 12 Agustus 1933. Karya misi Katolik pertama dirintis oleh misionaris Belanda, R.P. Elpidius van Duijnhoven, O.F.M. Cap., di stasi Sawahdua, Panei, Simalungun, pada 7 Januari 1936. Selanjutnya, misi ini berkembang ke Saribu Dolok, pada 30 Agustus 1938. Dari Saribudolok, karya misi Katolik kemudian meluas hingga mencapai wilayah Kabupaten Dairi.
Di Dairi, perkembangan misi Katolik ditandai dengan keberadaan keluarga-keluarga Katolik di kawasan Pasar Lama, yang secara rutin mengadakan pertemuan doa di tangsi militer. Penyebaran agama Katolik di wilayah ini berlangsung secara sporadis dan dipengaruhi oleh gelombang perpindahan penduduk dari Kabupaten Samosir, Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Simalungun, serta daerah lain di Sumatra Timur.
Pada Januari 1938, seorang katekis bernama Johanes Sihombing diutus dari Kota Pematangsiantar untuk memberikan pengajaran agama Katolik kepada umat di Dairi. Kehadirannya kemudian diikuti oleh kedatangan R.P. Cl. Hammers, O.F.M.Cap., pada 28 Februari 1938. Pater Hammers pertama kali disambut di Sitinjo dan kemudian menjadi perintis utama Gereja Katolik di Dairi, sekaligus pastor paroki pertama Paroki Santa Maria Pertolongan Orang Kristen, Sidikalang.
Pater Hammers menetapkan Sidikalang sebagai pusat pelayanan pastoral. Pada masa itu, Gereja Katedral Medan masih mengelola seluruh administrasi Paroki Sidikalang. Ia awalnya tinggal di sebuah rumah yang dikenal sebagai Hoofd Schoolop, sebelum akhirnya membeli sebidang lahan di Jalan Pakpak, Sidikalang, yang sebelumnya diperuntukkan bagi gedung sekolah yang belum selesai dibangun. Lahan tersebut kemudian dibagi menjadi dua bagian, yaitu untuk pembangunan gereja dan kompleks pastoran.
Masa Pendudukan Jepang
Ketika Jepang menguasai Hindia Belanda, banyak imam dan misionaris Katolik ditangkap, termasuk yang bertugas di Sidikalang. Tentara Jepang menangkap Pater Hammers dan menahannya di kamp Tarutung, Tapanuli Utara. Dalam situasi tersebut, umat Katolik di Sidikalang mengangkat seorang katekis bernama S.M.A. Sihombing untuk menggantikan tugas Pater Hammers dalam mengelola paroki.
Namun, setelah pemeriksaan inventaris oleh Jepang, ia dilarang tinggal di pastoran dan pindah ke Botik Horbo. Porhanger H. Lumbantobing kemudian ditunjuk menggantikannya, dan sejak 1 Januari 1943 kegiatan ibadat dipindahkan ke rumahnya; situasi semakin memburuk ketika S.M.A. Sihombing kembali ditahan sekitar 1943–1944, yang menimbulkan ketakutan di kalangan umat. Untuk mengatasi kekurangan tenaga pastoral, H. Lumbantobing menjalin hubungan dengan Balige, Kutacane, dan Pematangsiantar hingga mendatangkan katekis K. Hutabarat, yang kemudian mengupayakan pengangkatan Daniel Kudadiri sebagai katekis, meskipun rencana tersebut tidak terlaksana. Oleh karena itu, pelayanan tetap dibantu oleh katekis keliling seperti J.B. Panggabean. Dalam waktu yang sama, Jepang membentuk Majelis Tinggi Agama Masehi Tapanuli dan menunjuk H. Lumbantobing sebagai wakil umat Dairi yang juga merangkap tugas katekis sejak 12 Desember 1944, sementara wilayah pastoral dibagi, termasuk Parongil yang dipercayakan kepada H. Siburian dengan bantuan Liberti Sianturi.[2]
Pasca Kemerdekaan
Pastor Hammers kembali ke Sidikalang pada tahun 1950, disusul oleh dua orang imam Kapusin lainnya, masing-masing pada tahun 1952 dan 1953. Pada tahun 1965, Paroki Sidikalang mengalami peralihan pengelolaan dari para imam Ordo Saudara Dina Kapusin kepada para imam dari Ordo Saudara-Saudara Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel (Karmelit).
Pada tahun 1967, sebagian wilayah Paroki Sidikalang dan Paroki Parongil dimekarkan untuk membentuk Paroki Tigalingga. Setahun kemudian, Paroki Sumbul dimekarkan juga dari wilayah Paroki Sidikalang dan Paroki Parongil. Pada tahun 2018, Paroki Salak di Pakpak Bharat juga dimekarkan dari Paroki Sidikalang.
Stasi
Paroki Santa Maria Pertolongan Orang Kristen Sidikalang terdiri dari 27 stasi, yaitu:
- Stasi Bakal Julu
- Stasi Bangun
- Stasi Binjara
- Stasi Borno
- Stasi Bunturaja
- Stasi Jumatakar
- Stasi Jumateguh
- Stasi Jumantuang
- Stasi Kaban Julu
- Stasi Karing
- Stasi KM 11
- Stasi Pangiringan
- Stasi Panji Bako
- Sasi Panji Dabutar
- Stasi Rajangampu
- Stasi Saluksuk
- Stasi Sidiangkat
- Stasi Sidikalang
- Stasi Sigalingging
- Stasi Sikahurang
- Stasi Silumboyah
- Stasi Simallopuk
- Stasi Sitinjo
- Stasi Sungai Raya
- Stasi Tambunan
- Stasi Tangga Rube
- Stasi Tembe
Galeri
-
Gua Maria -
Gua Maria
Referensi
- ^ Barus, Vinny. "Paroki Sidikalang | Keuskupan Agung Medan". Diarsipkan dari asli tanggal 2023-04-05. Diakses tanggal 2022-01-20.
- ^ "Gereja Katolik di Dairi". Paroki Sidikalang. 9 Juni 2009.[butuh sumber yang lebih baik]
Pranala laur
- Gereja Santa Maria Pertolongan Orang Kristen, Sidikalang di Instagram
- Paroki Sidikalang pada situs web Keuskupan Agung Medan
- Keuskupan Agung Medan. "Profil Paroki Sidikalang" – via Youtube.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.




