Genosida dalam sejarah (1490 sampai 1914)

Genosida adalah pemusnahan yang disengaja terhadap suatu kelompok manusia, baik secara keseluruhan maupun sebagian. Istilah ini dicetuskan pada tahun 1944 oleh Raphael Lemkin.

Dalam Pasal 2 Konvensi tentang Pencegahan dan Penghukuman Kejahatan Genosida (CPPCG) 1948, genosida didefinisikan sebagai “setiap tindakan berikut yang dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan, seluruhnya atau sebagian, suatu kelompok nasional, etnis, ras, atau agama, sebagai kelompok itu: membunuh anggota kelompok tersebut; menyebabkan kerugian fisik atau mental yang serius kepada anggota kelompok; dengan sengaja memberlakukan kondisi hidup yang diperhitungkan untuk menghancurkan kelompok secara fisik, seluruhnya atau sebagian; menetapkan langkah-langkah untuk mencegah kelahiran dalam kelompok; dan memindahkan anak-anak dari kelompok tersebut secara paksa ke kelompok lain.”

Pendahuluan CPPCG menyatakan bahwa “genosida adalah kejahatan menurut hukum internasional, bertentangan dengan semangat dan tujuan Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan dikecam oleh dunia yang beradab”, serta juga menyatakan bahwa “di sepanjang sejarah, genosida telah menimbulkan kerugian besar bagi umat manusia.” Genosida secara luas dianggap sebagai puncak kejahatan manusia, bahkan disebut sebagai “kejahatan dari segala kejahatan”. Menurut perkiraan Political Instability Task Force, terjadi 43 genosida antara tahun 1956 hingga 2016, yang mengakibatkan sekitar 50 juta orang tewas, sementara UNHCR memperkirakan 50 juta orang lainnya mengungsi akibat kekerasan tersebut.

Sejarah

Antara abad ke-15 hingga awal abad ke-20, sejarah dunia mencatat sejumlah peristiwa yang dapat dikategorikan sebagai genosida, tersebar di berbagai benua dan wilayah. Di Afrika, perdagangan budak Atlantik menimbulkan kematian jutaan orang, baik selama penangkapan maupun dalam perjalanan melalui “Middle Passage”.[1] Pada akhir abad ke-19, wilayah Congo di bawah kekuasaan pribadi Raja Leopold II dari Belgia menjadi saksi pembunuhan massal dan kerja paksa, dengan estimasi korban mencapai jutaan. Di Afrika Timur Jerman, pemberontakan Maji Maji melawan kekuasaan kolonial Jerman juga berakhir dengan penindasan brutal, termasuk pembakaran ladang dan kelaparan yang diarahkan terhadap penduduk lokal. Kasus Herero dan Nama di wilayah German South West Africa, yang kini dikenal sebagai Namibia, merupakan salah satu genosida kolonial awal abad ke-20, dengan korban puluhan ribu hingga lebih dari seratus ribu jiwa. Di Ethiopia, ekspansi kekaisaran di bawah Menelik II menyebabkan pembunuhan massal dan perbudakan terhadap kelompok etnis seperti Dizi dan Kaficho, menimbulkan korban dalam jumlah besar.

Di Amerika, berbagai konflik dan eksploitasi kolonial juga mengakibatkan kematian besar-besaran. Di Peru, pemberontakan Túpac Amaru II pada akhir abad ke-18 menimbulkan pembalasan yang berdarah terhadap penduduk asli dan keturunan Inka. Sementara itu, eksploitasi perusahaan karet di Amazon pada awal abad ke-20 mengakibatkan genosida terhadap suku-suku asli seperti Huitoto, Yagua, dan Ocaina,[2] dengan puluhan ribu korban tewas akibat kerja paksa, kekerasan, dan penyakit.

Di Asia, genosida kolonial dan etnis juga tercatat di beberapa wilayah. VOC Belanda melakukan pembantaian di Kepulauan Banda pada awal abad ke-17, mengurangi populasi asli secara drastis melalui pembunuhan dan perbudakan. Di Kekaisaran Qing, penumpasan suku Dzungar pada pertengahan abad ke-18 menewaskan sebagian besar populasi mereka melalui perang, penyakit, dan eksodus paksa. Di Afghanistan, Abdur Rahman Khan melancarkan kampanye kekerasan terhadap kelompok Hazara pada akhir abad ke-19, mengakibatkan kematian dan perpindahan paksa sebagian besar populasi. Di wilayah Kekaisaran Ottoman, pembantaian terhadap orang Armenia[3] dan Assyria pada akhir abad ke-19, termasuk Hamidian Massacres, menewaskan ratusan ribu warga minoritas Kristen.

Di Eropa, konflik agama dan politik juga memicu pembunuhan massal. Pada tahun 1572, St. Bartholomew’s Day Massacre di Prancis menewaskan ribuan warga Huguenot oleh kaum Katolik. Selama Revolusi Prancis, kampanye pemerintah Republik terhadap pemberontak Katolik di Vendée menimbulkan kontroversi mengenai apakah tindakan ini dapat dikategorikan sebagai genosida.[4]

Secara keseluruhan, periode 1490 hingga 1914 menunjukkan pola berulang kekerasan sistematis terhadap kelompok etnis, agama, atau sosial tertentu, sering dipicu oleh kolonialisme, ekspansi politik, dan konflik identitas. Peristiwa-peristiwa ini menyoroti dampak tragis dari dominasi dan intoleransi, membentuk konteks sejarah yang menjadi perhatian studi genosida modern.

Referensi

  1. ^ "Historical Context: Facts about the Slave Trade and Slavery | Gilder Lehrman Institute of American History". www.gilderlehrman.org. Diakses tanggal 2025-11-13.
  2. ^ "Santiago Yahuarcani: The Beginning of Knowledge | Whitworth Art Gallery". www.whitworth.manchester.ac.uk. Diakses tanggal 2025-11-13.
  3. ^ "The Armenian Genocide (1915-16): Overview". Holocaust Encyclopedia (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-13.
  4. ^ "Massacre of Saint Bartholomew's Day | Definition, Background, & Facts | Britannica". www.britannica.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-13.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement