Defisiensi kromium

Defisiensi kromium
Chromium
SpesialisasiEndokrinologi Sunting ini di Wikidata

Defisiensi kromium merujuk pada kondisi yang terjadi akibat asupan mineral kromium yang tidak mencukupi. Kromium pertama kali diusulkan sebagai unsur esensial bagi metabolisme glukosa pada tahun 1959,[1] namun fungsi biologisnya belum ditetapkan secara pasti.[2] Kasus defisiensi dilaporkan pada individu yang menerima seluruh kebutuhan nutrisinya melalui nutrisi parenteral total dalam jangka waktu panjang.[3]

Status esensialitas kromium menjadi topik perdebatan[4][5][6] Otoritas di Uni Eropa tidak mengakui kromium sebagai nutrien esensial,[7] sedangkan otoritas di Amerika Serikat menetapkannya sebagai nutrien esensial dan menentukan asupan kecukupan untuk orang dewasa berada pada kisaran 25–45 μg/hari, bergantung pada usia dan jenis kelamin.[8] Suplemen makanan yang mengandung kromium tersedia luas di Amerika Serikat, dengan klaim manfaat terhadap glukosa plasma puasa, hemoglobin A1C, dan penurunan berat badan. Tinjauan ilmiah menunjukkan perubahan yang dilaporkan bersifat kecil dan belum terdapat konsensus ilmiah mengenai relevansi klinis dari perubahan tersebut.[9][10]

Tanda dan gejala

Gejala yang dikaitkan dengan defisiensi kromium pada individu yang menjalani nutrisi parenteral total jangka panjang mencakup gangguan toleransi glukosa yang berat, penurunan berat badan, neuropati perifer, serta kebingungan.[11]

Diagnosa

Menurut tinjauan Dietary Reference Intake, konsentrasi kromium dalam plasma maupun urin tidak dapat digunakan sebagai indikator klinis status kromium. Sebelum kromium menjadi komponen standar dalam nutrisi parenteral total (TPN), beberapa individu yang bergantung sepenuhnya pada TPN mengalami gejala yang kemudian membaik dalam waktu sekitar dua minggu setelah kromium ditambahkan.

Rekomendasi diet

Pada tahun 2001, Institute of Medicine (IOM) memperbarui estimasi kebutuhan kromium. Informasi yang tersedia belum cukup untuk menetapkan Estimated Average Requirements (EARs) dan Recommended Dietary Allowances (RDAs), sehingga kebutuhan dinyatakan sebagai Adequate Intakes (AIs). AI untuk perempuan usia 14–50 tahun adalah 25 μg/hari dan 20 μg/hari untuk usia di atas 50 tahun. AI pada kehamilan adalah 30 μg/hari, sedangkan pada laktasi 45 μg/hari. Untuk laki-laki usia 14–50 tahun, AI adalah 35 μg/hari dan 30 μg/hari untuk usia lebih tua. Untuk bayi dan anak usia 1–13 tahun, AI meningkat dari 0,2 hingga 25 μg/hari seiring pertambahan usia. Tidak terdapat batas asupan atas yang dapat ditoleransi (Tolerable Upper Intake Level, UL) untuk kromium karena kurangnya data yang memadai. EARs, RDAs, AIs, dan UL secara kolektif disebut sebagai asupan referensi diet (Dietary Reference Intakes, DRIs).

Jepang menetapkan kromium sebagai nutrien esensial dengan asupan kecukupan 10 μg/hari untuk orang dewasa.[12] Di Eropa, Otoritas Keamanan Pangan Eropa (EFSA) menggunakan istilah Dietary Reference Values. EFSA tidak menetapkan nilai rujukan untuk kromium karena tidak menganggapnya sebagai nutrien esensial. Kromium merupakan satu-satunya mineral yang memiliki perbedaan pandangan esensialitas antara Amerika Serikat dan Uni Eropa.[7][13]

Dalam pelabelan pangan dan suplemen di Amerika Serikat, persentase Daily Value (%DV) digunakan untuk menunjukkan jumlah kromium per sajian. Sebelumnya, 100% DV ditetapkan sebesar 120 μg, namun direvisi menjadi 35 μg pada 27 Mei 2016 agar sesuai dengan RDA.[14][15] Ketentuan pelabelan baru mewajibkan kepatuhan penuh mulai 1 Januari 2020 bagi produsen dengan penjualan tahunan di atas 10 juta dolar AS,[16][17] dan 1 Januari 2021 bagi produsen dengan penjualan lebih rendah. FDA menerapkan masa penyesuaian enam bulan pertama tanpa fokus pada tindakan penegakan untuk memberi waktu adaptasi terhadap regulasi baru tersebut.[16]

Referensi

  1. ^ SCHWARZ, K; MERTZ, W (November 1959). "Chromium(III) and the glucose tolerance factor". Archives of Biochemistry and Biophysics. 85: 292–295. doi:10.1016/0003-9861(59)90479-5. PMID 14444068.
  2. ^ Mertz, W (April 1993). "Chromium in human nutrition: a review". The Journal of Nutrition. 123 (4): 626–633. doi:10.1093/jn/123.4.626. PMID 8463863.
  3. ^ Expert group on Vitamins and Minerals (August 2002). "Review of Chromium" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 7 February 2012. Diakses tanggal 24 February 2013.
  4. ^ Vincent, John B. (2010). "Chromium: celebrating 50 years as an essential element?". Dalton Transactions. 39 (16): 3787–3794. doi:10.1039/B920480F. PMID 20372701.
  5. ^ Jeejeebhoy, Khursheed N. (1999). "The role of chromium in nutrition and therapeutics and as a potential toxin". Nutrition Reviews. 57 (11): 329–335. doi:10.1111/j.1753-4887.1999.tb06909.x. PMID 10628183.
  6. ^ Vincent, JB (2013). "Chromium: Is It Essential, Pharmacologically Relevant, or Toxic?". Interrelations between Essential Metal Ions and Human Diseases. Metal Ions in Life Sciences. Vol. 13. hlm. 171–198. doi:10.1007/978-94-007-7500-8_6. ISBN 978-94-007-7499-5. PMID 24470092.
  7. ^ a b "Overview on Dietary Reference Values for the EU population as derived by the EFSA Panel on Dietetic Products, Nutrition and Allergies" (PDF). 2017.
  8. ^ Chromium. IN: Dietary Reference Intakes for Vitamin A, Vitamin K, Arsenic, Boron, Chromium, Chromium, Iodine, Iron, Manganese, Molybdenum, Nickel, Silicon, Vanadium, and Chromium National Academy Press. 2001, hlm. 197-223.
  9. ^ Costello RB, Dwyer JT, Bailey RL (2016). "Chromium supplements for glycemic control in type 2 diabetes: limited evidence of effectiveness". Nutr. Rev. 74 (7): 455–468. doi:10.1093/nutrit/nuw011. PMC 5009459. PMID 27261273.
  10. ^ Onakpoya I, Posadzki P, Ernst E (2013). "Chromium supplementation in overweight and obesity: a systematic review and meta-analysis of randomized clinical trials". Obes Rev. 14 (6): 496–507. doi:10.1111/obr.12026. PMID 23495911.
  11. ^ Freund, Herbert; Atamian, Susan; Fischer, Josef E. (February 1979). "Chromium deficiency during total parenteral nutrition". JAMA. 241 (5): 496–498. doi:10.1001/jama.1979.03290310036012. PMID 104057.
  12. ^ Overview of Dietary Reference Intakes for Japanese (2015)
  13. ^ Tolerable Upper Intake Levels For Vitamins And Minerals (PDF), European Food Safety Authority, 2006
  14. ^ "Daily Value Reference of the Dietary Supplement Label Database (DSLD)". Dietary Supplement Label Database (DSLD). Diarsipkan dari asli tanggal 7 April 2020. Diakses tanggal 16 May 2020.
  15. ^ "Federal Register May 27, 2016 Food Labeling: Revision of the Nutrition and Supplement Facts Labels. FR page 33982" (PDF).
  16. ^ a b "FDA provides information about dual columns on Nutrition Facts label". U.S. Food and Drug Administration (FDA). 30 December 2019. Diarsipkan dari asli tanggal 7 January 2020. Diakses tanggal 16 May 2020. Artikel ini mengandung teks dari suatu publikasi yang sekarang berada di domain publik:
  17. ^ "Changes to the Nutrition Facts Label". U.S. Food and Drug Administration (FDA). 27 May 2016. Diarsipkan dari asli tanggal 18 May 2019. Diakses tanggal 16 May 2020. Artikel ini mengandung teks dari suatu publikasi yang sekarang berada di domain publik:

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement