Etnomedisin

Etnomedisin adalah kajian interdisipliner yang meneliti pengetahuan, praktik, dan kepercayaan lokal mengenai kesehatan, penyakit, dan penyembuhan dalam suatu komunitas budaya. Keunikan etnomedisin terletak pada bagaimana masyarakat menggunakan kekayaan alam (tumbuhan, kadang hewan), ritual, dan warisan budaya dalam sistem pengobatan tradisional.[1][2]

Sistem kepercayaan dan pengobatan tradisional

Dalam etnomedisin, persepsi tentang penyakit sangat dipengaruhi oleh kepercayaan lokal. Masyarakat dapat memahami penyakit sebagai akibat ketidakseimbangan elemen biologis dan lingkungan, tetapi juga sebagai manifestasi gangguan spiritual atau sosial. Model penyakit semacam ini mendorong pendekatan pengobatan yang tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga ritualistik.[2]

Praktik etnomedisin merupakan pengobatan tradisional menggunakan ramuan tanaman obat, teknik kompres, balur, serta pendekatan ritual dan lisan yang disampaikan dari generasi ke generasi. Sebagian besar, praktik ini berkembang sebagai bentuk layanan kesehatan tradisional empiris, yaitu pengetahuan penyembuhan yang diperoleh dari pengalaman langsung dan pembuktian melalui praktik berulang dalam komunitas, meskipun belum seluruhnya terverifikasi oleh metode biomedis.” Misalnya, di masyarakat Ngadha (NTT), patah tulang dirawat dengan ramuan tumbuhan dan kompres selama 1–2 bulan melalui dukun tradisional.[3]

Pengetahuan tentang tanaman obat juga sangat kaya di beberapa daerah: di lereng Gunung Slamet (Jawa Tengah), banyak tumbuhan digunakan berdasarkan etnofarmakognosi lokal, dengan sebagian besar bagian daun yang direbus untuk diminum.[4]

Peran Etnomedisin

Etnomedisin tetap relevan dalam kesehatan masyarakat modern karena:

  • Menjadi alternatif atau komplementer bagi layanan biomedis, terutama di daerah terpencil. Misalnya, bapidara – kombinasi pengobatan tradisional Dayak Meratus dengan bacaan ayat Al-Qur’an digunakan sebagai terapi komplementer selama pandemi.[5]
  • Menjaga dan mendokumentasikan pengetahuan lokal. Penelitian dokumentasi etnomedisin dalam komunitas masyarakat telah mengungkap leksikon lokal terkait pengobatan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun.[6]
  • Teknologi modern mendukung pelestarian dan penyebaran pengetahuan ini, seperti melalui aplikasi Android yang dirancang untuk memberikan informasi ramuan etnomedisin secara digital.[7]

Referensi

  1. ^ FADHILAH, RIRIN NUR; KOESDARYANTO, NILAM SARIRAMADHANI; PRIBADY, THAARIQ RIAN; RESTANTA, REISHA AZZAHRA PUTRI; NUGROHO, GILANG DWI; YASA, AHMAD; SUJARTA, PUGUH; SETYAWAN, AHMAD DWI (2023-08-25). "Ethnomedicinal knowledge of traditional healers on medicinal plants in Sukoharjo District, Central Java, Indonesia". Biodiversitas Journal of Biological Diversity. 24 (8). doi:10.13057/biodiv/d240803. ISSN 2085-4722.
  2. ^ a b Meizora, Caterine; Mukhlishah, Neneng Rachmalia Izzatul (2024-12-28). "KAJIAN LITERATUR : PERAN ETNOMEDISIN DALAM TERAPI HIPERTENSI DI INDONESIA". Jurnal Kesehatan Tambusai. 5 (4): 13290–13297. doi:10.31004/jkt.v5i4.37593. ISSN 2774-5848.
  3. ^ Bupu, Hilaria; Longa, Maria Katharina (2023-05-25). "Studi Etnomedisin dalam Pengobatan Tradisional Patah Tulang bagi Masyarakat Etnis Ngadha, Kabupaten Ngada-Nusa Tenggara Timur". Jurnal Beta Kimia. 3 (1): 1–16. doi:10.35508/jbk.v3i1.9637. ISSN 2807-7938.
  4. ^ Rachmani, Eka Prasasti Nur; Suhesti, Tuti Sri (2024-12-31). "Studi Etnofarmakognosi Dan Etnomedisin Masyarakat Lereng Selatan Gunung Slamet Kabupaten Banyumas Jawa Tengah". Jurnal Tumbuhan Obat Indonesia. 17 (2): 143–156. doi:10.31002/jtoi.v17i2.1681. ISSN 2354-8797.
  5. ^ Megawati, Megawati; Rohayati, Nadya; Sa'adah, Nur Sabila (2022-12-31). "KAJIAN ETNOMEDISIN (BAPIDARA) SEBAGAI TERAPI KOMPELEMENTER DI MASA PANDEMI". Muẚṣarah: Jurnal Kajian Islam Kontemporer. 4 (2): 109. doi:10.18592/msr.v4i2.7665. ISSN 2828-7746.
  6. ^ Gry (2025-07-16). "Keajaiban Ramuan Herbal Kalimantan". Dinkes Kalteng. Diakses tanggal 2025-11-24.
  7. ^ Rahman, Asep; Kalua, Aditya Lapu; Rompis, Lianly (2024-08-30). "Digitalization and Designing a Medicinal Plants Web-based Information System for Supporting Herbal Tourism in Kima Bajo Village North Minahasa Regency". Journal of Social Sciences and Technology for Community Service (JSSTCS). 5 (2): 147. doi:10.33365/jsstcs.v5i2.4290. ISSN 2723-2026.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement