Garis waktu sejarah Kota Gunungsitoli

Berikut adalah garis waktu sejarah Kota Gunungsitoli, Indonesia.

Sebelum abad ke-19

Tahun Tanggal Peristiwa
1034 Baginda Balugu Tumba'ana'a Zebua berputra 2 orang: Hilindrawa dan Nuzandrawa; Hilindrawa ke daerah Pantai Idanoi, Nuzandrawa ke lokasi Kota Gunungsitoli sekarang[1]
Hilindrawa mendirikan kampung Luaha Laraga dan menjadi Pelabuhan Luaha Idanoi[1]
Pemukiman pertama di Gunungsitoli adalah Banua Hilihati (dipimpin oleh Baginda Lökhözitulö Zebua); Pemukiman lain di muara Sungai Nou kampung Dahanauŵe (dipimpin oleh Bawölaraga Harefa); Kampung Bonio (dipimpin oleh Laso Börömbanua Telaumbanua) yang menggunakan Luaha Nou untuk keperluan nelayan dan berhubungan dengan Luahalaraga Luaha idanoi[1]
Etnis Dawa khususnya orang Aceh mulai datang dan memasuki dengan bebas. Pemukiman Hilihati menjadi kampung palabuhan Luaha Nou[1]
1601 Balugu Hilindrawa digantikan Balugu Sobawilo digantikan Balugu Taru'afónu digantikan Balugu Tuha'ana'a digantikan Balugu Somónó Tuhabadanó Zebua[1]
1629 7 April 1629 Fondrakó Bonio Niówuluwulu; lahirnya Kota Gunungsitoli (Luaha Nou)[1]
Didirikan Ose Wangeni Saota (gardu penjagaan pelabuhan) oleh Sitólu Tua disusul Ose Wamawa (pondok penjualan) oleh masyarakat[1]
1639 Lebai Pulit alias Tengku Polem tiba di Luahalaraga (terdampar) bredomisili di onozitoli kemudian ke Mudik[1]
Tengku Polem menikah dengan Kabowo (anak Harimao Harefa) diberikan tempat pemukiman di Siwulu (desa Mudik)[1]
1665 Davidson (kepala cabang VOC Barus) melakukan perjalanan di Nias, didupa istilah Gunungsitoli mucul ditahun ini[1]
1669 Davidson berlabuh dengan kapal patroli Lantsmeer pertama kali di pelabuhan Laraga Luaha idanoi[1]
Perahu layar dari Minangkabau terdampar di Teluk Tólubalugu (teluk belukar) dipimpin Datuk Ahmad Caniago; kemudian berlayar ke Luahanou[1]
2 Juni 1669 Balugu Samónó Tuhabadano Zebua menandatangani Surat Kontrak Dagang dengan VOC; hak kuasa atas Pelabuhan Luaha Idanoi[1]
Datuk Ahmad menikah dengan Siti Zohora (Anak Tengku Polem) dineri nama baru Raja Ahmad; Raja Ahmad Caniago menetap di Lasara. Kemudia Baginda Kó'ówa Kahemanu Harefa memberi lokasi sebelah Siwulu (Mudik)[1]
1691 Raja Ahmad membangun rumahnya, pemukimannya dinamakan Kampung Dalam; kemudian anaknya mengembangkan kampung itu diberi nama Ilir kemudian berkembang menjadi Kampung Baru[1]
Akhir pemerintahan Balugu Somónó Tuhabadanó Zebua Luaha Idanoi pelan-pelan mundur dan lenyap akibat timbulnya pelabuhan di Luahanou[1]
1681 Belanda dari Somabawa berjalan ke Gusit[2]
1693 23 Maret 1693 Dokumen resmi pertama yang muncul istilah Gunungsitoli, tanggal 23 Maret 1693 - Kontrak dagang VOC (muncul kata Gunung Setouly)[1]
1755 26 Mei 1755 Kampung Hilihati dihibahkan ke VOC sehingga VOC beralih dari Luaha Idanoi ke Luahanou
VOC mendirikan Factorij/pabrik (200 m dari pelabuhan Luahanou sebelah utara) - saat ini diduga pelabuhan lama; sejak beridirnya Factorij kapal VOC berlabuh disini dan Luahanou hanya untuk perahu
1756 Orang Inggris memasang bendera di 4 tempat; Oarng inggris merebut Nias bagian utara termasuk Gunungsitoli; Tiang bendera (mandrera) dipancang di pinggir sungai Nou sebelah utara (sebentang Desa Dahana)[2]
1757 Kompeni Belanda mendirikan pos di Gusit untuk antisipasi Inggris[2]
1758 Belanda meninggalkan pos[2]
1775 Mado Zebua menghibahkan kepada VOC Belanda tanah kompleks bangunan Factorij
1785 Dibangunnya benteng di Kota dalam[1] oleh Datuk Mahareja Lelo[3]
1799 31 Desember VOC dibubarkan[1]
1800 1 januari Pemerintah Belanda berkuasa menjadi Penjajah atas Indonesia[1]

Abad ke-19

Tahun Tanggal Peristiwa
1821 Perang Inggris dan Belanda; Belanda menyerahkan Indonesia ke tangan Inggris kecuali daerah Sumatera termasuk Nias[1]
1824 Traktat London 1824; Inggris kembali menyerahkan Indonesia ke Belanda[1]
1825 Setelah ekuasan Inggris berakhir atas Indonesia, Belanda menempatkan Posthouder (perwakilan pemerintah Belanda) di Gunungsitoli dan Hinako[1]
Finansial pemerintah Belanda jatuh dan mereka ditarik kembali[1]
1832 Pastor Berard dan Vallon tiba di Gunungsitoli[4]
1834 Kapal Prancis Berlabuh di Gunungsitoli memuat 400 budak, dibeli dari bangsawan Iraonogeba, dibawa ke pulau-pulau burbon (mauritus, P. Reunion) Timur Afrika[2]
1839 Datuk Raja Ibrahim menulis surat meminta pertolongan pada Gouverneur Michails di Padang atas kesepakatan Raja-raja Nias di bagian darat serta Raja dan Datuk di daerah pesisir[3]
1840 Satu Kompi Militer Gubenermen Belanda dari Padang datang berjumlah 50 orang dipimpin Luitenant Badak dengan jabatan Gezagheber) didirikanlah Tangsi Militer di Hilihati - inilah awal Pemerintahan Kolonialisme Belanda di daeha Nias[1]
Pemerintah Belanda membuka satu pos di Gunungsitoli; sampai 1846[2]
Pemerintah Kolonial Belanda menguasai Gunungsitoli[1]
Kota Gunungsitoli menjadi Ibu Kota dengan nama-nama Kampung Pasar, Óri Gunungsitoli, Onderdistrict Gunungsitoli, District Noord Nias, Onderafdeeling Noord Nias dan Afdeeling Nias. [1]
1843 5 dan 6 Januari Terjadi gempa dan tsunami di Gunungsitoli; Gempa selama 9 menit[2]
1850 Orang Cina mulai berdomisili di kota Gunungsitoli; terdiri dari 4 orang yaitu Kehai Adulo, Kehai Bule, Kehai Saitó Bewe dan Kehai Timba; mengambil lokasi pemukiman di pinggir sungai Nou sebelah utara dekat Pelabuhan Luahanou[1]
Karena pertambahan penduduk Pemerintah Belanda memperluas wilayah kota, muncullah Kampung Cina mulai dari pinggir sungai Nou ke arah utara.
1865 Denninger tiba di Nias[2]
1866 1866 Hindia Belanda (KPM) memulai perjalanan ke Nias; tahun berikutnya ditempatkan pertama kalinya Controleur di Gunungsitoli; sampai 1900 terdapat 13 Controleur yang ditempatkan di Nias[2]
1868 Dermaga Besi Cerocok Pelabuhan Gunungsitoli disinggahi kapal KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij)[1]
1871 Pemerintah Belanda mengusahakan perluasan kota[1]
Dimulai pembangunan Jalan Raya Gunungsitoli (Jalan Sirao, Jalan Gomo, Jalan Hatta, Jalan Sukarno, Jalan Fondrakó, Jalan Kartini, Jalan Gereja, dsb)[1]
1883 08 Maret 1883 Misionaris Lagemann dan Thomas berlayar ke Teluk dalam dari Gunungsitoli menggunakan Kapal Denninger[2]
1886 Misionaris Lagemann dan Thomas kembali mengungsi ke Gunungsitoli karena perang Hiligeho dan Bawólowalani[2]

Abad ke-20

Tahun Tanggal Peristiwa
1901 Pemerinta Belanda menguasai Nias secara intensif[1]
1905 Pembangunan Jemabta Besi Sungai Nou dan Sungai Bogalitó[1]
1907 Masjid Pasar Kota Gunungsitoli dibangun[1]
1908 Misionaris membangun Toko Hennema[1]
Nias dijadikan Afdeeling (Afdeeling van Nias) masuk Keresidenan Tapanuli dikepalai Assistent Resident pertama Van Vuuren (1908-1913)[1]
1913 Misionaris membangun Pabrik Kopra[1]
1916 Status daerah Nias diturunkan menjadi Onderafdeeling[1]
1919 Nias dan pulau sekitarnya kecuali Pulau-pulau Batu kembali menjadi Afdeeling van Nias (Assistent Resident baru P. Karthaus)[1]
1934 Rumah Sakit penolong dan Rumah Sakit besar di Gunungsitoli dibangun oleh misionaris[1]
1936 8-10 November Sinode I misionaris Jerma membentuk Badan Gereja Protestan diberi nama BNKP[1]
1938 18 Maret BNKP disahkan oleh Pemerintah Hindia Belanda di Batavia, dengan Besluit Guverneur General[1]
1939 Pastor Belanda Burchardus Van Der Weidjen dan Van Straallen tiba di Gunungsitoli[4]
1940 10 Mei 1940 Sinode II BNKP berlangsung, semua Pendeta Misionaris Jerman di Nias ditangkap lalu dibawa Pemerintah Belanda (akibat Perang dunia II) dikirim entah kemana[1]
1942 Maret Tentara dan pemerintah (Dai Nippon) Jepang tiba di Gunungsitoli[1]
Untuk ketahanan perang dibuat sistem "menggali parit" tempat persembunyian disaat gawat darurat dalam kota dan di Hilihati dibangun gubuk pertahanan militer.[1]
1945 25 Agustus Gungseibu Zuzuki mengumumkan bahwa sebentar lagi Jepang akan meninggalkan Nias[3]
30 Agustus Jepang meninggalkan daerah Nias[3][1]
Saat Pemerintahan RI, pelabuhan berpindah ke Labua Angi Turembaá (2 km dari pelabuhan sebelumnya, dahulu dijadikan sebagai pelabuhan pelindung saat musim badai; diatasnya terdapat bukit Turembaá tempat Vuurtoren (mercusuar)
1947 Agresi Belanda I - Kapal Perang J.T. I dan J.T. II, NICA memuntahkan meriamnya dari pelabuhan Gunungsitoli ke arah kota hingga pepohonan kelapa di Hilihati beruhtuhan
  1. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z aa ab ac ad ae af ag ah ai aj ak al am an ao ap aq ar as at Zebua, Faondragö (1996). Kota Gunungsitoli Sejarah Lahirnya dan Perkembangannya. Gunungsitoli. Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. ^ a b c d e f g h i j k Hammerle PJM. 2013. Pasukan Belanda di Kampung Para Penjagal. Duha N, editor. Gunungsitoli: Yayasan Pusaka Nias
  3. ^ a b c d Husin S. 2005. Profil Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Nias Pesisir. Medan: Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan
  4. ^ a b Zebua FM. 2015. Nidunó-dunó Somasido Urongo. Duha N, editor. Gunungsitoli : Yayasan Pusaka Nias

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement