Cagar Alam Ponda-Ponda

Kawasan Cagar Alam Ponda-ponda adalah kawasan hutan sekunder pegunungan yang seeara administratif pemerintahan terletak di Keeamatan Mangkutana, Kabupaten Luwu Timur, berjarak sekitar 400 km dari pusat kota Makassar. Seeara geografis terletak sekitar 2°25' 02" LS dan 1200 49'04"BT. Kawasan yang luasnya 80 ha berdasarkan SK Menteri Kehutanan no.319/kpts-II/1990 tangal 26 juni 1990 ini sebelumnya adalah merupakan hutan lindung dan hutan penelitian rotan. Topografi kawasan Cagar Alam Ponda-Ponda bervariasi dari landai hingga berbukit-bukit dengan kelerengan antara 30-60 % pada ketinggian 60–100 m di atas permukaan laut. Kawasan dengan tipe tanah podsolik ini mempunyai pH antara 6.0 - 6.7 dengan kelembaban relatif 80 - 97 % dan temperatur udara 25°-27 °C.[1]

Kondisi fisik[2]

  • Topografi: Keadaan lapangan datar hingga bergelombang dengan kelerengan antara 30 % - 60 % dan ketinggian antara 350 – 442 m dpl.
  • Geologi: formasi geologi kawasan ini terdiri dari terdiri dari Batuan Sedimen Paleogen.
  • Tanah: jenis tanah yang di kawasan Cagar Alam Kalaena adalah Podsolik coklat.
  • Iklim dan cuaca: Menurut klasifikasi Schmidt – Ferguson Cagar Alam Kalaena termasuk tipe iklim A; Curah hujan rata-rata 4.365 mm/tahun.

Potensi Kawasan[2]

  • Potensi ekosistem: Hutan Pamah Sekunder.
  • Potensi flora: Damar, Uru, Kenanga, Ponto, Manggis Hutan, Jambu-jambu, Durian, Waru, Beringin/Nuncu, Jabon, Bintangur, Pude, Bonuk, Kassa, Kume, Dengen/ Songi, Kayu Hitam, Kuku, Minrulla, Rambutan, Langsat, Mangga Hutan, Pulai, Bitti, Anggrek, Bambu, Aren, Pandan.
  • Potensi fauna: Kucing Hutan, Babi Hutan, Gosong Filipina, Ayam Hutan Merah, Gajahan, Junai Mas, Dara Laut, Cekakak suci, Cekakak, Kaleda, Layang-layang, Gagak, Jalak, Isap Madu, Ular Sawah, Kadal, Biawak Air Tawar, Kuntul Perak, Burung Puyuh, Pergam Putih, Pergam Hijau, Tekukur Hutan, Serindit, Nuri Sulawesi, Burung Hantu, Julang, Kutilang, Kepodang Kuning, Bunglon, Kadal

Upaya konservasi[1]

Konservasi secara in-situ dan ex-situ mernpakan cara konservasi atau pelestarian yang saling mengisi. Pelestarian ex-situ menonjol karena sistim ini memungkinkan suatu pengawasan yang cukup mudah terhadap koleksi, dibanding dengan pengawasan daerah pelestarian in situ/daerah konservasi yang luasnya sampai puluhan ribu hektar. Kelebihan sistim ex-situ dapat sekaligus melakukan studi banding terhadap keberlangsungan kehidupan jenis tumbuhan yang dilestarikan apabila telah dikeluarkan dari habitat alaminya.

Beberapa kegiatan pelestarian ex-situ telah dilakukan oleh Kebun Raya Bogor, antara lain adalah menumbuh kembangkan kembali hasil eksplorasi dan inventarisasi jenis tumbuhan liar. Setelah material koleksi sampai di bagian Pembibitan Kebun Raya Bogor, Jenis koleksi tersebut setelah diberi data akses kemudian ditanam pada tempat yang kondisinya disesuaikan dengan kondisi alami habitatnya. Penyiraman dilakukan setiap hari pada waktu pagi hari. Pencatatan perkembangan tiap jenis dilakukan sampai jenis yang dikoleksi tersebut mampu berbunga. Dari jenis yang telah mampu berbunga tersebut diidentiftkasi untuk menentukan nama jenisnya seeara benar dan akurat. Upaya pelestarian jenis-jenis yang dikoleksi di Kebun Raya Bogor terns menerus dilakukan dari tahun ke tahun. Diantaranya yaitu selalu meningkatkan kegiatan eksplorasi ke berbagai kawasan hutan diseluruh Indonesia. Upaya lain yang dilakukan adalah dengan pengembangan teknik perbanyakan. Kebun Raya Bogor sudah sejak lama melakukan perbanyakan koleksi melalui stek, cangkok dan biji.

Ancaman pelestarian[1]

Ancaman yang perlu diperhatikan adalah adanya masyarakat yang tinggal disekitar kawasan Perambah yang sedikit demi sedikit akan mengurangi keberadaan tumbuhan dan variasinya akan berkurang. Apabila kegiatan tersebut terus dilakukan dan didiamkan saja tanpa ada pelarangan, 10-20 tahun lagi dikawasan tersebut akan rusak dan keragaman floranya akan sanga berkurang.

Referensi

  1. ^ a b c Hidayat dan Munawaroh, Syamsul san Esti (Desember 2019). "Keanekaragaman jenis tumbuhan liar dan potensinya di kawasan hut an Mangkutana, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan" (PDF). https://janaaha.com/. ;
  2. ^ a b Humas, Tim (25 Januari 2024). "CAGAR ALAM PONDA-PONDA". BBKD Sulawesi Selatan. Diakses tanggal 30 Agustus 2025.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement