Energi terbarukan di Australia

Sumber energi terbarukan di Australia terutama berasal dari biomassa, tenaga surya, angin, dan tenaga air. Saat ini, lebih dari sepertiga listrik yang dihasilkan di Australia berasal dari energi terbarukan,[1] dan angkanya terus meningkat sejalan dengan tren global.
Menurut laporan AEMO (Australian Energy Market Operator), Australia bahkan bisa menghentikan penggunaan listrik berbasis batu bara sebelum tahun 2040.[2]
Sejarah
Australia memiliki cadangan bahan bakar fosil yang sangat besar,[3] sehingga sebagian besar wilayahnya dulu membangun jaringan listrik yang sangat bergantung pada batu bara. Namun, di Tasmania, pembangkit listrik tenaga air pertama sudah beroperasi sejak tahun 1916.[4] Saat ini, Hydro Tasmania menjadi penyedia energi utama di negara bagian tersebut.
Di daratan utama Australia, proyek besar seperti Snowy Mountains Hydro Scheme sudah menghasilkan listrik dari tenaga air sejak tahun 1950-an. Penelitian tentang energi surya juga berkembang pesat. Pada tahun 1974, para peneliti di Universitas New South Wales (UNSW) mendirikan laboratorium riset surya pertama, dan pada 1981 meraka berhasil mengembangkan sel surya pertama di dunia.[5] Salah satu alumninya, Dr. Zhengrong Shi, kemudian mendirikan perusahaan manufaktur panel surya pertama di Tiongkok pada tahun 2001.
Pada 1980-an, proyek kecil seperti Rainbow Power Company mulai memproduksi listrik tenaga surya untuk konsumen lokal di Australia.
Perkembangan terkini
Hingga tahun 2024, energi terbarukan sudah menyumbang hampir 40% pasokan listrik nasional.[6] Energi angin dan panel surya atap berkembang sangat pesat sejak 2010. Bahkan, Australia kini memiliki tingkat penggunaan panel surya atap tertinggi di dunia.[7][8] Pertumbuhan energi terbarukan skala besar banyak dipicu oleh kebijakan pemerintah yang bertujuan menekan emisi gas rumah kaca sekaligus meningkatkan keamanan energi. Untuk mendukung hal ini, pemerintah mendirikan ARENA (Australian Renewable Energy Agency) pada tahun 2012 sebagai lembaga independen yang bertugas meningkatkan daya saing teknologi energi terbarukan dan mendorong inovasi di industri tersebut.
Selain itu, Australia juga sedang menguji berbagai sumber energi baru seperti hidrogen hijau dan tenaga gelombang laut. Australia menandatangani Protokol Kyoto pada 2007, dan pada 2016 ikut menjadi pihak dalam Perjanjian Paris, yaitu kesepakatan internasional yang mewajibkan negara anggota mengurangi emisi gas rumah kaca penyebab perubahan iklim. Laporan IPCC bahkan menegaskan bahwa beberapa wilayah di Australia menghadapi risiko nyata akibat perubahan iklim.[9]
Pada tahun 2024, energi terbarukan dianggap sebagai investasi yang menjanjikan.[10] Banyak perusahaan energi terbarukan beroperasi di Australia, diantaranya BP Solar, Eurosolar, Hydro Tasmania, Origin Energy, dan Pacific Blue.
Referensi
- ^ "Clean Energy Report | Clean Energy Council". cleanenergycouncil.org.au. Diakses kembali 30 Maret 2025.
- ^ "Coal will be all but gone by 2034 under Australia's latest energy roadmap". UNSW Sites. Diakses kembali pada 25 Maret 2024.
- ^ Australia, Geoscience (15 July 2024). "Overview". Geoscience Australia. Diakses kembali pada 30 Maret 2025.
- ^ "Our story". www.hydro.com.au. Diakses kembali 30 Maret 2025.
- ^ "UNSW Sydney solar pioneers celebrate 50 years of world-leading research and innovation". UNSW Sites. Diakses kembali pada 30 Maret 2025.
- ^ "Renewable energy". Department of Climate Change, Energy and Water. Diakses kembali pada 31 Maret 2025.
- ^ CSIRO. "Australia installs record-breaking number of rooftop solar panels". www.csiro.au. Diakses kembali pada 30 Maret 2025.
- ^ "Rooftop solar shines bright as Australia surpasses four million installations | Clean Energy Council". cleanenergycouncil.org.au. Diakses kembali pada 30 Maret 2025.
- ^ CSIRO. "New IPCC report shows Australia is at real risk from climate change, with impacts worsening, future risks high, and wide-ranging adaptation needed". www.csiro.au. Diakses kembali pada 30 Maret 2025.
- ^ "Major Investors More Confident in Australia's Climate Policy". Bloomberg. 25 March 2024. Diakses kembali pada 25 Maret 2024.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


