Dhia Prekasha Yoedha

Dhia Prekasha Yoedha
Dhia Prekasha Yoedha tahun 2008
Lahir24 Juli 1955
Jakarta
PendidikanUniversitas Indonesia
ZamanJurnalis era Orde Baru
Dikenal atasPendiri AJI
Partai politik  PDI (1985-1999)
  PDI-P (sejak 1999)

Dhia Prekasha Yoedha (lahir 24 Juli 1955) adalah seorang politikus, dosen, aktivis pergerakan, dan salah seorang pendiri Aliansi Jurnalis Independen (AJI) pada tahun 1994 dan Yayasan Jurnalis Independen (YJI) pada tahun 2000.

Karier Yoedha (dieja: Yudha) sebagai jurnalis sangat bertahap dan digeluti sejak masih mahasiswa di Universitas Indonesia dengan berbagai pelatihan dan penataran. Dia pun terjun secara profesional pada tahun 1985.

Kehidupan Awal

Yoedha lahir di Jakarta pada tanggal 24 Juli 1955, ia merupakan anak dari pasangan RM. Kadim Noeswantoro dan R.Ngt. Siti Saparia. Ayahnya merupakan pensiunan perwira dari Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut dan redaktur surat kabar El Bahar. Sedangkan, ibunya pensiunan guru dan Kepala Sekolah SD Trisula, Perwari.

Lahir dari keluarga yang memiliki latar belakang kuat dibidang pendidikan dan jurnalistik, mendorong Yoedha memilih karier sebagai jurnalis meneruskan jejak ayahnya, sekaligus menekuni profesi sebagai pengajar seperti ibunya dalam berbagai perguruan tinggi.

Riwayat Pendidikan

Yoedha menyelesaikan pendidikan dini dan sekolah dasarnya di TK/SD Trisula I Perwira Jakarta dari tahun 1960 sampai 1967; sekolah menengah pertama di SMP ST. Fransiskus I Jakarta dari tahun 1971 sampai 1970; dan sekolah menengah akhir di SMA ST. Fransiskus Jakarta dari tahun 1971 hingga lulus di SMA Negeri 5 (saat ini SMA Negeri 15) Jakarta.

Ia kemudian melanjutkan pendidikan tingginya di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, jurusan Kriminologi di Universitas Indonesia tahun 1974, karena berkecimpung sebagai aktivis mahasiswa, studi S1 nya baru dapat diselesaikan tahun 1984. Serta melanjutkan program Pascasarjana program Pengkajian Ketahanan Nasional tahun 1995.

Karier Jurnalis

Sejak masih sekolah, Yoedha sudah aktif dalam kegiatan teater, seni budaya, serta acara radio televisi di Sanggar Prativi pada tahun 1970. Saat menjadi mahasiswa di Universitas Indonesia, ia akhirnya mengikuti pelatihan Pers Mahasiswa.

Setelah menyelesaikan pendidikannya, Yoedha memulai karier di bidang jurnalistik sebagai kontributor di majalah mingguan TOPIK (Merdeka Grup) selama satu tahun pada 1985. Kemudian, sebagai wartawan investigasi di surat kabar HARIAN PRIORITAS milik Suryo Paloh dari tahun 1986 hingga 1987.

Setelah media tersebut dibredel, Yoedha bergabung dengan KOMPAS sebagai wartawan di tajuk moneter, fiskal, hukum, investigasi dan berita luar negeri. Meski baru bergabung di KOMPAS, ia sudah mendapat tugas sebagai konsultan redaksi untuk SRIWIJAYA POS di Palembang. Yoedha bergabung di KOMPAS selama delapan tahun, hingga 1995.

Pada tahun 1999 Yoedha kembali sebagai Redaktur Pelaksana majalah bulanan di PT Surveyor Indonesia bernama EKOLITA sampai tahun 2000; menjadi Wakil Pemimpin Redaksi media DETAK ANALISIS tahun 2002; serta sebagai Redaktur di majalah mingguan PILARS tahun 2003; dan Redaktur majalah berkala setengah mingguan JURNAL SUARA METRO tahun 2007.

Kisah Pendirian AJI

Pada 21 Juni 1994, pemerintah Orde Baru membredel Majalah Tempo, Editor, dan tabloid Detik akibat pemberitaan yang menyoroti dugaan korupsi dalam pembelian kapal perang eks Jerman Timur, serta tulisan kritis sebelumnya.

Peristiwa itu mendorong sejumlah jurnalis senior dan muda mendirikan organisasi jurnalis alternatif. Saat itu, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dinilai kurang mendukung kebebesan pers dan lebih berpihak pada pemerintah.

Sebagai respon, mereka membentuk organisasi baru yang diberi nama “Aliansi Jurnalis Independen” sebagai alternatif dari “Persatuan Wartawan Indonesia”. Nama ini dianggap lebih mewakili kebebasan jurnalis, sementara singkatnya, AJI, diusulkan oleh Yoedha.

Berdirinya AJI ditandai dengan penandatanganan Deklarasi Sirnagalih oleh 58 jurnalis pada 17 Agustus 1994. Lalu dianggap oleh Departemen Penerangan sebagai ancaman yang harus ditindak agar tidak meluas. Maka setiap pimpinan di media masing-masing diminta “pendisiplinan”.

Seperti Yoedha dan rekannya, Satrio Arismunandar, mendapat tekanan untuk mundur dari KOMPAS. Hal tersebut yang mengakhiri pengabdian Yoedha selama delapan tahun di media tersebut, dan berfokus sebagai pengurus di AJI serta Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) sektor Pers, Penerangan dan Grafika.

Kiprah Politik

Yoedha juga memperjuangkan ideologi politiknya bersama dengan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) yang kemudian dilanjutkan ke Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP/PDI Perjuangan).

Kiprahnya dimulai saat masuk PDI menjadi tim sukses Suryadi pada Kongres Pondok Gede tahun 1985, dan dipercaya sebagai sekretaris Pokja Ideologi Litbang DPP PDI di tahun 1986 [sampai 1991]. Berikut uraian lengkapnya:

  • 1992 | Caleg DPR RI Nomor 3 di Irian Jaya dan Jurkamnas mewakili PDI;
  • 1987-1993 | Anggota Majelis Permusyawatan Partai PDI mewakili unsur pers;
  • 1991-1993 | Wakil Sekretaris Pokja Polkam Litbang DPP PDI;
  • 1992 | Tim Penggalang mahasiswa/LSM/Pers mendukung Rapim PDI di Kopo, Puncak agar berani mengajukan nama Soerjadi atau Guruh Soekarno sebagai Calon Presiden Republik Indonesia versi Fraksi PDI dalam Sidang Umum MPR tahun 1992 demi mendobrak tradisi Calon Tunggal era Orde Baru;
  • 1993 | Utusan Kongres PDI Medan mewakili MPP PDI dari unsur Jurnalis;
  • 1993-1998 | Tim Sukses Megawati bersama Tarto Sudiro, Roy BB Janis, Laksamana Sukardi, Novi Nasution, Sophan Sophiaan, JM Mailoa, Mangara Siahaan, Suparlan, Edi Siswoyo, dll pada Kongres PDI Medan/KLB Surabaya/Munas Kemang;
  • 1994-1998 | Departemen Ekubang DPP PDI dibawah KU Megawati;
  • 1996 | Penggalang dukungan unsur Ormas/LSM dalam Pemilu 1997 untuk mendukung PDI ProMega sekaligus menangkal campur tangan Orde Baru;
  • 1996 | Wakil Koordinator Mimbar Demokrasi DPP PDI mendampingi Mangara Siahaan dan Edi Siswoyo; Prolog dan Epilog dari Peristiwa Kudatuli (27 Juli 1996);
  • 1996 | Menjaring gerakan akar rumput PDI ProMega yang dalam pengasingan untuk melawan Rezim Soeharto, bersama dengan [Roy BB Yanis, Wijono Hardjanto, Tohap Simanungkalit, Satrio Arismunandar] menjadi targer operasi Tim Anggrek dan Tim Mawar;
  • 1998 | Tim Asistensi DPD PDI DKI Jaya (Jakarta) dalam Kongres Perjuangan di Denpasar;
  • 1999 | PDI Perjuangan;
  • 1998 | Panelis dan Narasumber mewakili PDIP forum lintas partai;
  • 1998-1999 | Sesbid Perencanaan Pemenangan Pemilu Pappuda DPD PDIP DKI Jaya (Jakarta);
  • 1999 | Caleg DPR Nomor 1 di Pekanbaru di Daftar Calon Sementara (tugas Ketua Umum PDIP Megawati SP), dan dipindahkan ke Indragiri Hilir sebagai Daftar Calon Tetapi DPR RI Nomor 1 oleh Sekjen DPP PDIP Alexander Litaay;
  • 2000 | Narasumber penulisan Buku Sejarah “Jejak Langkah 27 Tahun: Dari PDI ke PDI Perjuangan” penerbit DPP PDIP Maret 2000;
  • 2003 | Narasumber mewakili DPD PDIP DKI Jaya di Kursus Kader Partai (KKP) tingkat Pratama Angkatan I se-DKI oleh Badiklatda DKI Jaya (Jakarta);
  • 2003 | Kabid Pengajaran KKP tk Pratama Angkatan I se-Jaktim Budiklatcab Jaktim;
  • 2003-2004 | Korbid Media dan Komunikasi Pemenangan Pemilu DPD PDIP DKI Jaya (Jakarta);
  • 2004 | Caleg DPR RI Nomor 7 daerah pemilihan Jakarta Raya 1;
  • 2004 | Koordinator perencanaan Tim Kampanye Mega-Hasyim DKI Jaya (Jakarta);
  • 2004 | Koordinator Bidang Khusus Tim Independen Mega Menang;
  • 2004 | Tim Media Mega Center selama Pilpres putaran I dan II;
  • 2005 | Steering Committee Raker Fraksi PDIP DPR RI;
  • 2005 | Narasumber SC Pan. Nas. Kongres PDIP di Denpasar ;
  • 2005-2010 | Wakil Ketua DPD PDIP DKI Jakarta;
  • 2006-2010 | Kepala Badan Infokom DPD PDIP DKI Jakarta;
  • 2008 | Wakil Ketua DPD Baitul Muslimin DKI Jakarta;
  • 2008 | Caleg DPRD DKI Jakarta Nomor 8 daerah pemilihan Jakarta Timur;

Riwayat Organisasi

Publikasi/Karya Ilmiah

  1. Konspirasi Penguasa dan Penguasan dalam Oligopoli Media memanipulasi pers dan informasi publik dalam buku serial Laporan dan Catatan Keadaan HAM di Indonesia 1994 Kata Pengantar Mulyana W Kusuma; Penerbit Divisi Khusus YLBHI Jakarta, 1995
  2. Siapa Memeras Keringat Siapa & ICMI: Mengeruk Kegatalan Umat dalam buku ISSUE DAN IGAUAN DARI SALEMBA ranguman karya lepas para Alumni UI (antara lain: Soe Hok Gie, Sjahrir, Moh Iksan, Hariman Siregar, M Chatib Basri, dll) Kata Pengantar Dorodjatun Koentjorojakti Penerbit Badan Otonom ECONOMICA FEUI, Depok 1995
  3. Peran Cendekiawan dan Dinnamika Masyarakat di buku KEBEBASAN CENDEKIAWAN: Refleksi Kaum Muda simposium Masika ICMI Kata Pengantar Prof. Dr. Dawan Rahardjo Penerbit Yayasan Bentang Budaya, Yogya & Pustaka Republika 1996
  4. Memperjuankan Pers Bebes di Masa Transisi dalam buku Bersikap Independen: Pedoman Meliput Pemilu di Masa Demokrasi Transisi. Penerbit PACT & AJI Jakarta 1999
  5. Politik Anti Cina di Balik Kepentingan Politik Ekonomi Orde Baru dalam buku Diskriminasi Rasial Ethnik Tionghoa di Indonesia Editor J. Bebari & Albertus Sugeng; Jakarta, GANDI, 1999
  6. Paradigma Militerisme dalam Pelumpuhan Demokrasi dalam buku Indonesia di Tengah Transisi Kata Pengantar Dr. George Junus Aditjondro & Dr. Kusnanto Anggoro, Penerbit PROPATRIA Jakarta 2000.
  7. Pola Kepelacuran Perempuan Jalanan di Matraman 1978-1983, Skripsi UI Fisip Kriminologi (belum dipublikasi)
  8. Blunder Politik Soeharto dan Disintegrasi Nasional, risalah pada Program Pengkajian Ketahanan Nasional Pascasarjana UI 1998 (publikasi terbatas)

Lihat Pula

Rujukan

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement