Bumbung Kepyak
Bumbung Kepyak adalah seni tradisional yang berasal dari Kabupaten Jembrana, Bali, dan dikenal juga sebagai "Joged Bumbung Kepyak". Kesenian ini menggunakan alat musik dari bambu yang unik, seperti bambu dan kepyak, serta terkadang dilengkapi suling untuk melengkapi instrumen musik bambunya, serta terkadang dilengkapi suling untuk melengkapi instrumen musik bambunya. Bumbung Kepyak sering ditampilkan dalam upacara keagamaan, seperti di pura, dan bertujuan untuk kesejahteraan umat Hindu, serta merupakan salah satu kekayaan budaya yang diakui oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.[1]
Sejarah
Kesenian Bumbung Kepyak berakar dari kreativitas dan upaya pengembangan di Kabupaten Jembrana. Kesenian ini diperkenalkan dan dikembangkan oleh I Ketut Gedar, seorang seniman yang dikenal sering melakukan perjalanan ke berbagai desa di Kabupaten Buleleng. Pada tahun 1942, dalam perjalanannya di Buleleng, I Ketut Gedar menjalin kontak dengan beberapa tokoh kesenian setempat, yaitu I Nyoman Nesa, I Made Perto, dan I Wayan Sukadana.[2][3]
Kesenian Bumbung Kepyak mengalami periode pasang surut yang signifikan seiring dengan perkembangan zaman. Pertunjukan kesenian ini memiliki persyaratan anggota yang substansial, membutuhkan minimal 25 orang pemain, khususnya untuk posisi penabuh. Keterbatasan jumlah pelaksana ini menjadi kendala utama yang menyebabkan aktivitas kesenian tersebut tidak stabil. Secara karakteristik, hampir semua instrumen yang digunakan dalam Bumbung Kepyak dibuat dari bahan baku bambu.[1]
Perkembangan
Upaya untuk melestarikan Bumbung Kepyak kemudian bergeser ke Dusun Dewasana, Desa Pendem. Berdasarkan inisiatif beberapa tokoh masyarakat setempat, mereka berhasil membujuk dan mengajak pakar kesenian Bumbung Kepyak dari Banjar Satria untuk mentransfer pengetahuan dan kemahiran mereka kepada generasi muda di Banjar Dewasana. Gayung bersambut, tokoh seni dari Banjar Satria menyambut baik ajakan tersebut. Tiga tokoh kunci ini kemudian bertindak sebagai motor penggerak utama dalam mereaktivasi kesenian Bumbung Kepyak yang mulai terabaikan di lokasi asalnya. Keberhasilan pengembangan kesenian Bumbung Kepyak di Dusun Dewasana dapat diatribusikan pada dedikasi dan kecintaan para tokoh terhadap kesenian ini, dengan tujuan utama untuk mencegahnya dari kepunahan di tengah arus modernisasi.[4]
Pertunjukan
Dalam pertunjukan Bumbung Kepyak, elemen teater tradisional memegang peranan krusial yang berfungsi melengkapi aspek musik dan tari. Narasi yang disajikan dalam pertunjukan ini biasanya bersumber dari mitologi dan legenda Bali, menjadikannya medium penting bagi penonton untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai kekayaan budaya dan konteks historis wilayah tersebut.[5]
Rujukan
- ^ a b "Bumbung Kepyak - Seni | Ceraken Kebudayaan Bali". ceraken.baliprov.go.id. Diakses tanggal 2025-11-13.
- ^ Budiastrawan, I. Putu Adi. "Mengenal Kesenian Bumbung Kepyak Asli Jembrana". detikbali. Diakses tanggal 2025-11-13.
- ^ Dyah Chri Ekasmara; I Made Satyananda; I Made Dharma Suteja; I Made Sumerta; (2021). Inventarisasi karya budaya bumbung kepyak di kabupaten Jembrana Provinsi Bali | Perpustakaan Pusat Pelatihan Sumber Daya Manusia. Kepel Press. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)
- ^ detikBali, Tim. "Mengenal Bungbung Kepyak Jembrana yang Diklaim Satu-satunya di Bali". detikbali. Diakses tanggal 2025-11-13.
- ^ Pranata, Gede Apgandhi. "Mengenal Kesenian Bumbung Kepyak, Pesona Budaya Khas Jembrana - Pikiran Rakyat Buleleng - Halaman 2". Pikiran Rakyat Buleleng. Diakses tanggal 2025-11-13.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


