Filsafat kebahagiaan

Filsafat kebahagiaan adalah bidang filsafat tentang eksistensi, sifat, dan cara pencapaian menuju kebahagiaan. Sejumlah filsuf di Eropa percaya bahwa kebahagiaan merupakan tujuan moral dan pedoman hidup. Pandangan ini banyak dikenal pada sebagian besar bahasa dan kebudayaan di Eropa, di mana kebahagiaan kerap disamakan dengan keberuntungan. Oleh karena itu, kebanyakan para filsuf ini sering menjelaskan kebahagiaan sebagai suatu keadaan batin/pikiran, atau bahagia sebagai cara kehidupan yang baik bagi orang yang menjalaninya.[1][2]
Sejalan dengan itu, berbagai penelitian praktis dan pragmatis dalam bidang psikologi berupaya untuk menelusuri dan mencari tentang nilai-nilai kebahagiaan agar dapat dijadikan sebagai dasar dalam pengembangan teori-teori tentang kebahagiaan.[3] Menurut Demokritos yang hidup di sekitar tahun 460 – 370 SM dan dikenal sebagai 'filsuf yang tertawa', kebahagiaan dianggap sebagai aspek yang lebih menekankan pada faktor 'keceriaan' dalam hidup manusia.[4]
Filsuf Yunani kuno
Selain Demokritos, filsuf Yunani kuno yang lain adalah Plato (hidup sekitar 428 – sekitar 347 SM) yang mengajarkan bahwa kehidupan yang berkomitmen kepada ilmu pengetahuan dan kebajikan akan menghasilkan kebahagiaan. Untuk mencapai kebahagiaan, seseorang hendaknya mengurangi keterikatan pada hal-hal yang bersifat materi duniawi dan lebih berupaya memperoleh pengetahuan tentang bentuk-bentuk abadi dan tak berubah yang berada di alam batin dan pikiran. Plato melihat kebahagiaan dalam kehidupan bermasyarakat akan terjadi jika setiap warga negara saling memperlakukan satu sama lain secara adil, saling menjalani kehidupan yang berbudi luhur, dan masing-masing individu melaksanakan dan memenuhi fungsi sosialnya dengan baik.[5][6]
Aristoteles (384 – 322 SM) yang dianggap sebagai seorang filsuf Yunani kuno dalam bidang disiplin ilmu etika, metafisika, biologi dan botani menggambarkan eudaimonia (Yunani: εὐδαιμονία) sebagai tujuan pemikiran dan tindakan manusia, secara umum. Eudaimonia ini sering diterjemahkan sebagai kebahagiaan, atau "kemakmuran hidup manusia" menurut pendapat beberapa ahli filsafat yang lain.[7] Secara lebih spesifik, eudaimonia (arete, Yunani : ἀρετή) juga berarti keadaan atau munculnya suasana hati atau batin yang paling positif bagi manusia yang dapat diterjemahkan sebagai rasa bahagia. Namun, pengertian umum dari istilah ini dalam bidang etika lebih dari kebahagiaan.[8]
Referensi
- ^ Cassin et al. Dictionary of Untranslatables. Princeton University Press, 2014. Print.
- ^ Happiness. Metaphysics Research Lab, Stanford University. 2011.
- ^ Sturt, Henry (1903). "Happiness". International Journal of Ethics. 13 (2): 207–221. doi:10.1086/intejethi.13.2.2376452. JSTOR 2376452. S2CID 222446622.
- ^ Democritus. Metaphysics Research Lab, Stanford University. 2016.
- ^ Johnson, Claire (28 July 2022). "How to Be Happy According to Plato". TheCollector.
- ^ Mohr, Richard D. (1987). "A Platonic Happiness". History of Philosophy Quarterly. 4 (2): 131–145. JSTOR 27743804.
- ^ Daniel N. Robinson. (1999). Aristotle's Psychology. Published by Daniel N. Robinson. ISBN 0-9672066-0-X ISBN 978-0967206608
- ^ Aristotle., Bartlett, R. C., & Collins, S. D. (2011). Aristotle's Nicomachean ethics. Chicao: University of Chicago Press.
Lihat juga
- Filsafat kecerdasan buatan
- Filsafat ilmu
- Filsafat kimia
- Filsafat fisika
- Filsafat geografi
- Filsafat ilmu komputer
- Filsafat informasi
- Filsafat statistika
- Filsafat teknologi
- Filsafat matematika
Pranala luar
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


