Gereja Santa Maria Pertolongan Orang Kristen, Sidikalang

Gereja Maria Pertolongan Orang Kristen
Gereja Maria Pertolongan Orang Kristen, Sidikalang
PetaKoordinat: 2°45′9.95400″N 98°18′21.82565″E / 2.7527650000°N 98.3060626806°E / 2.7527650000; 98.3060626806
Informasi umum
LokasiJalan Merga Silima No.1, Sidikalang, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara
NegaraIndonesia
DenominasiGereja Katolik Roma
Jumlah anggota/umat17.481 jiwa
Sejarah
Didirikan26 September 1938; 87 tahun lalu (1938-09-26)
DedikasiSanta Maria Pertolongan Orang Kristen
Tanggal konsekrasi1959
Arsitektur
Status fungsionalAktif
GayaInkulturasi Rumah Adat Batak Toba dan Pakpak
Administrasi
Keuskupan AgungMedan
Klerus
Uskup AgungKornelius Sipayung, O.F.M. Cap.
Imam kepalaR.P. Alfonsus Arpol Manik, O. Carm.
Imam rekanR.P. Doni Malau, O. Carm.
Parokial
Stasi27

Gereja Maria Pertolongan Orang Kristen, Sidikalang (Gereja MPOK Sidikalang) adalah sebuah gereja paroki Katolik yang berlokasi di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, Indonesia. Gereja ini berada di bawah pengelolaan Keuskupan Agung Medan dan secara administratif termasuk dalam Vikariat Santo Andreas Rasul Sidikalang.[1] Gereja ini didedikasikan kepada Maria Pertolongan Orang Kristen, sebuah gelar devosional kepada Maria yang menekankan perannya sebagai penolong umat beriman. Gereja ini telah dikonsekrasi pada tahun 1959 dan memiliki corak arsitektur inkulturatif yang menggabungkan unsur Rumah Adat Batak Toba dan Pakpak. Dalam pelayanan pastoral, gereja ini dikelola oleh para imam Karmelit.

Sejarah

Masuknya Misi Katolik ke Dairi

Perkembangan Gereja Katolik di Sidikalang tidak dapat dilepaskan dari kebijakan pemerintah kolonial Hindia Belanda yang mencabut larangan misi Katolik di Tanah Batak. Pemerintah secara resmi mengeluarkan izin masuk bagi misi Katolik pada 17 Februari 1932, sementara larangan tersebut dicabut pada 12 Agustus 1933. Karya misi Katolik pertama dirintis oleh misionaris Belanda, R.P. Elpidius van Duijnhoven, O.F.M. Cap., di stasi Sawahdua, Panei, Simalungun, pada 7 Januari 1936. Selanjutnya, misi ini berkembang ke Saribu Dolok, pada 30 Agustus 1938. Dari Saribudolok, karya misi Katolik kemudian meluas hingga mencapai wilayah Kabupaten Dairi.

Di Dairi, perkembangan misi Katolik ditandai dengan keberadaan keluarga-keluarga Katolik di kawasan Pasar Lama, yang secara rutin mengadakan pertemuan doa di tangsi militer. Penyebaran agama Katolik di wilayah ini berlangsung secara sporadis dan dipengaruhi oleh gelombang perpindahan penduduk dari Kabupaten Samosir, Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Simalungun, serta daerah lain di Sumatra Timur.

Pada Januari 1938, seorang katekis bernama Johanes Sihombing diutus dari Kota Pematangsiantar untuk memberikan pengajaran agama Katolik kepada umat di Dairi. Kehadirannya kemudian diikuti oleh kedatangan R.P. Cl. Hammers, O.F.M.Cap., pada 28 Februari 1938. Pater Hammers pertama kali disambut di Sitinjo dan kemudian menjadi perintis utama Gereja Katolik di Dairi, sekaligus pastor paroki pertama Paroki Santa Maria Pertolongan Orang Kristen, Sidikalang.

Pater Hammers menetapkan Sidikalang sebagai pusat pelayanan pastoral. Pada masa itu, Gereja Katedral Medan masih mengelola seluruh administrasi Paroki Sidikalang. Ia awalnya tinggal di sebuah rumah yang dikenal sebagai Hoofd Schoolop, sebelum akhirnya membeli sebidang lahan di Jalan Pakpak, Sidikalang, yang sebelumnya diperuntukkan bagi gedung sekolah yang belum selesai dibangun. Lahan tersebut kemudian dibagi menjadi dua bagian, yaitu untuk pembangunan gereja dan kompleks pastoran.

Masa Pendudukan Jepang

Ketika Jepang menguasai Hindia Belanda, banyak imam dan misionaris Katolik ditangkap, termasuk yang bertugas di Sidikalang. Tentara Jepang menangkap Pater Hammers dan menahannya di kamp Tarutung, Tapanuli Utara. Dalam situasi tersebut, umat Katolik di Sidikalang mengangkat seorang katekis bernama S.M.A. Sihombing untuk menggantikan tugas Pater Hammers dalam mengelola paroki.

Namun, setelah pemeriksaan inventaris oleh Jepang, ia dilarang tinggal di pastoran dan pindah ke Botik Horbo. Porhanger H. Lumbantobing kemudian ditunjuk menggantikannya, dan sejak 1 Januari 1943 kegiatan ibadat dipindahkan ke rumahnya; situasi semakin memburuk ketika S.M.A. Sihombing kembali ditahan sekitar 1943–1944, yang menimbulkan ketakutan di kalangan umat. Untuk mengatasi kekurangan tenaga pastoral, H. Lumbantobing menjalin hubungan dengan Balige, Kutacane, dan Pematangsiantar hingga mendatangkan katekis K. Hutabarat, yang kemudian mengupayakan pengangkatan Daniel Kudadiri sebagai katekis, meskipun rencana tersebut tidak terlaksana. Oleh karena itu, pelayanan tetap dibantu oleh katekis keliling seperti J.B. Panggabean. Dalam waktu yang sama, Jepang membentuk Majelis Tinggi Agama Masehi Tapanuli dan menunjuk H. Lumbantobing sebagai wakil umat Dairi yang juga merangkap tugas katekis sejak 12 Desember 1944, sementara wilayah pastoral dibagi, termasuk Parongil yang dipercayakan kepada H. Siburian dengan bantuan Liberti Sianturi.[2]

Pasca Kemerdekaan

Pastor Hammers kembali ke Sidikalang pada tahun 1950, disusul oleh dua orang imam Kapusin lainnya, masing-masing pada tahun 1952 dan 1953. Pada tahun 1965, Paroki Sidikalang mengalami peralihan pengelolaan dari para imam Ordo Saudara Dina Kapusin kepada para imam dari Ordo Saudara-Saudara Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel (Karmelit).

Pada tahun 1967, sebagian wilayah Paroki Sidikalang dan Paroki Parongil dimekarkan untuk membentuk Paroki Tigalingga. Setahun kemudian, Paroki Sumbul dimekarkan juga dari wilayah Paroki Sidikalang dan Paroki Parongil. Pada tahun 2018, Paroki Salak di Pakpak Bharat juga dimekarkan dari Paroki Sidikalang.

Stasi

Paroki Santa Maria Pertolongan Orang Kristen Sidikalang terdiri dari 27 stasi, yaitu:

  1. Stasi Bakal Julu
  2. Stasi Bangun
  3. Stasi Binjara
  4. Stasi Borno
  5. Stasi Bunturaja
  6. Stasi Jumatakar
  7. Stasi Jumateguh
  8. Stasi Jumantuang
  9. Stasi Kaban Julu
  10. Stasi Karing
  11. Stasi KM 11
  12. Stasi Pangiringan
  13. Stasi Panji Bako
  14. Sasi Panji Dabutar
  15. Stasi Rajangampu
  16. Stasi Saluksuk
  17. Stasi Sidiangkat
  18. Stasi Sidikalang
  19. Stasi Sigalingging
  20. Stasi Sikahurang
  21. Stasi Silumboyah
  22. Stasi Simallopuk
  23. Stasi Sitinjo
  24. Stasi Sungai Raya
  25. Stasi Tambunan
  26. Stasi Tangga Rube
  27. Stasi Tembe

Galeri

Referensi

  1. ^ Barus, Vinny. "Paroki Sidikalang | Keuskupan Agung Medan". Diarsipkan dari asli tanggal 2023-04-05. Diakses tanggal 2022-01-20.
  2. ^ "Gereja Katolik di Dairi". Paroki Sidikalang. 9 Juni 2009.[butuh sumber yang lebih baik]

Pranala laur


Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement