Doti
Doti adalah istilah yang digunakan dalam beberapa kebudayaan di Indonesia untuk merujuk pada praktik mistik atau ilmu gaib yang dipercaya dapat menyebabkan penyakit, kekacauan, atau kemalangan pada orang lain. Dalam berbagai kajian etnografi dan laporan jurnalistik, doti dikaitkan dengan konsep penyebab penyakit personalistik yaitu keyakinan bahwa sakit dapat disebabkan oleh kekuatan supranatural, dendam, iri hati, atau benda yang disisipkan ke dalam tubuh korban — sehingga penanganannya sering melibatkan ritual, doa, atau pengobatan tradisional setempat.[1]
Etimologi dan penyebaran
Istilah “doti” muncul pada berbagai tradisi lokal di Indonesia timur dan Sulawesi, dengan variasi sebutan dan praktik menurut kelompok etnis. Laporan jurnalistik dan kajian etnografi mendeskripsikan praktik doti di wilayah seperti Sulawesi Selatan, Gorontalo, dan komunitas adat lainnya, di mana doti dipahami sebagai mantra atau guna-guna yang dapat dibacakan langsung atau diucapkan dalam hati. Penyebaran istilah dan praktiknya bersifat lokal dan dipengaruhi oleh kosmologi serta struktur sosial komunitas setempat.[1]
Bentuk praktik dan gejala
Bentuk-bentuk doti yang dilaporkan meliputi pembacaan mantra, penggunaan media (mis. benda, tumbuhan, atau hewan) yang “diisi” kekuatan gaib, serta tindakan yang dimaksudkan untuk mengirimkan penyakit atau kesialan kepada target. Dalam beberapa kajian etnografis, gejala yang ditafsirkan sebagai akibat doti meliputi demam berkepanjangan, penurunan berat badan, pucat, sakit kepala, gangguan pernapasan, atau gangguan fungsional lain yang tidak terjelaskan oleh diagnosis biomedis awal.[2]
Kaitannya dengan pengobatan tradisional
Dalam kerangka pengobatan tradisional, doti sering ditempatkan pada kategori penyebab penyakit yang disebut model personalistik (penyakit disebabkan oleh tindakan manusia atau kekuatan gaib), berlawanan dengan model naturalistik (penyakit oleh mikroba, nutrisi, dsb.). Karena itu, penanganan doti biasanya melibatkan metode non-biomedis: ritual pembersihan, upacara pemulihan, pembacaan doa/mantra oleh pemangku adat atau dukun, serta penggunaan ramuan dan tumbuhan obat yang dipercaya dapat “mengusir” atau menetralkan pengaruh gaib.[2]
Perpaduan pengobatan di lapangan sering bersifat pluralistik: keluarga pasien dapat mencari pengobatan biomedis (dokter/rumah sakit) sekaligus meminta bantuan dukun atau praktisi tradisional, melakukan ritual, atau minum ramuan setempat. Kajian etnografi menunjukkan bahwa kombinasi ini dipilih untuk memenuhi harapan sosial, spiritual, dan kebutuhan kesehatan praktis komunitas.[2]
Dampak kesehatan dan sosial
Keyakinan akan doti dapat memengaruhi perilaku pencarian pengobatan (health-seeking behaviour), menyebabkan penundaan akses ke perawatan medis yang dapat dibuktikan secara klinis, atau malah memicu stigma terhadap individu yang dicurigai terkena doti. Di sisi lain, praktik pengobatan tradisional yang menyertai penanganan doti kadang memanfaatkan pengetahuan tentang tumbuhan obat lokal yang memiliki khasiat farmakologis nyata; hal ini menempatkan fenomena doti pada titik temu antara kepercayaan budaya dan pengetahuan etnobotani.[3]
Kajian akademik dan catatan kritis
Beberapa studi etnografi dan penelitian tentang pengobatan tradisional di Indonesia mendokumentasikan konsep guna-guna, doti, atau istilah setara dalam berbagai suku, menelaah gejala yang dikaitkan dengan praktik tersebut serta respons masyarakat. Literatur ini menekankan pentingnya memahami sistem kepercayaan lokal untuk merancang intervensi kesehatan yang sensitif budaya dan untuk mengidentifikasi kapan perlu dilakukan rujukan ke layanan kesehatan biomedis.[2]
Walaupun kajian etnografis menggambarkan pengalaman dan keyakinan penduduk tentang doti, klaim tentang efek supranatural pada kesehatan tidak didukung oleh bukti empiris dari metode ilmiah biomedis. Oleh karena itu, dalam konteks kesehatan masyarakat, penting membedakan antara pengalaman subjektif/antropologis dan bukti klinis mengenai penyebab serta pengobatan penyakit.[2]
Referensi
- ^ a b Kasim, Yaslinda Utari. "Mengenal Doti, Ilmu Santet dari Tanah Sulawesi yang Jadi Senjata Balas Dendam". detiksulsel. Diakses tanggal 2025-11-24.
- ^ a b c d e Kunwar, Ripu M.; Mahat, Laxmi; Acharya, Ram P.; Bussmann, Rainer W. (2013-04-12). "Medicinal plants, traditional medicine, markets and management in far-west Nepal". Journal of Ethnobiology and Ethnomedicine. 9: 24. doi:10.1186/1746-4269-9-24. ISSN 1746-4269. PMC 3643841. PMID 23587109. Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)
- ^ Fadilaturahmah, Fadilaturahmah; Syukri, Firman; Afriani, Yona; Santoso, Putra (2022-06-30). "Anti-Inflammatory Effects of Miang Bean Leaves (Mucuna pruriens)". Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry (dalam bahasa Inggris). 6 (1): 76–83. doi:10.30872/j.trop.pharm.chem.v6i1.207. ISSN 2407-6090.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


