Buka Luwur Kangjeng Sunan Kudus

Buka Luwur Kangjeng Sunan Kudus merupakan tradisi tahunan yang dilaksanakan oleh masyarakat di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, sebagai bentuk penghormatan terhadap Sunan Kudus, salah satu tokoh Wali Songo. Tradisi ini dilakukan setiap tanggal 10 Muharram dalam penanggalan Hijriyah, bertepatan dengan awal tahun baru Islam. Kegiatan inti dalam tradisi ini adalah penggantian kain penutup (luwur) pada makam Sunan Kudus. Selain sebagai praktik keagamaan, tradisi Buka Luwur juga berfungsi sebagai sarana pelestarian warisan budaya lokal dan ekspresi spiritual masyarakat dalam menunjukkan rasa hormat serta kecintaan mereka terhadap tokoh penyebar agama Islam tersebut. Pada tahun 2022, Buka Luwur Kangjeng Sunan Kudus ditetapkan Pemerintah sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb).
Latar belakang
Upacara Buka Luwur Kangjeng Sunan Kudus dilaksanakan secara turun-temurun di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Tradisi ini merupakan bagian dari upacara peringatan haul atau wafatnya Sunan Kudus, salah satu Wali Songo yang berperan penting dalam penyebaran Islam di Jawa. Meskipun tanggal wafat Sunan Kudus tidak diketahui secara pasti, para ulama dan masyarakat setempat sepakat menetapkan tanggal 10 Muharam (dalam penanggalan Jawa disebut 10 Suro) sebagai hari pelaksanaan puncak upacara Buka Luwur.[1] Tradisi ini ditandai dengan penggantian kain penutup makam (luwur) sebagai simbol penghormatan dan bentuk pelestarian nilai-nilai spiritual yang diwariskan oleh Sunan Kudus.[2]
Upacara Buka Luwur melibatkan sekitar seribu orang, dengan mayoritas peserta berasal dari Desa Kauman dan daerah sekitarnya. Kegiatan ini berlangsung selama sepuluh hari, dan mencapai puncaknya pada hari kesepuluh, bertepatan dengan tanggal 10 Muharram. Tradisi ini mencerminkan perpaduan antara nilai-nilai keagamaan, budaya lokal, serta penghormatan terhadap tokoh wali dalam sejarah Islam di Nusantara.[3]
Kepercayaan
Air Penjamasan Keris Sunan Kudus
Masyarakat memegang sejumlah kepercayaan yang berkaitan dengan tradisi ritual penjamasan keris dan upacara Buka Luwur Sunan Kudus. Kepercayaan tersebut berakar pada pengalaman kolektif dan warisan budaya yang telah berlangsung secara turun-temurun. Salah satu keyakinan yang berkembang adalah bahwa setiap kali berlangsung ritual penjamasan keris Sunan Kudus, kondisi cuaca selalu dalam keadaan sejuk, tidak panas dan tidak hujan. Fenomena ini dipercaya sebagai bukti dari kesaktian keris peninggalan Sunan Kudus. Oleh karena itu, masyarakat yang memiliki keris sering menantikan air sisa penjamasan tersebut untuk digunakan dalam mencuci keris mereka, dengan harapan memperoleh tuah atau berkah spiritual.
Upacara Buka Luwur
Luwur adalah kain mori bekas penutup makam Sunan Kudus, dipercaya oleh masyarakat sebagai perantara untuk memperoleh berkah dan rezeki. Kain ini memiliki nilai simbolik dan spiritual yang tinggi dalam tradisi keagamaan di Kudus.[4] Pembagian luwur dilakukan secara terbatas dan tidak dapat diperoleh oleh sembarang orang. Pada tanggal 10 Muharram, luwur berukuran kecil, sekitar 10–20 sentimeter, dibagikan kepada jemaah bersamaan dengan pembagian berkat berupa nasi dalam keranjang, dengan luwur diselipkan di dalamnya. Sementara itu, luwur berukuran lebih besar, sekitar 3–5 meter, dibagikan pada tanggal 12 Muharram.
Penerima luwur umumnya terdiri atas kalangan tertentu, seperti para kyai sepuh, tokoh masyarakat, warga yang secara resmi terdaftar sebagai panitia Upacara Buka Luwur Kangjeng Sunan Kudus, serta individu atau pihak yang dinilai berjasa dan memberikan kontribusi ikhlas dalam penyelenggaraan tradisi tersebut.[3]
Selain itu, kain luwur atau mori bekas yang sebelumnya digunakan untuk menutupi makam Sunan Kudus diyakini membawa berkah dan rezeki bagi pemiliknya. Kepercayaan ini muncul karena kain tersebut diyakini telah tersentuh oleh doa-doa, bacaan tahlil, dan ayat-ayat Al-Qur’an yang dilantunkan oleh para peziarah makam. Dalam praktik budaya masyarakat setempat, kain tersebut kerap dijadikan sebagai jimat atau benda bertuah.[5]
Ritual Buka Luwur juga melibatkan pembagian makanan berupa nasi bungkus, yang dikenal sebagai sego jangkrik atau nasi keranjang. Nasi ini diyakini memiliki khasiat khusus. Bagi yang mengonsumsinya, diyakini akan memperoleh kesehatan jasmani. Dalam praktik pertanian, nasi tersebut sering dikeringkan dan ditaburkan di lahan pertanian dengan harapan dapat meningkatkan kesuburan tanah. Bahkan, jika nasi tersebut ditumbuk hingga halus dan dicampurkan ke dalam pakan ternak, dipercaya dapat menyehatkan serta mempercepat pertumbuhan dan perkembangan hewan ternak. Kepercayaan-kepercayaan tersebut mencerminkan perpaduan antara nilai-nilai spiritual Islam dengan tradisi lokal yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Kudus.[3]
Referensi
- ^ "Tradisi Buka Luwur, Bentuk Penghormatan untuk Sunan Kudus dan Cinta Nabi". NU Online. Diakses tanggal 2025-06-17.
- ^ "Buka Luwur Kanjeng Sunan Kudus, 40 Ribu "Sega Berkat" Dibagikan" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-06-17.
- ^ a b c Fuadi, Akhlish (2013). "Upacara Buka Luwur Makam Sunan Kudus di Kabupaten Kudus". Diponegoro University.
- ^ Kudus 2021, Suhirman-TIPD IAIN. "Perkuat Kemitraan dan Kerjasama, IAIN Kudus Terlibat Aktif dalam Prosesi Buka Luwur Kanjeng Sunan Kudus". iainkudus.ac.id (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-06-17. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
- ^ "Buka Luwur Sunan Kudus Kembali Digelar" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-06-17.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


