Cica daun sayap-biru sumatera
Cica daun sayap-biru sumatera (Chloropsis moluccensis) adalah spesies burung cica atau cucak yang habitat hidupnya berada di wilayah Kalimantan Timur hingga Sumatera Selatan dan lebih dikenal dengan nama cucak ijo karena warnanya yang hijau terang[1] Cica daun sayap biru juga ditemukan di Semenanjung Malaya dan Pulau Jawa (subspesies yang berbeda)
Morfologi

Secara morfologi, burung cica daun sayap biru Sumatera berbeda dengan burung Jerdon (Chloropsis jerdoni) di subkontinen India dan burung cica daun Jawa (Chloropsis cochinchinensis). Spesies ini memiliki warna bulu badan yang dominan hijau terang dan warna iris mata biru keabu-abuan, sementara di bagian sayap dan ekornya berwarna biru. Memiliki ukuran panjang tubuh berkisar 17 cm dengan massa tubuh 24,5 gram. Burung ini merupakan hewan terestrial yang tinggal di hutan primer dan sekunder seperti hutan rawa yang lembab dengan ketinggian habitat sekitar 100 hingga 1800 mdpl juga di pinggiran kota, perkebunan maupun danau.[1]
Cica daun sayap biru bukanlah burung migrasi tetapi menetap pada waktu tertentu dan lebih menyukai tinggal di puncak pohon. [1] Warnanya yang menyerupai daun membuatnya sulit diamati kecuali saat sedang berkicau. Biasanya burung ini hinggap berpasangan atau berkelompok dan membuat sarang yang terbuat dari ranting dan dahan kering kemudian membentuknya menyerupai cawan di dahan.[2]
Burung cica daun sayap biru Sumatera jantan memiliki warna bulu tenggorokan hitam yang khas dan menyerupai topeng membedakannya dengan cica daun sayap biru sumatera betina yang memiliki warna kuning samar di area tenggorokan sehingga mudah dikenali perbedaannya. Tujuannya sebagai daya tarik saat musim kawin dan dikenal dengan istilah dismorfisme seksual. Umumnya, cica daun sayap biru sumatera merupakan omnivora yang memakan buah, nektar dan serangga dari dahan satu ke dahan lainnya.[1] Meskipun sebagai pemangsa sekunder serangga, tetap saja Cica daun sayap biru Sumatera juga membantu menekan ledakan populasi serangga yang menjadi hama bagi tanaman tertentu seperti tanaman pertanian serta membantu penyerbukan bagi burung yang memakan nektar.[2]
Burung biasanya menggunakan kicauannya untuk menandai wilayah teritorinya, melindungi diri dari predator, berkomunikasi dengan sesamanya dan juga menarik lawan jenis saat musim kawin. Burung betina biasanya bertelur 2-3 butir dan mengerami telurnya. Suara kicaunya yang khas dan indah membuat burung cica sayap biru ini masuk ke dalam target perdagangan dan perlombaan kicau burung. Saat ini populasinya terus menurun akibat perburuan serta pembukaan lahan dan diperkirakan terancam punah jika tidak dilindungi sehingga Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) mengkategorikannya sebagai hewan yang dilindungi. [3] Cica daun sayap biru Sumatera ini termasuk ke dalam suku Chloropseidae. [2] Ada lima jenis burung Chloropseidae di Sumatera, diantaranya Chloropsis moluccensis, Chloropsis sonnerati, Chloropsis aurifons, Chloropsis cyanopoghon dan Chloropsis media[4]
| Cica daun sayap-biru sumatera | |
|---|---|
| Klasifikasi ilmiah | |
| Filum: | Chordata
|
| Superkelas: | Tetrapoda
|
| Kelas: | Aves
|
| Ordo: | Passeriformes
|
| Famili: | Irenidae
|
| Genus: | Chloropsis Chloropsis
|
| Spesies: | Chloropsis moluccensis
|
Referensi
- ^ a b c d "Chloropsis moluccensis (Blue-winged Leafbird) - Avibase". avibase.bsc-eoc.org. Diakses tanggal 2026-02-28.
- ^ a b c Tri Atmoko; Mohamad Arif Rifqi; Mukhlisi (2023-11-20). Cica Daun, Burung Kicau yang Semakin Sepi Nyanyiannya di Alam. Penerbit BRIN. ISBN 978-623-8372-15-7.
- ^ P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018
- ^ "Sumatran Leafbird Chloropsis Media Species Factsheet". BirdLife DataZone (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-02-28.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


