Chiang Yu Tie

Chiang Yu Tie adalah seorang pelukis keturunan Tionghoa yang menetap di Indonesia.[1] Ia lahir di Provinsi Zhejiang dalam wilayah Tiongkok pada tahun 1916.[2]
Meski lahir dari keluarga berada, dia tidak memeroleh pendidikan formal karena orangtuanya lebih memberi prioritas pada anak laki-laki. Meski demikian, karena gigih menunjukkan bakatnya, akhirnya ia dapat diterima di pendidikan tinggi melukis di Akademi Seni Lukis Negeri Xinxi, Chongqing walau mendaftar tanpa memiliki ijazah sekolah. Ia lulus pada tahun 1945, dan tiga tahun kemudian bersama suaminya merantau pindah ke Bandung, Jawa Barat.[3]
Di Bandung, Chiang Yu Tia bergelut di dunia pendidikan seni lukis dengan membuka sanggar. Ia dikenal dengan keahliannya melukis kaligrafi dan lukisan tradisional Tionghoa (guóhuà).
Tahun 1980, ia mengadakan pameran di Bandung bersama anak perempuannya, Teng Mu Yen yang juga seorang pelukis. Karya-karyanya didominasi subjek-subjek pemandangan sehari-hari yang dilukis dengan gaya tradisional Tiongkok. Beberapa lukisannya menggambarkan adegan-adegan dalam epik Ramayana yang juga dibubuhi puisi singkat gubahan sang pelukis.[4]
Pada tahun 2002, lukisannya terpilih ikut dipamerkan dalam Pekan Kebudayaan Tionghoa Di Antara Lima Benua, ajang bergengsi bagi pelukis-pelukis kaligrafi sedunia.[3]
Kehidupan awal
Chiang Yu Tie lahir pada tahun 1916 di Provinsi Zhejiang (Che Kiang), Tiongkok, dari keluarga yang cukup berada dan terpelajar.[5] Ayahnya memiliki usaha rumah obat yang terkenal dan jaringan relasi sosial yang baik di daerahnya.[6] Ia memiliki dua kakak, laki-laki dan perempuan, dan merupakan keturunan kelima dari keluarga bermarga Chiang yang termasuk golongan terpelajar di daerah tersebut.[6]
Teknik lukis
Dalam karyanya Ciang Yu Tie mengunakan teknik Baimiao (白描), sebuah metode menggambar garis menggunakan kuas di mana setiap goresan dibuat dengan penuh maksud dan tujuan, menciptakan detail yang tajam dan hidup. Tak hanya itu, ia juga mengaplikasikan teknik Cunca (皴擦) yang menggunakan sapuan kuas lebih tebal dan intens, memberikan tekstur yang kaya serta kesan berat yang dramatis pada karyanya. Untuk menambah kedalaman warna, ia memakai teknik Ranfa (染法), sebuah cara pewarnaan berlapis dengan mengaplikasikan warna secara berulang dan konsisten, sehingga menghasilkan rona yang dalam dan merata. Teknik-teknik ini hanyalah sebagian dari beragam cara yang sering dipraktikkan oleh seniman Peranakan Tiongkok, yang menjadikan karya mereka tidak hanya indah secara visual, tetapi juga sarat makna dan tradisi.[7]
Referensi
- ^ Zainsjah, A. B., dkk (Juni 2022). Perempuan, Seni & Dirinya. Karanganyar: Penerbit YLGI. hlm. 39. ISBN 978-623-5543-96-3. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Chiang, Y. T., dan Teng, M. Y. (1980). Lukisan Tradisional Tiongkok. Rukun Gaya Baru. hlm. 1. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ a b Marhadi, Yudi. "Jiang Yudi (Chiang Yu Tie) - Terus Berkarya Meski Sudah Senja". web.budaya-tionghoa.net (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diarsipkan dari asli tanggal 2019-10-17. Diakses tanggal 2019-10-17.
- ^ Berdaya, Ogan (1980). Lukisan tradisionil Tiongkok : karya ibu Chiang Yu Tie [dan] putri Teng Mu Yen. Bandung: s.n. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ "Budaya Tionghoa – Forum Budaya & Sejarah Tionghoa" (dalam bahasa American English). 2025-02-07. Diakses tanggal 2025-06-02.
- ^ a b Pandanwangi, Ariesa; Dewi, Belinda (2016). "Kolaborasi Budaya pada Lukisan Tradisional Tiongkok di Indonesia" (PDF). Jurnal Ilmiah Seni Budaya Pantun. 1 (2): 71–83.
- ^ Gani, Sangid Zaini; Cahyana, Agus; Zaman, Farid Kurniawan Noor (2022-12-31). "Estetika Teknik Chinese Painting pada Karya Seniman Keturunan Tionghoa di Indonesia". Panggung. 32 (4): 515–526. doi:10.26742/panggung.v32i4.2270. ISSN 2502-3640.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


