Gereja Protestan Maluku
| Singkatan | GPM |
|---|---|
| Penggolongan | Protestan |
| Orientasi | Reformed |
| Teologi | Calvinis |
| Bentuk pemerintahan | Presbiterial Sinodal |
| Ketua Sinode | Pdt. Sacharias Izak Sapulette, S.Th., M.Si |
| Wilayah | Kepulauan Maluku |
| Bahasa | |
| Liturgi | Liturgi GPM |
| Kantor pusat | JL. Mayor Jenderal DI Panjaitan No.2, Kelurahan Uritetu, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Provinsi Maluku 97124 |
| Pendiri | Joseph Kam |
| Didirikan | 6 September 1935 Ambon, Maluku, Hindia Belanda |
| Terpisah dari | Gereja Protestan Indonesia (GPI) |
| Umat | 504.128 jiwa |
| Tempat ibadat | 761 Gereja (Jemaat) dan 34 Klasis |
| Situs web resmi | [https://sinodegpm.co.id |
Gereja Protestan Maluku (disingkat GPM) merupakan salah satu gereja di Indonesia yang beraliran Protestan Reformasi atau Calvinis. GPM berdiri di Ambon, Maluku pada tanggal 6 September 1935. Tanggal ini kemudian diperingati sebagai hari kelahiran GPM. GPM memandirikan dirinya dari Gereja Protestan di Indonesia (GPI) atau Indische Kerk sebagai bentuk kemandirian gereja.
Sejarah
Akar sejarah GPM bermula pada 27 Februari 1605, yang ditandai dengan pelaksanaan ibadah perdana Gereja Protestan Calvinis di Ambon. Ibadah ini awalnya ditujukan bagi para pegawai kongsi dagang Belanda (VOC) dan warga Belanda yang menetap di Maluku, yang kemudian menjadi fondasi bagi penyebaran ajaran Protestan di wilayah kepulauan tersebut. Seiring berjalannya waktu, struktur organisasi gereja mulai diperkuat dengan pembentukan Majelis Jemaat Indische Kerk pertama di Batavia pada tahun 1621, yang kemudian diikuti dengan pembentukan Majelis Jemaat di Banda Neira pada tahun 1622.
Kehadiran Majelis Jemaat di Banda memicu gelombang penginjilan yang lebih intensif di seluruh wilayah Maluku. Tokoh penting dalam periode ini adalah Pendeta Adriaan Hulsebos, yang dengan gigih berupaya memperluas pelayanan ke Ambon, meskipun ia akhirnya wafat setelah kapalnya tenggelam di Teluk Ambon. Estafet pelayanan kemudian dilanjutkan oleh Pendeta Rosskot, seorang misionaris yang memiliki visi besar terhadap pendidikan. Rosskot tercatat sebagai pelopor penyelenggaraan Pendidikan Teologi pertama di Ambon, yang sekaligus menjadi institusi pendidikan teologi tertua di Maluku maupun di Indonesia.
Namun, masa kejayaan gereja di bawah naungan VOC mengalami guncangan besar ketika kongsi dagang tersebut resmi dibubarkan pada tahun 1799. Pembubaran ini menyebabkan kekacauan administratif dan finansial yang berdampak langsung pada kehidupan jemaat-jemaat di Indonesia. Banyak jemaat di wilayah Ambon dan sekitarnya yang telantar dan kehilangan pengasuhan rohani karena putusnya jalur dukungan dari Belanda, menandai salah satu periode tersulit dalam sejarah kekristenan di Maluku sebelum memasuki abad ke-19.
Setelah masa vakum pasca-pembubaran VOC, harapan baru muncul dengan kedatangan Joseph Kam ke Maluku pada periode 1815 hingga 1833. Kam diutus oleh Nederlandsch Zendeling Genootschap (NZG) dan dikenal sebagai sosok yang sangat berdedikasi dalam menghidupkan kembali jemaat-jemaat yang sempat terbengkalai. Karena ketekunannya berkeliling dari pulau ke pulau untuk melayani, ia dijuluki sebagai "Rasul Maluku". Kerja kerasnya tidak hanya berfokus pada pelayanan mimbar, tetapi juga pada pengorganisasian kembali struktur jemaat yang tercerai-berai.
Pada tahun 1871, Joseph Kam melakukan langkah administratif yang sangat penting dengan mendata seluruh jemaat yang tersebar di wilayah Ambon. Pendataan ini menjadi basis data vital bagi pengembangan gereja di masa depan dan memastikan bahwa setiap komunitas Kristen mendapatkan perhatian yang layak. Upaya ini memperkuat posisi gereja dalam menghadapi dinamika sosial-politik di bawah pemerintahan Hindia Belanda, di mana gereja mulai menata diri sebagai institusi yang lebih teratur dan memiliki jangkauan pelayanan yang jelas bagi masyarakat lokal.
Memasuki tahun 1930, pengaruh kekristenan di Maluku telah berkembang sangat pesat. Pelayanan yang dilakukan secara kolaboratif antara Gereja Protestan di Indonesia (GPI) dan NZG berhasil menjangkau hampir seluruh pelosok Maluku dan Maluku Utara. Gereja tidak lagi dipandang sebagai institusi asing bagi orang Belanda saja, melainkan telah menyatu dengan identitas masyarakat lokal. Pertumbuhan jumlah jemaat yang signifikan ini menjadi dasar yang kuat bagi keinginan para tokoh gereja lokal untuk memiliki otonomi penuh dalam mengelola rumah tangganya sendiri.
Momentum paling bersejarah bagi umat Protestan di Maluku terjadi pada 6 September 1935. Pada tanggal ini, Gereja Protestan Maluku (GPM) secara resmi diproklamasikan sebagai gereja yang mandiri. Kemandirian ini mencakup tiga pilar utama, yaitu konfesi (pengakuan iman), liturgi (tata cara ibadah), dan keuangan. Dengan berdirinya GPM sebagai entitas yang otonom, kendali pelayanan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pusat kekuasaan di Belanda atau Batavia, melainkan dikelola oleh putra-putri daerah Maluku sendiri.
Proses kemandirian ini membawa GPM melalui masa-masa sulit, termasuk saat menghadapi pendudukan Jepang dan masa revolusi kemerdekaan Indonesia. Namun, identitas sebagai gereja mandiri justru memperkuat daya tahan jemaat dalam menghadapi perubahan zaman. GPM mulai merumuskan tata gereja yang lebih kontekstual, yang menghargai budaya lokal Maluku namun tetap setia pada ajaran Alkitab. Hal ini menjadikan GPM sebagai salah satu gereja mandiri tertua di Indonesia yang lahir sebelum masa kemerdekaan nasional.
Pasca-proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, GPM semakin mempertegas posisinya dalam gerakan persatuan gereja di tingkat nasional. Pada 25 Mei 1950, GPM secara resmi bergabung menjadi anggota Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI). Bergabungnya GPM ke dalam PGI merupakan wujud komitmen untuk bersama-sama dengan gereja-gereja lain di Indonesia dalam menjalankan misi oikumene. Hingga saat ini, GPM terus berperan aktif sebagai salah satu tiang penyangga kerukunan dan pembangunan spiritual di wilayah Indonesia Timur.
Daftar Ketua Sinode
| No. | Nama | Dari | Sampai | |
|---|---|---|---|---|
| 1. | 1. | Pdt. J.E. Staap | 1935 | 1938 |
| 2. | 2. | Pdt. C. Hamel | 1938 | 1940 |
| 3. | 3. | Pdt. W. van Oust | 1940 | 1942 |
| 4. | 4. | Pdt. F. Siwabessy (Pj) | 1942 | 1943 |
| 5. | 5. | Pdt. S. Marantika | 1943 | 1946 |
| 6. | 6. | Pdt. J. Kalk | 1946 | — |
| 7. | 7. | Pdt. P. Poot | 1946 | 1947 |
| 8. | 8. | Pdt. J.C.W. van Wyck Juranse | 1947 | 1948 |
| 9. | 9. | Pdt. Dr. J.J. Geiser | 1948 | 1949 |
| 10. | 10. | Pdt. C. Kainama | 1949 | — |
| 11. | 11. | Pdt. S. Marantika | 1949 | 1950 |
| 12. | 12. | Pdt. Chr. Mataheru | 1953 | 1957 |
| 13. | 13. | Pdt. F.H. de Fretes | 1957 | 1961 |
| 14. | 14. | Pdt. Th. Pattiasina | 1965 | 1970 |
| 15. | Pdt. Th. Pattiasina | 1970 | 1974 | |
| 16. | Pdt. Th. Pattiasina | 1974 | 1976 | |
| 17. | 15. | Pdt. M.J. Wattimena, S.Th | 1976 | 1978 |
| 18. | 16. | Pdt. A.N. Radjawane, M.Th | 1978 | 1983 |
| 19. | Pdt. A.N. Radjawane, M.Th | 1983 | 1985 | |
| 20. | 17. | Pdt. A.J. Soplantila, S.Th | 1986 | 1990 |
| 21. | Pdt. A.J. Soplantila, S.Th | 1990 | 1995 | |
| 22. | 18. | Pdt. S.P. Titaley, S.Th | 1995 | 2000 |
| 23. | 19. | Pdt. DR. I.W.J. Hendriks | 2000 | 2005 |
| 24. | 20. | Pdt. DR. John Ruhulessin, M.Si | 2005 | 2010 |
| 25. | Pdt. DR. John Ruhulessin, M.Si | 2010 | 2015 | |
| 26. | 21. | Pdt. Drs. Athes. J.S Werinussa, M.Si | 2015 | 2020 |
| 27. | 22. | Pdt.Elifas Tomix Maspaitella, M.Si | 2020 | 2025 |
| 28. | 23. | Pdt.Sacharias Izack Sapulette, M.Th. | 2025 | 2030 |
Wilayah pelayanan
Wilayah pelayanan Gereja Protestan Maluku (GPM) meliputi 34 klasis dan 761 jemaat yang tersebar di seluruh Kepulauan Maluku, baik di Provinsi Maluku maupun Maluku Utara.[1] Pada awal pendiriannya, 6 September 1935, GPM memiliki tujuh wilayah pelayanan (klasis) dan enam bagian gereja yang setingkat klasis.[2]
Galeri
-
GPM Jemaat Oma PNIEL -
GPM Jemaat Ullath Syaloom, berlokasi di Jalan Soupake
Referensi
- ^ "761 Jemaat GPM dari 34 Klasis Memilih Majelis Jemaat di Maluku dan Maluku Utara". satumaluku.id. 4 November 2019. Diakses tanggal 18 Juni 2022.[pranala nonaktif permanen]
- ^ M. Malakalamere 2014, hlm. 55.
Daftar pustaka
- M. Malakalamere (2014). "Pengaruh Kualitas Komunikator dan Kualitas Pesan Terhadap Tingkat Pengetahuan (Studi Eksplanatif Tentang Program Sosialisasi Industri Hulu Minyak dan Gas Bumi INPEX Masela Ltd. di Komunitas Klasis Gereja Protestan Maluku Tanimbar Selatan)" (PDF). Jurnal Ilmu Komunikasi. Universitas Atma Jaya Yogyakarta: 55, 56. Diakses tanggal 18 Juni 2022.
Pranala luar
- Profil Gereja Protestan Maluku di Profil Gereja Diarsipkan 2020-08-06 di Wayback Machine.
- WCC GPM profil[pranala nonaktif permanen]
- Reformed Online GPM profil Diarsipkan 2023-04-04 di Wayback Machine.
- Profil GPM di situs Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Diarsipkan 2023-08-02 di Wayback Machine.
- Gereja Protestan di Maluku Diarsipkan 2012-04-04 di Wayback Machine.
- Infografis GPI Diarsipkan 2016-03-05 di Wayback Machine.. Kaitan dengan gereja-gereja lain, termasuk GPM. Karya Samuel Mandang. 2013.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


