Gedung Nasional Indonesia

Gedung Nasional Indonesia merupakan salah satu bangunan bersejarah tertua di Surabaya yang memainkan peran signifikan dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia. Bangunan ini terletak di Jalan Bubutan, berjarak sekitar 1,2 kilometer sebelah timur laut Stasiun Pasar Turi.[1] Pendirian gedung ini diinisiasi oleh dr. Soetomo, tokoh pergerakan nasional dan pendiri organisasi Boedi Oetomo, yang pada tahun 1924 membentuk Indonesische Studieclub sebagai wadah pengembangan kesadaran politik di kalangan masyarakat pribumi.[2]

Sejarah Pembangunan

Gedung Nasional Indonesia memulai proses pembangunannya pada tanggal 11 Juli 1930 dan mencapai penyelesaian beberapa tahun kemudian. Arsitek Ir. Anwari dan R. Soendjoto merancang struktur ini dengan menerapkan gaya arsitektur joglo yang telah dimodifikasi untuk menyesuaikan kondisi iklim dan konteks budaya Surabaya. Pembiayaan konstruksi diperoleh melalui sumbangan kolektif dari berbagai tokoh perintis kemerdekaan seperti R. Soendjoto, R.M.H. Soejono, R.P. Soenario Gondokoesoemo, dan Achmad Djais, serta partisipasi masyarakat umum.[1][2][3]

Peran dalam Pergerakan Nasional

Gedung ini berfungsi sebagai pusat pertemuan bagi para aktivis pergerakan nasional untuk merumuskan strategi perjuangan kemerdekaan. Selain itu, bangunan ini juga berperan sebagai ruang pertunjukan kesenian rakyat yang kerap menyampaikan kritik terhadap pemerintahan kolonial Belanda melalui medium ludruk dan ketoprak. Pada periode 1 hingga 3 Januari 1932, gedung ini menjadi tuan rumah penyelenggaraan Kongres Indonesia Raya yang berhasil mempertemukan berbagai elemen pergerakan nasional.[4]

Kontinuitas Fungsi Pasca Kemerdekaan

Selama pendudukan Jepang dan masa awal kemerdekaan, Gedung Nasional Indonesia tetap mempertahankan perannya sebagai pusat aktivitas perjuangan masyarakat Surabaya. Bangunan ini kerap menjadi tempat pertemuan para tokoh nasional dalam merumuskan strategi mempertahankan kedaulatan negara. Dalam periode berikutnya, gedung ini berkembang menjadi pusat kegiatan sosial, budaya, serta forum diskusi dan seminar yang turut memperkuat semangat nasionalisme.[5]

Referensi

  1. ^ a b "Sejarah Gedung Nasional Indonesia, Saksi Perjalanan Bangsa". kumparan. Diakses tanggal 2025-06-19.
  2. ^ a b Cakros. "GEDUNG NASIONAL INDONESIA ~ DISPUSIP Virtual Tour". dispusip.surabaya.go.id. Diakses tanggal 2025-06-19.
  3. ^ "Gedung Nasional Indonesia". ibisnis.com. Diakses tanggal 2025-06-19.
  4. ^ Indrajaya, Dimas Wahyu (13 Juli 2020). "Sejarah Hari Ini (13 Juli 1930) - Gedung Nasional Indonesia, Saksi Perjuangan Politik dan Seni Rakyat Surabaya". GoodNews. Diakses tanggal 19 Juni 2025.
  5. ^ "Gedung Nasional Indonesia (GNI) – Direktori". 2023-06-20. Diakses tanggal 2025-06-19.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement