G.T. Soerbakti

G. T. Soerbakti
Lahir20 September 1939 (umur 86)
Kabanjahe, Sumatera Utara, Hindia Belanda
Pekerjaan
Tahun aktif1970–sekarang
Dikenal atasPendiri Lorena Holding Group
Anak3
Karier militer
Dinas/cabangTNI Angkatan Darat
Lama dinas1962–1979
PangkatKolonel
KesatuanZeni
Situs weblorena-transport.com

Kolonel (Purn.) Gusti Terkelin Soerbakti (lahir 20 September 1939)[1][2] adalah seorang purnawirawan TNI Angkatan Darat dan sekaligus merupakan pengusaha Indonesia. Ia merupakan pendiri perusahaan konglomerat Lorena Holding Group (Lorena-Karina) yang menaungi beberapa perusahaan yang bergerak di bidang jasa transportasi dan kargo, energi, perkebunan, dan lahan yasan. Selain dikenal sebagai pengusaha di bidang transportasi, pria berdarah Karo ini juga dikenal sebagai tokoh penting pada Organisasi Angkutan Darat (Organda).[3][4]

Kehidupan awal dan karier militer

Berdasarkan keterangan dalam tabloid Kristen Reformata, Gusti Terkelin Soerbakti lahir pada 20 September 1939 di Kabanjahe, Karo, Sumatera Utara.[2] Pria berdarah Suku Karo ini menjalani pendidikan militer di Akademi Militer Nasional (Akmil) tahun 1962. Setelah lulus dari Akmil, ia meniti karier militernya sejak 1963 hingga 1979 di TNI Angkatan Darat sebagai seorang perwira Zeni Angkatan Darat.[5] Selama masa dinas, ia dikenal sebagai sosok yang disiplin, tegas, dan memiliki kepekaan terhadap persoalan logistik serta pelayanan publik.[6]

Karier bisnis

PO Lorena & Karina

Gagasan mendirikan perusahaan bus lahir dari pengalaman pribadi Gusti Terkelin saat bertugas bolak-balik BogorJakarta pada awal 1970-an. Ia sering merasa tidak nyaman dengan kondisi bus yang panas, berdebu, dan kurang ramah terhadap penumpang. Ketidakpuasan inilah yang justru membuatnya tergerak untuk mendirikan sebuah usaha transportasi darat yang memberikan kenyamanan, keamanan, dan ketepatan waktu bagi masyarakat luas.[5]

Antara tahun 1970–1973, Gusti Terkelin memutuskan untuk mundur perlahan-lahan dari tugasnya sebagai prajurit dan menjual rumahnya demi mendapatkan modal awal.[5] Dengan keberanian besar, ia mengontrak sebuah rumah di Jalan Otto Iskandardinata III, Jakarta dan sebuah rumah di Ciawi, Bogor sebagai lokasi garasi, serta membeli dua unit bus kapasitas 40 kursi tanpa AC senilai Rp12,5 juta. Bus tersebut diberi nama “Lorena”, yang diambil dari nama anak pertamanya. Trayek pertama yang dijalankan adalah BogorJakarta pergi-pulang. Dari sinilah perjalanan panjang Lorena dimulai.[6]

Walaupun memulai usahanya dengan bus kecil, Lorena berkembang pesat berkat prinsip pelayanan prima dan pengelolaan yang disiplin. Tahun 1975, Gusti Terkelin memperluas trayeknya menjadi Jakarta–Bogor–Bandung, dan untuk mendukung ekspansi tersebut, ia meminjam uang dari Bank Bumi Daya untuk menambah lima unit bus baru. Hasilnya sangat menggembirakan—perusahaan mulai memperoleh keuntungan yang stabil dan pelanggan yang loyal.[7]

Pada awal 1980-an, Gusti Terkelin semakin berani melakukan ekspansi. Tahun 1982 ia membuka trayek Bogor–Jakarta–Surabaya dengan lima unit bus ber-AC 28 tempat duduk. Langkah ini menjadi tonggak penting karena memperkenalkan layanan bus jarak jauh berfasilitas lengkap kelas non-ekonomi di Indonesia. Lorena terus berinovasi dengan menambah fasilitas seperti toilet, kursi yang lebih lebar, pendingin udara, dan sistem tempat duduk bernomor—suatu hal yang belum umum di masa itu.[7][2]

Pada tahun 1985, Lorena terjun ke bisnis bus pariwisata dengan membentuk CV Sari Lorena. Dengan menggunakan pinjaman dari bank BUMN, perusahaan ini mulanya beroperasi dengan 8 unit bus. Namun per 1994, Sari Lorena sudah mengoperasikan 20 unit bus.[8] Memasuki tahun 1986, Lorena memperluas jaringannya ke berbagai kota besar di Jawa dan Sumatra, antara lain Solo, Madiun, Kediri, Probolinggo, Denpasar, Palembang, Jember, Banyuwangi, dan Jambi. Untuk trayek jarak jauh, Gusti Terkelin memperkenalkan bus kelas Super Eksekutif yang dilengkapi dengan AC, video, toilet, kursi ergonomis, serta makanan ringan. Lorena memperkenalkan bus dengan kursi terbatas 21 tempat duduk, sehingga memberikan kenyamanan layaknya kelas bisnis di pesawat.[9]

Prestasi Gusti Terkelin dalam membangun Lorena tidak hanya diakui konsumen, tetapi juga oleh dunia bisnis nasional. Ia menerima penghargaan Adi Cipta Nugraha (1992)[10] dan Cipta Phala Adidaya (1990)[9] sebagai wujud penghargaan atas inovasi dan mutu layanan. Hingga awal 1990-an, Lorena telah mengoperasikan lebih dari 100 unit bus yang melayani berbagai kelas—dari ekonomi hingga Super Eksekutif[9]—dengan tingkat okupansi mencapai 80% setiap keberangkatan.[6][2]

Kiprah Gusti Terkelin tidak berhenti di situ. Pada tahun 1989 ia membeli perusahaan transportasi Raseko yang berbasis di Surabaya dan mengubah namanya menjadi Karina, sesuai dengan nama anak ketiganya. Karina kemudian melayani trayek Surabaya–Jakarta dan Surabaya–Malang. Penggabungan dua perusahaan ini melahirkan sinergi yang memperkuat jaringan transportasi Lorena Holding Group di seluruh Pulau Jawa.[11]

Diversifikasi bisnis, menjadi perusahaan publik

Di bawah kepemimpinannya, Lorena berkembang menjadi PT Eka Sari Lorena Transport yang kemudian melantai di Bursa Efek Indonesia. Hingga tahun 2024, Gusti Terkelin masih menjabat sebagai Presiden Direktur PT Eka Sari Lorena Transport Tbk, sekaligus memimpin berbagai lengan bisnis Lorena Holding Group seperti PT Lorena-Karina, PT Lorena Energi, PT Lorena Properti, dan PT Eka Sari Lorena Logistik (ESL Logistics dan ESL Express).[12] Meski usianya telah senja, ia tetap aktif memantau operasional dan menjaga nilai-nilai integritas, pelayanan, serta profesionalisme yang ia tanamkan sejak awal.[2]

Dalam bisnis lahan yasan, perusahaan-perusahaannya seperti PT Lorena Properti dan PT Lorena Latersia Properti banyak memainkan peran penting dalam sejumlah konstruksi bangunan-bangunan di Bogor, seperti Swiss-Belhotel Bogor pada 2019. Pada 29 November 2024, Lorena meluncurkan sasana keolahragaan Lorena Sports Hub di Bogor sebagai bagian dari diversifikasi usahanya, menghadirkan konsep sportstainment yang memadukan fasilitas olahraga seperti driving range golf, lapangan mini-soccer, dan lapangan padel serta area hiburan dan rekreasi untuk berbagai kalangan.[13]

Karier organisasi

Gusti Terkelin tidak hanya sebagai pendiri Lorena Holding Group, tetapi juga sebagai salah satu tokoh penting dalam dunia transportasi nasional. Sejak Lorena berdiri, ia aktif berperan dalam berbagai organisasi profesi, terutama Organisasi Angkutan Darat (Organda). Melalui wadah tersebut, Gusti Terkelin banyak terlibat dalam pembinaan perusahaan angkutan darat serta mendorong profesionalisme dan keselamatan sebagai standar utama pelayanan transportasi.[12]

Selain berkiprah langsung, pengaruh Gusti Terkelin terhadap organisasi profesi juga diteruskan oleh keluarganya. Putrinya, Eka Sari Lorena, menjabat sebagai Ketua Umum Organda periode 2010–2015, serta aktif di Kadin Indonesia dan Aspindo sebagai Ketua Departemen Transportasi Darat dan ASDP. Hal ini menunjukkan adanya kesinambungan nilai dan semangat yang diwariskan oleh Gusti Terkelin dalam membangun transportasi nasional yang aman, nyaman, dan berdaya saing. Di samping itu, Gusti Terkelin dan keluarganya juga dilibatkan dalam berbagai lembaga riset seperti Pusat Studi Transportasi dan Logistik Universitas Gadjah Mada (UGM).[12]

Kiprahnya menunjukkan bahwa keberhasilan Lorena bukan sekadar keberhasilan bisnis, tetapi juga bagian dari dedikasinya untuk membangun sistem transportasi nasional yang modern, berintegritas, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat luas.[2]

Warisan

Gusti Terkelin dikenal sebagai figur visioner yang memadukan kedisiplinan militer dengan semangat kewirausahaan. Ia membangun Lorena bukan semata cari keuntungan, melainkan sebagai jawaban atas ketidakpuasan terhadap layanan publik yang buruk. Dari dua bus sederhana, kini Lorena tumbuh menjadi kelompok usaha konglomerasi nasional dengan layanan bus antarkota, logistik, properti, dan energi. Semangatnya tecermin dalam ucapannya: "Selagi saya mampu, saya masih ingin terus mengembangkan trayek sampai ke seluruh kota di Sumatra!"[2][10]

Kehidupan pribadi

Gusti Terkelin menikah dengan Kumpul Kariany Sembiring, dan dari pernikahan tersebut dikaruniai tiga anak, di antaranya Eka Sari Lorena, Dwi Ryanta, dan Trihayu Mitra Karina. Nama “Lorena” yang kemudian menjadi identitas perusahaan bus yang ia dirikan diambil dari nama putri sulungnya, sebagai simbol kasih sayang dan harapan agar usaha yang ia bangun menjadi warisan keluarga yang bernilai. Kini, kedua anaknya turut melanjutkan kepemimpinan di Lorena Holding Group — Eka Sari Lorena menjabat sebagai Direktur Pengembangan Bisnis sekaligus tokoh penting di Organda, sementara Dwi Ryanta berperan sebagai Managing Director.[12][2]

Artikel Reformata menjelaskan bahwa keluarga Gusti Terkelin merupakan keluarga yang menempatkan iman Kristen sebagai fondasi moral dan spiritual dalam bekerja maupun memimpin. Ia memandang kesuksesan bisnis tidak hanya hasil kerja keras, tetapi juga bentuk anugerah dan tanggung jawab dari Tuhan. Prinsip ini tercermin dalam gaya kepemimpinannya yang humanis dan penuh empati, serta dalam pandangannya bahwa setiap keberhasilan harus disertai rasa syukur dan pengabdian kepada masyarakat. Dengan keteladanan hidup yang konsisten antara iman dan karya, Gusti Terkelin menjadi panutan tidak hanya bagi keluarganya, tetapi juga bagi ribuan karyawan Lorena Holding Group yang memandangnya sebagai figur ayah dan pemimpin spiritual.[2]

Pada 24 Maret 2024, Kumpul Kariany akhirnya meninggal dunia, di usianya yang ke-78 tahun.[14]

Referensi

  1. ^ Yudana 2008, hlm. 163.
  2. ^ a b c d e f g h i Makoguru & Reda 2003, hlm. 12.
  3. ^ Gusti Terkelin Soerbakti, Preskom PT Lorena Group. Diarsipkan 2014-12-16 di Wayback Machine. Diakses dari situs berita Rakyat MErdeka.com pada 17 Desember 2014
  4. ^ Usia Matang, Lorena Semakin Gemilang. Diarsipkan 2014-12-16 di Wayback Machine. Diakses dari situs berita sinarharapan pada 17 Desember 2014
  5. ^ a b c Husada 1996, hlm. 129.
  6. ^ a b c Husada 1996, hlm. 130.
  7. ^ a b Husada 1996, hlm. 131.
  8. ^ Husada 1996, hlm. 133.
  9. ^ a b c Husada 1996, hlm. 132.
  10. ^ a b Husada 1996, hlm. 134.
  11. ^ Husada 1996, hlm. 133-134.
  12. ^ a b c d "Profil Dewan Direksi PT Eka Sari Lorena Transport Tbk" (PDF). Lorena Transport. 2024-06-21. Diakses tanggal 2025-10-27.
  13. ^ "SWA.co.id - Lorena Group Gulirkan Diversifikasi Bisnis, Membuka Lorena Sports Hub di Bogor". swa.co.id. Diakses tanggal 2025-10-27.
  14. ^ Puspadini, Mentari. "Istri Pendiri Lorena (LRNA) Kumpul Sembiring Meninggal Dunia". CNBC Indonesia. Diakses tanggal 2025-10-27.

Daftar pustaka

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement