Buka Cupu Kyai Panjala
Buka Cupu Kyai Panjala merupakan tradisi membaca tanda yang muncul pada lembaran-lembaran kain pembungkus Cupu Panjala yang dibuka oleh ahli waris dari keluarga trah Panjala, selanjutnya kondisi Cupu akan dilihat disaksikan oleh para pengunjung. Selama prosesi membuka kain pembungkus Cupu Panjala lembar demi lembar dilihat, dicermati baik kondisi kain atau ada tanda-tanda yang berupa bercak gambar atau adanya benda asing yang berada dalam lembaran-lembaran kain tersebut.[1]
Pengertian Cupu Kyai Panjala
Cupu Kyai Panjala merupakan sebuah benda magis berbentuk cawan kecil yang terdiri tiga macam cupu, yaitu Semar Tinandhu (cupu yang paling besar), Kalang Kinantang (cupu berukuran sedang), dan Kenthiwiri (cupu yang paling kecil). Cupu tersebut disimpan dalam peti kecil, kemudian dibalut ratusan lembar kain mori, lalu disimpan dalam senthong tertutup yang diyakini sebagai benda berpetuah. Kebudayaan yang menjadi identitas sosial masyarakat Desa Girisekar tersebut masih diyakini dan dilestarikan hingga saat ini. Setiap tahun, terdapat ritual untuk membuka lapis demi lapis kain yang membalut Cupu Kyai Panjala yang dilaksanakan pada hari Senin Wage malam Selasa Kliwon mangsa Kapapat bulan Jawa Dulkangidah, menjelang musim labuh atau musim bercocok tanam. Ritual dipimpin oleh juru kunci, Dwijo Sumarto, generasi ke-7 dari trah keturunan Kyai Sayek atau Kyai Panjala. Pada lembar kain mori tersebut ditemukan benda atau gambar yang akan dinarasikan oleh sang juru kunci dan dipercayai sebagai ramalan mengenai peristiwa yang akan terjadi satu tahun ke depan.[2]
Fungsi Upacara Buka Cupu Kyai Panjala
Fungsi dari Upacara Pembukaan Cupu Panjala sebagai media untuk menghubungkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa supaya diberikan berkah dan kesuburan, terkait dengan musim tanam tiba, upacara ini juga berfungsi sosial, yaitu sebagai kegiatan sosial kemasyarakatan untuk membina solidaritas antara masyarakat dalam berinteraksi.Selain itu, Upacara Pembukaan Cupu Panjala berfungsi sebagai tradisi yang telah mendarah daging dalam masyarakat Dusun Mendak-Girisekar, Kabupaten Gunungkidul dan diyakini sebagai ramalan jaman tersebut merupakan sebuah persepsi. memberikan petunjuk-petunjuk tentang kejadian yang akan terjadi, sehingga masyarakat dapat lebih waspada. Upacara Pembukaan Cupu Panjala dapat berfungsi sebagai sarana proyeksi masyarakat untuk alat pendidikan sebagai pengawas norma-norma. Sebuah pengalaman agar lebih bertindak hati-hati. Upacara adat Cupu Panjala mengajarkan nilai-nilai penting kepada diri sendiri dan masyarakat pemilik upacara ini. Nilai gotong royong diajakarkan sebagi pilar-pilar kehidupan bermasyarakat desa ini. Nilai-nilai edukasi berbasis ketuhanan diajarkan kepada masing-masing pribadi sebagai bagian pembelajaran dan pengingat diri sebagai makhluk sosio-religius.[3]
Refrensi
- ^ "Mengenal Adat Tradisi Upacara Buka". Nglanggeran. Diakses tanggal 2025-11-21.
- ^ "Eksistensi Cupu Panjala Di Tengah Realitas Global | Universitas Negeri Yogyakarta". www.uny.ac.id. Diakses tanggal 2025-11-21.
- ^ "Mengenal Adat Tradisi Upacara Buka". Nglanggeran. Diakses tanggal 2025-11-21.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


