Canang Ceureukeuh
Canang Ceureukeuh adalah alat musik tradisional masyarakat Lhokseumawe, Provinsi Aceh yang dimainkan dengan cara dipukul.[1] Alat musik ini telah diakui secara resmi sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia melalui SK No. 414/P/2022.[2]
Makna etimologis
Kata canang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia merujuk pada alat musik berbentuk gong kecil atau bonang.[3] Sementara itu, ceureukeuh berasal dari kata cukeh yang berarti "colek", menggambarkan bahwa instrumen ini sebaiknya dimainkan secara lembut.[1]
Sejarah
Instrumen Canang Ceureukeuh telah dikenal oleh masyarakat Lhokseumawe sejak masa kerajaan dan masa penjajahan.[4] Alat musik ini dimainkan oleh para wanita dan anak-anak di sawah pada saat menjaga tanaman padi dari gangguan binatang liar atau saat musim panen tiba.[5] Anak-anak juga menampilkan beberapa tarian tradisional dengan iringan musik ini, misalnya tari kudani (kuda-kudaan), grop tumble (lompat jangkrik), dan grop cangguk (lompat katak). Komponen alat musik ini, dahulu lebih sederhana dengan oemukul dari bambu yang diisi dengan anak pinang.[1]
Komponen
Canang Ceureukeuh terdiri atas tiga komponen utama: empat buah bilah, penopang, dan tongkat pemukul. Masing-masing bilah memiliki ukuran, ketebalan, dan karakter nada yang berbeda. Pada bagian atas setiap bilah terdapat lekukan sebagai titik pukul utama, sementara di bagian bawahnya terdapat dua lubang kecil di ujung kiri dan kanan. Lubang di bawah ini berfungsi untuk mengaitkan bilah ke penopang, dan dibuat dengan bor sesuai posisi nada yang telah ditentukan.[1]
Keempat bilah pada Canang Ceureukeuh menyimbolkan tuha peut, yakni empat tokoh desa yang memegang wewenang membantu kepala desa. Nama-nama bilah pada instrumen ini juga memiliki nilai filosofi sendiri. Misalnya, bilah "Tingkah" menggambarkan variasi sifat atau perilaku manusia, "Rempah" merujuk pada kekayaan alam daerah Aceh, dan "Chup-chup" mengingatkan akan pentingnya menjaga harmoni sosial.[1]
Komponen pemukul pada alat musik Canang Ceureukeuh berbentuk lingkaran dengan ujung membulat. Panjang pemukul mencapai sekitar 27 cm, dengan diameter bagian atas 2,8 cm, diameter pangkal sekitar 2 cm, dan diameter ujung bulatan 4 cm.[6] Pada bagian pegangan, terdapat bagian melingkar yang sedikit lebih besar.[1]
Komponen penopang instrumen ini berbentuk persegi. Pada bagian depan dan belakang penopang diukir motif ornamen Tampong Rumah Aceh atau pucuk rebung sebagai simbol kesuburan dan kebersamaan masyarakat Aceh.[1]
Bahan pembuatan
Canang Ceureukeuh merupakan instrumen berbahan dasar kayu, khususnya jenis kayu lokal seperti kayu tualang, tampu, mane, siren, dan nangka. Kayu yang digunakan adalah kayu tua yang telah kering tanpa kandungan air. Sebagai alternatif, pembuatam canang ceureukeuh juga dapat menggunakan bahan kayu grupel, reuhat, pelawin, dan merbau. Jenis kayu berbeda digunakan untuk membuat komponen instrumen yang berbeda.[1]
Proses pembuatan
Pembuatan Canang Ceureukeuh melibatkan beberapa tahapan, dimulai dari pemilihan kayu, pemotongan, pembentukan dan penghalusan, pengukiran motif, penyeteman, penyesuaian bilah dan penopang hingga pewarnaan. Penyeteman dilakukan secara manual tetapi dibantu dengan tuner digital untuk memastikan presisi nada.[1]
Teknik permainan
Canang Ceureukeuh termasuk jenis alat musik idiofon yang dibunyikan oleh satu orang atau lebih dengan ditabuh dengan pemukul berbahan kayu. Pada awalnya instrumen ini merupakan instrumen tunggal yang tidak terikat dengan alat musik lain dalam pertunjukannya. Namun, setelah melalui perkembangan, Canang Ceureukeuh mulai dimainkan bersama dengan instrumen musik tradisional Aceh lainnya, seperti: rapa'i, serune kale dan geundrang.[1]
Instrumen ini dimainkan sambil duduk bersila dengan posisi bilah pertama berada di depan pemain. Tangan kiri memukul bilah pertama secara konsisten, sementara tangan kanan memukul tiga bilah lainnya secara begantian. Nada dihasilkan dari pukulan tongkat pemukul ke bagian tengah lengkungan bilah. Meski tidak memiliki ruang resonansi khusus, kayu sebagai bahan utama memiliki resonansi alami yang mendukung kualitas bunyi.[1]
Referensi
- ^ a b c d e f g h i j k Maulana, Ilham; Suryati Budiwati, Dewi; Karwati, Uus (2022-11-06). "KAJIAN ORGANOLOGI ALAT MUSIK TRADISIONAL CANANG CEUREUKEH". SIWAYANG Journal: Publikasi Ilmiah Bidang Pariwisata, Kebudayaan, dan Antropologi. 1 (4): 163–178. doi:10.54443/siwayang.v1i4.409. ISSN 2828-8823.
- ^ "Canang Ceureukeuh". Pusdatin Kemendikbudristek. Diakses tanggal 2025-06-19.
- ^ r.search.yahoo.com https://r.search.yahoo.com/_ylt=AwrKHQlDk4RpFQIAqTrLQwx.;_ylu=Y29sbwNzZzMEcG9zAzIEdnRpZAMEc2VjA3Ny/RV=2/RE=1771505732/RO=10/RU=https://kbbi.web.id/canang/RK=2/RS=NOPohL6ZSIpz3rinnlKSksI0Ce0-. Diakses tanggal 2026-02-05.
- ^ "Kajian Organologi Alat Musik Tradisional Cabang Ceureukeh". Diakses tanggal 2026-01-24.
- ^ r.search.yahoo.com https://r.search.yahoo.com/_ylt=AwrKAwRzk4RpLAIA8avLQwx.;_ylu=Y29sbwNzZzMEcG9zAzIEdnRpZAMEc2VjA3Ny/RV=2/RE=1771505779/RO=10/RU=https://penelitianpariwisata.id/alat-musik-tradisional-canang-ceureukeh//RK=2/RS=CDcsA.67jUHTkTGn9vcbs0OBTUc-. Diakses tanggal 2026-02-05.
- ^ r.search.yahoo.com https://r.search.yahoo.com/_ylt=Awr1RVCak4RpMQIAsYzLQwx.;_ylu=Y29sbwNzZzMEcG9zAzIEdnRpZAMEc2VjA3Ny/RV=2/RE=1771505818/RO=10/RU=https://www.researchgate.net/publication/371355106_KAJIAN_ORGANOLOGI_ALAT_MUSIK_TRADISIONAL_CANANG_CEUREUKEH/fulltext/648089b579a722376516e9de/KAJIAN-ORGANOLOGI-ALAT-MUSIK-TRADISIONAL-CANANG-CEUREUKEH.pdf/RK=2/RS=zvAVV34OV2aD5JmUqcggapIwHVY-. Diakses tanggal 2026-02-05.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


