Budidaya ubi jalar di Polinesia

Taputini, sebuah kultivar ubi jalar (kūmara) pra-Eropa dari Selandia Baru

Budidaya ubi jalar di Polinesia sebagai tanaman pangan bermula sekitar tahun 1000 M di Polinesia tengah. Tanaman ini menjadi bahan pangan umum di seluruh wilayah tersebut, terutama di Hawaii, Pulau Paskah, dan Selandia Baru, tempat tanaman ini menjadi makanan pokok. Menjelang abad ke-17 di Polinesia tengah, kultivar tradisional mulai digantikan oleh varietas yang lebih tangguh dan berukuran lebih besar dari benua Amerika (sebuah proses yang bermula belakangan di Selandia Baru, yakni pada awal abad ke-19). Banyak kultivar tradisional yang masih ditanam di penjuru Polinesia, tetapi keberadaannya langka dan tidak banyak dibudidayakan secara komersial.

Tidak diketahui secara pasti bagaimana ubi jalar mulai dibudidayakan di Pasifik. Beberapa cendekiawan berpendapat bahwa keberadaan ubi jalar di Polinesia merupakan bukti adanya kontak Polinesia dengan Amerika Selatan. Namun, sejumlah studi genetika terhadap kultivar tradisional menunjukkan bahwa ubi jalar pertama kali tersebar ke Polinesia sebelum adanya pemukiman manusia.

Sejarah

Tanaman ubi jalar (Ipomoea batatas) berasal dari Amerika, dan mulai dibudidayakan secara luas di Tengah dan Selatan menjelang tahun 2500 SM.[1] Ubi jalar diperkirakan pertama kali ditanam sebagai tanaman pangan di Polinesia tengah sekitar tahun 1000–1100 M, dengan bukti arkeologis paling awal berupa fragmen yang ditemukan di satu lokasi di Mangaia di selatan Kepulauan Cook, yang melalui penanggalan karbon diketahui berasal dari tahun 988 hingga 1155 M.[2][3] Selama beberapa abad berikutnya, ubi jalar menyebar hingga ke ujung-ujung Segitiga Polinesia: Pulau Paskah, Hawaii, dan Selandia Baru.[3] Ubi jalar mungkin menyebar begitu cepat di Pasifik karena para pekebun Polinesia memandang tanaman ini lebih unggul daripada spesies Dioscorea yang sudah ditanam sebelumnya, seperti ubi ungu.[4] Tanaman ini kemungkinan besar disebarkan antarpulau di Polinesia melalui stek batang rambat alih-alih menggunakan biji.[5]

Teori yang berlaku umum mengenai galur ubi jalar yang ditemukan di Polinesia adalah hipotesis tripartit yang dikembangkan pada tahun 1950-an dan 1960-an: bahwa galur asli kumara dibawa dari pantai barat Amerika Selatan sekitar tahun 1000 M, dan kemudian digantikan oleh dua galur yang diperkenalkan oleh kapal-kapal galeon Spanyol dan pedagang Portugis sekitar tahun 1500 M, yakni galur camote dari Amerika Tengah dan galur batata dari Karibia.[6][7][8] Ubi jalar menjadi makanan pokok utama, terutama di wilayah tepian kebudayaan Polinesia, seperti di Hawaii, Pulau Paskah, dan Selandia Baru pada masa kontak pra-Eropa, dibandingkan di Polinesia tengah.[3] Selama tahun 1600-an, kultivar ubi jalar dan labu air tradisional Polinesia mulai digantikan oleh varietas dari Amerika Utara.[9] Pada masa pengenalan kembali, ubi jalar telah hilang sepenuhnya dari banyak pulau di Polinesia tengah (seperti di Kepulauan Cook, kecuali Mangaia).[10]

Teori kontak pra-Columbus

Sejumlah peneliti menukil keberadaan ubi jalar di Pasifik sebagai bukti adanya kontak sporadis antara bangsa Polinesia dan penduduk asli Amerika.[11][12][13] Namun, tidak diketahui apakah ubi jalar masuk melalui kano Polinesia yang mencapai Amerika Selatan, atau melalui rakit Amerika Selatan yang menyambangi pulau-pulau Polinesia timur seperti Rapa Nui.[3][14] Terdapat pula kemungkinan bahwa tanaman ini berpindah tanpa kontak manusia, misalnya dengan hanyut ke arah barat menyeberangi lautan setelah tercecer dari muatan kapal.[15]

Tautan genetik, budaya, atau linguistik antara bangsa Polinesia dan Amerindian—seperti suku Chumash di California, suku Mapuche di Chili tengah dan selatan, serta suku Zenú, sebuah budaya pra-Columbus dari Kolombia—telah dihipotesiskan.[16] Ahli bahasa Belanda sekaligus pakar bahasa Amerindian, Willem Adelaar dan Pieter Muysken, mengemukakan bahwa kata untuk ubi jalar dimiliki bersama oleh bahasa-bahasa Polinesia dan bahasa-bahasa Amerika Selatan: Proto-Polinesia *kumala[17] (bandingkan dengan bahasa Rapa Nui kumara, bahasa Hawaii ʻuala,bahasa Māori kūmara) mungkin berkaitan dengan bahasa Quechua dan bahasa Aymara k'umar ~ k'umara. Adelaar dan Muysken menegaskan bahwa kemiripan kata untuk ubi jalar tersebut merupakan bukti adanya kontak insidental ataupun kontak sporadis antara Andes Tengah dan Polinesia.[18]

Teori penyebaran alami

Sejumlah peneliti mengemukakan bahwa ubi jalar mungkin telah ada di Polinesia ribuan tahun sebelum kedatangan manusia, setelah terbawa melalui penyebaran oleh burung atau rakit alami.[4] Sebuah analisis genetik tahun 2018 terhadap ubi jalar yang dikumpulkan dari Kepulauan Society oleh Joseph Banks selama pelayaran pertama James Cook pada tahun 1769 mendapati bahwa garis keturunan ini terpisah dari varietas Amerika Selatan setidaknya 111.500 tahun yang lalu.[19] Para penulis makalah tersebut juga berpendapat bahwa penyebaran alami sangat mungkin terjadi mengingat keberadaan Ipomoea littoralis dan Ipomoea tuboides di Pasifik dan Asia — spesies-spesies yang berkerabat dengan spesies Ipomoea Amerika yang memiliki morfologi biji serupa dengan ubi jalar.[19]

Pengenalan regional

Pengenalan ke Hawaii

Di Kepulauan Hawaii, catatan arkeologis paling awal mengenai ubi jalar (Hawaiian: ʻuala)[20] berasal dari sekitar tahun 1300 M, yang jejak-jejaknya ditemukan di lahan pertanian tradisional Kohala, Hawaii.[6] Ubi jalar kemungkinan besar diperkenalkan ke kepulauan ini pada masa belakangan, setelah para pemukim awal Polinesia tiba.[21] Ubi jalar dianggap tidak lebih unggul atau berharga dibandingkan tanaman lain di kepulauan tersebut, yaitu talas, namun tanaman ini umum dibudidayakan karena mampu tumbuh subur dalam kondisi lingkungan yang kurang mendukung, serta hanya membutuhkan waktu antara tiga hingga enam bulan untuk matang.[22]

Pengenalan ke Pulau Paskah

Pengenalan ubi jalar ke Pulau Paskah mungkin telah mendorong pembangunan pelataran ahu dan patung moai (gambar).

Ubi jalar (Rapa Nui: kumara)[23] diperkenalkan ke Pulau Paskah (Rapa Nui) sekitar tahun 1200–1300 M.[24] Berkat sifatnya yang tahan kekeringan, tanaman ini menggantikan ubi dan talas, serta menjadi makanan pokok di pulau tersebut dan ditanam di sepersepuluh dari total lahan di pulau itu.[25][24] Sebuah legenda tradisional Rapa Nui mengisahkan Hotu Matuꞌa, pemukim pertama yang melegenda di Rapa Nui, melakukan perjalanan ke pulau itu dan menanam ubi jalar, ubi, serta labu botol di dekat Orongo.[24]

Telah dihipotesiskan bahwa pengenalan ubi jalar ke pulau ini secara langsung mendorong pembangunan pelataran ahu dan patung moai, karena hasil panen yang melimpah memungkinkan penduduk pulau untuk mendedikasikan lebih banyak waktu pada kegiatan selain pertanian subsisten.[24] Pengenalan ubi jalar ke pulau ini mungkin juga telah memicu deforestasi Pulau Paskah, karena hutan palem yang dibakar menjadi sumber nutrisi yang diperlukan untuk pertumbuhan ubi jalar di tanah yang miskin hara.[26]

Pengenalan ke Selandia Baru

Ubi jalar (bahasa Māori standar: kūmara, dialek Māori Selatan: kūmera[9]) adalah tanaman pangan tradisional bagi bangsa Māori.[3] Bukti arkeologi menunjukkan bahwa kūmara tiba di Selandia Baru setelah para pelayar Polinesia asli bermukim di sana, kemungkinan antara tahun 1300 dan 1400.[3] Ketiadaan bukti arkeologi pada permukiman Māori yang ditinggalkan di Pulau Raoul dan Pulau Norfolk menyiratkan bahwa kūmara belum tersedia pada awal tahun 1300-an.[3] Sejarah lisan mengisahkan tentang pelayaran kembali ke Polinesia tengah untuk mengambil tanaman tersebut guna ditanam di Selandia Baru, namun sejarah lisan tersebut tidak sepakat mengenai satu pelayaran atau sumber tunggal: pengenalan kūmara dikaitkan dengan waka Aotea, Arawa, Horouta, Kurahaupō, Māhuhu, Māmari, Mātaatua, Tainui, dan Tokomaru, mungkin karena mana yang berkaitan dengan keberhasilan membawa kūmara ke Selandia Baru.[3] Salah satu riwayat melibatkan leluhur Tūhoe, Toi-kai-rākau, yang memperkenalkan kūmara kering (kao) kepada orang Māori setempat setelah ia melayarkan waka Horouta ke Selandia Baru. Penduduk setempat, yang sangat menyukai umbi tersebut, berlayar kembali dengan Horouta ke Polinesia tengah untuk mengambil tanaman itu agar dapat ditanam di Selandia Baru.[3] Ngāti Awa memiliki kisah serupa mengenai waka Mātaatua, yang dikisahkan dikirim untuk membawa pasokan kūmara ke Whakatāne.[3] Dalam tradisi Tainui dan Te Arawa, kūmara dibawa ke Selandia Baru oleh Whakaotirangi, seorang wanita yang membawa benih tanaman-tanaman penting dalam perjalanannya ke Selandia Baru setelah diculik oleh kepala suku Tama-te-kapua, sekitar tahun 1350 M.[27][28] Whakaotirangi bereksperimen dengan cara mengadaptasi penanaman kūmara di iklim yang lebih dingin, tempat umbi ini akan mengembangkan rasa asam yang tidak enak jika terpapar ibun.[29] Riwayat lain melibatkan Marama, istri muda Hoturoa di atas waka Tainui. Ia membawa tanaman kūmara dalam perjalanannya, namun setibanya di Aotearoa, ia tidak setia kepada Hoturoa dengan berselingkuh bersama seorang budak. Sebagai hukuman, tanaman kūmaranya berubah menjadi pōhue (Calystegia sepium) – gulma tradisional di ladang kūmara.[30]

Pada tahun 1880, ahli botani dan misionaris William Colenso mendata 48 varietas yang ditanam di Northland, Teluk Hawke, dan Pantai Timur.[10][31] Varietas-varietas tradisional ini memiliki beragam warna (merah, ungu, dan putih), bentuk (beberapa berbentuk silinder), dan tekstur kasar/halus yang berbeda.[31] Orang Māori Northland mendeskripsikan varietas berdaging merah dan berkulit merah yang disebut paikaraka sebagai varietas kūmara tertua kepada Colenso, sementara sumber-sumber dari iwi Te Arawa pada tahun 1940-an menyebut toroa-māhoe dan hutihuti sebagai varietas tertua.[31][32][33] Kūmara tidak berbiji di Selandia Baru karena faktor iklim, yang berarti mutasi pada tunas dan budidaya yang cermat terhadap tanaman ini kemungkinan besar memunculkan varietas-varietas baru tersebut.[10] Sebuah survei tahun 1955–1959 terhadap para petani Māori mengidentifikasi empat kultivar yang dianggap sebagai peninggalan pra-Eropa: taputini dan houhere (ditanam di Northland), serta dua varietas berkerabat dekat yang ditanam di seluruh Pulau Utara: rekamaroa dan hutihuti (rekamaroa dan hutihuti umum ditanam di kebun rumah orang Māori hingga tahun 1940-an).[33][34] Analisis DNA tahun 1997 terhadap varietas-varietas ini memastikan bahwa taputini, rekamaroa, dan hutihuti semuanya berasal dari masa pra-Eropa (houhere tidak diuji dalam studi tersebut).[35][36] Kultivar tradisional lainnya di luar daftar ini masih ada, seperti parapara (varietas yang digunakan untuk alasan pengobatan guna memberi makan lansia, bayi, dan orang sakit), paukena (digunakan untuk membuat kūmara kao), poporo, rekarawa, dan romanawa.[37]

Budidaya dan kegunaan

Hawaii

Sebuah kebun ʻuala tradisional di Kahoolawe di Kepulauan Hawaii

Di kepulauan Hawaii, ubi jalar biasanya ditanam di makaili (tanah aluvial berbatu),[38] serta di daerah gersang atau pesisir.[6] Banyak māla (lahan budidaya) ditanami campuran tebu () dan ubi jalar, dengan tebu yang ditanam berbaris di sepanjang dinding ladang batu sebagai penahan angin bagi tanaman ubi jalar yang tumbuh di antara barisan tersebut.[39] Ubi jalar sering kali ditanam dalam gundukan, dengan tanah yang diberi mulsa campuran batu dan tanaman.[39] Hama tikus menyerang tanaman ubi jalar selama musim hujan Hawaii (November hingga Maret), sementara wabah periodik ulat ngengat Sphingidae, ulat tanah, dan kumbang moncong akan sangat merusak tanaman.[39] Ubi jalar erat kaitannya dengan festival tahun baru Makahiki, tempat buah pertama hasil panen (kāmalui hou) dipersembahkan kepada para dewa, yang biasanya berupa ubi jalar dan talas.[22]

Menjelang pertengahan tahun 1800-an, budidaya ubi jalar tadah hujan tradisional di Hawaii terhenti akibat depopulasi dan kerusakan yang disebabkan oleh hewan ternak pemakan rumput yang didatangkan dari Barat.[39] Sejak awal tahun 1900-an, hama-hama mulai masuk ke kepulauan ini yang berdampak pada kemampuan petani untuk menanam ubi jalar di Hawaii, seperti Cylas formicarius (kumbang ubi jalar) dan Omphisa anastomosalis (penggerek batang ubi jalar). Dampaknya sedemikian rupa hingga para petani sering kali memilih untuk tidak menanam ubi jalar di lokasi yang sama selama dua musim berturut-turut.[39] Ubi jalar menjadi tanaman ekspor utama bagi Hawaii pada abad ke-20, meskipun sejak tahun 1990-an jumlah perkebunan telah menurun.[40]

Terdapat lebih dari 300 nama berbeda untuk varietas ubi jalar tradisional, dengan banyak nama yang kemungkinan merupakan sinonim untuk varietas yang sama.[20] Beberapa yang paling sering dikutip dalam etnografi dan sumber tradisional meliputi apo, huamoa, kawelo, likolehua, dan uahi-a-pele.[20] Huamoa adalah varietas yang digambarkan menyerupai telur, berbentuk bulat, dengan kulit putih dan daging umbi berwarna kuning.[20] Sebagian besar ubi jalar yang diproduksi di Hawaii adalah varietas impor modern, seperti varietas ungu Okinawa,[40] namun beberapa kultivar pusaka yang masih ditanam kemungkinan besar merupakan kultivar pra-Eropa, termasuk lanikeha, mohihi, dan kahanu ungu.[39][40]

Pulau Paskah

Penanaman ubi jalar biasanya dilakukan dua kali setahun, dari Januari hingga April dan Agustus hingga September.[41] Pemulsaan litik (mencampurkan bebatuan ke dalam tanah subur) diterapkan oleh para petani Rapa Nui tradisional guna menjaga kelembapan di ladang ubi jalar.[24][26] Tanaman biasanya ditumbuhkan dari stek yang diambil dari tanaman dewasa, dan membutuhkan waktu antara 120 hingga 180 hari untuk siap panen.[41] Akhir dari tahap awal ini melibatkan penimbunan tanah di atas tanaman.[41] Ubi jalar jarang disimpan di Rapa Nui, melainkan biasanya langsung dikonsumsi setelah dipanen.[41] Sesekali ubi jalar disimpan untuk keperluan festival atau upacara, dengan cara menjemur umbi berukuran besar di bawah sinar matahari, lalu menguburnya di dalam tanah hingga satu bulan.[41] Ubi jalar dikonsumsi dalam keadaan mentah ataupun dimasak.[24] Daun ubi jalar yang masih muda juga turut dikonsumsi.[41]

Selandia Baru

Budidaya tradisional

Barisan puke (gundukan tanah) tempat kūmara akan ditanam di Te Parapara di Taman Hamilton, Waikato
Rua kūmara, tempat penyimpanan ubi jalar tradisional, di Ruatahuna, Selandia Baru (difoto pada tahun 1930-an)

Bangsa Māori mengadaptasi metode budidaya kūmara untuk Selandia Baru, dengan mempelajari cara menumbuhkan tanaman baru dari umbi alih-alih dari pucuk batang, serta beradaptasi terhadap iklim musiman dengan menyimpan ubi jalar selama musim dingin dan menanamnya selama musim panas.[36] Kūmara dan hue (Lagenaria siceraria, atau labu botol) dapat dibudidayakan di sekitar 45% wilayah Selandia Baru, cakupan yang jauh lebih luas dibandingkan tanaman tradisional Polinesia lainnya yang dibawa ke kepulauan ini, seperti talas (Colocasia esculenta) dan aute (pohon murbei kertas). Di sebelah selatan Taranaki dan Teluk Hawke, kūmara merupakan tanaman pangan Polinesia yang dominan (hue dan talas lebih umum ditanam di wilayah yang lebih jauh ke utara).[3] Di Pulau Selatan, kūmara biasanya ditanam hingga sejauh selatan Semenanjung Banks.[36] Bangsa Māori berhasil menanam kūmara hingga sejauh selatan Otago pada tahun 1450-an, namun budidaya di sebelah selatan Canterbury terhenti sebelum kontak dengan bangsa Eropa, kemungkinan akibat perubahan iklim yang berkaitan dengan Zaman Es Kecil, atau pergolakan politik.[9] Umbi kūmara cenderung mengalami pembusukan akibat jamur ketika suhu harian turun di bawah 10 °C, namun hal ini mungkin dapat diatasi dengan penggunaan api internal dan bebatuan panas.[9]

Pada musim semi, mekarnya pohon kōwhai dan kicauan burung migran pīpīwharauroa (shining bronze cuckoo) menjadi penanda kapan ladang kūmara harus disiapkan,[42] namun waktu penanaman bervariasi setiap tahunnya, bergantung pada apakah musim dingin yang hebat diprediksi akan terjadi selama Matariki.[43] Posisi bintang-bintang dan saat daun-daun kūmara mulai layu di musim gugur merupakan pertanda hauhakenga, atau waktu untuk memanen hasil tanaman.[31][44] Māra kūmara (kebun ubi jalar) terdiri dari puke (gundukan tanah) yang disusun berbaris atau dalam pola tanam kuinkunks.[36] Kebun-kebun ini hanya dapat digunakan dalam waktu terbatas sebelum nutrisi tanah menjadi terlalu habis.[36] Bangsa Māori menerapkan rotasi tanaman untuk menanam kūmara, di mana sebuah māra kūmara akan digunakan selama 2–3 tahun sebelum dibakar dan dibiarkan gersang (bera).[42] Akan tetapi, rotasi tanaman jauh lebih sulit dibandingkan di bagian lain Polinesia, dikarenakan lilitan Pteridium esculentum (rarauhe, atau pakis resi) yang mengambil alih lahan pertanian yang sedang diberakan.[36] Tanah lempung berpasir ringan atau tanah vulkanik adalah yang paling cocok untuk menanam kūmara.[38][36] Māra kūmara biasanya ditemukan di lahan miring yang menghadap ke utara, yang menarik lebih sedikit kelembapan dan lebih terlindung dari angin selatan yang dingin.[10] Kebun juga ditempatkan menghadap ke utara atau timur laut karena ini adalah arah Hawaiki (tanah air mitos bangsa Māori).[42] Lapisan pasir pantai, potongan rumput, dan kerikil terkadang digunakan untuk menanam kūmara pada bulan Agustus, dengan isolasi tersebut membantu umbi bertunas lebih cepat.[45][36] Kerikil terkadang disebarkan di bawah daun kūmara untuk melindungi tanaman, atau dicampurkan ke dalam tanah untuk menggemburkan tanah yang keras.[38]

Tanaman sering kali rentan dimakan oleh mandar besar (pūkeko) dan ulat dari Agrius convolvuli (hīhue, atau ngengat elang ubi jalar).[36] Untuk mengatasi hal ini, pagar dibangun di sekeliling kebun untuk menghalau pūkeko, sementara ulat disingkirkan dengan tangan, diasapi menggunakan getah kauri atau daun kawakawa, atau dengan memancing camar jinak untuk memakannya.[36][42] Tanaman yang lebih muda sering dimakan oleh kiore (tikus Polinesia), yang ditakut-takuti oleh para pria tua menggunakan kerincing kulit kerang.[42]

Setelah panen, umbi-umbi ditempatkan di dalam rua kūmara; lubang bawah tanah dengan atap persegi panjang, yang disterilkan dengan api dan ditutup dengan pintu kayu kecil untuk mencegah masuknya hama.[36] Penyimpanan ini menjadi umum di seluruh Aotearoa setelah tahun 1500 M,[9] dan kendali atas rua kūmara merupakan pembeda status sosial yang penting dalam masyarakat Māori klasik.[46] Rua kūmara ditempatkan di lereng atau tempat lain dengan drainase yang baik. Kūmara diletakkan di rak-rak yang dipahat pada dinding lubang, serta diperiksa secara teratur untuk melihat adanya pembusukan dan diputar posisinya untuk memastikan umbi tetap kering.[47] Rua kūmara hanya diisi pada hari-hari yang kering dan cerah.[42] Lubang-lubang tersebut biasanya digunakan kembali, dengan tiang dan atap baru ditambahkan pada struktur lama seiring kerusakan yang terjadi.[48] Namun, di Teluk Plenty, lubang kūmara sering kali hanya digunakan untuk satu musim dan ditimbun kembali setelahnya, dikarenakan tanah tefra yang lunak.[48]

Metode konsumsi tradisional meliputi penjemuran umbi yang lebih kecil (kao), diparut (roroi kūmara), dimasak dalam hāngī, dipanggang dan dimakan dengan cairan dari kina (bulu babi), atau direbus.[36] Kōtero adalah kūmara fermentasi, sering kali berupa kūmara yang mulai membusuk selama penyimpanan, yang memiliki tampilan keriput namun tetap manis.[47]

Sejak tahun 2010, kūmara telah ditanam menggunakan metode tradisional di sebuah kebun bernama Te Parapara di Taman Hamilton.[49][50]

Makna sosial dan keagamaan

Asal-usul kūmara juga dijelaskan melalui tradisi kosmologis Māori. Rongo-māui (sebuah bintang di rasi Lyra), adalah suami dari Pani-Tinaku dan adik laki-laki Whānui (bintang Vega). Keponakan Pani-tinaku mengejek Rongo-māui karena tidak memancing dan menyediakan makanan untuk keluarganya. Rongo-māui memutuskan untuk naik ke langit, dan meminta sejumlah kūmara dari kayangan kepada Whānui. Whānui menolak, namun Rongo-māui bersembunyi dan mencuri kūmara tersebut. Rongo-māui kemudian menghamili istrinya, dan Pani-tinaku melahirkan wujud duniawi dari kūmara: nehutai, pātea, waihā, pio, matatū, pāuārangi, toroa-māhoe, anurangi, dan aka-kura (semuanya adalah varietas tradisional kūmara). Ia diminta oleh Rongo-māui untuk memasak kūmara itu, guna menghilangkan tapu samawi dari makanan tersebut. Keponakan Pani-tinaku, Māui, mengetahui sumber kūmara tersebut, yang menyebabkan Pani-tinaku melarikan diri ke dunia bawah. Putri bungsunya, Hine-mata-iti, menjadi kiore (tikus Polinesia yang mencuri kūmara). Whānui memergoki manusia sedang berkebun kūmara, dan menyadari bahwa Rongo-māui telah mencuri kūmara tersebut; sebagai pembalasan, Whānui menciptakan anuhe, toronū, dan moko, yang setiap tahun turun bagaikan hujan sebagai ulat ngengat elang yang menyerang kūmara.[36][51][30]

Kūmara diasosiasikan dengan Rongo-mā-Tāne,[36] dewa (atua) pertanian dan perdamaian. Patung-patung kecil (taumata atua) yang melambangkan Rongo dan atua kiato (pasak ukir) ditempatkan di sepanjang ladang kūmara, terkadang dihiasi dengan hiasan yang terbuat dari bulu burung.[44][42] Mengingat pentingnya tanaman kūmara bagi bangsa Māori, penanamannya dikaitkan dengan ritual,[42] di mana penanaman dan panen tahunan kūmara merupakan reka ulang kisah Rongo-māui.[51] Hari pertama penanaman melibatkan para penanam yang tiba pagi-pagi sekali, dan seorang tohunga akan memanjatkan karakia kepada Rongo-mā-Tāne, lalu menanam kūmara suci secara terpisah dari ladang utama.[44] Setelah karakia, kaum pria akan menggunakan untuk mengolah ladang, diikuti oleh kaum wanita dan anak-anak, yang akan menggunakan patupatu dan timo untuk memecah tanah lebih lanjut.[42] Setelah penanaman selesai, tapu diberlakukan di ladang tersebut, sehingga hanya penyiang gulma dan pembasmi hama yang diperbolehkan berada di ladang.[44] Selama masa panen, kūmara pertama musim itu dipersembahkan kepada atua dalam sebuah upacara.[42][44] Setelah panen kūmara, pesta panen yang meriah digelar (dikenal sebagai hākari atau kaihaukai).[44][31] Selama kaihaukai di Pulau Selatan, berbagai kultivar kūmara yang diawetkan saling dipertukarkan antar-hapū.[9]

Wilayah-wilayah yang paling cocok untuk menanam kūmara (tanah berpasir ringan, di area menghadap utara yang bebas ibun) sering diperebutkan antar-iwi.[52] Selama periode klasik sejarah Māori ketika pertanian menjadi makin umum, wilayah-wilayah tempat kūmara dapat tumbuh paling subur sering kali diasosiasikan dengan lebih banyak pā dan kepadatan populasi yang lebih tinggi.[52]

Budidaya modern

Owairaka Red, sebuah varietas yang diciptakan oleh Fay dan Joe Gock pada tahun 1950-an, adalah kultivar ubi jalar yang paling umum ditanam di Selandia Baru.

Kūmara menjadi tanaman yang kurang penting seiring dengan diperkenalkannya kentang pada tahun 1780-an oleh para pelaut Barat.[53][54] Kentang dapat tumbuh di iklim yang lebih dingin dan dianggap noa (tidak tapu, atau tidak memerlukan ritual sakral), sehingga dapat ditanam oleh perempuan atau budak.[54] Kultivar tradisional kūmara terus ditanam, namun sebagian besar tergantikan pada tahun 1800-an oleh varietas Amerika yang dibawa oleh kapal-kapal pemburu paus Barat.[55] Sekitar tahun 1819, seorang pemburu paus Amerika memperkenalkan varietas Amerika Utara yang berukuran lebih besar daripada varietas tradisional kepada orang Māori di Teluk Plenty; varietas ini kemudian dikenal sebagai merikana (Amerika).[34][54] Varietas waina (tanaman merambat) diperkenalkan pada tahun 1850-an oleh seorang pemburu paus yang datang dari Rarotonga.[34] Varietas ini diperbanyak melalui stek batang rambat, alih-alih menggunakan metode tradisional Māori yang menanam umbi (dan inilah asal mula nama varietas tersebut).[34]

Varietas-varietas yang merupakan turunan dari yang dibawa oleh kapal pemburu paus membentuk dasar bagi tanaman komersial modern.[36] Sejak tahun 1947 hingga 1950-an, busuk hitam (Ceratocystis fimbriata) mulai menyerang tanaman kūmara di Pulau Utara bagian utara.[56] Pekebun Tionghoa-Selandia Baru, Fay Gock dan Joe Gock, mengembangkan varietas kūmara yang tahan penyakit dari bentuk mutan waina[57] di kebun pasar mereka dekat Pukaki Inlet di Māngere pada tahun 1950-an. Varietas baru tersebut, yang dinamai Owairaka Red, dirilis secara komersial pada tahun 1954.[58] Keluarga Gock menyumbangkan stok varietas baru yang disebut Owairaka Red tersebut ke pertanian-pertanian di daerah penghasil utama kūmara di Selandia Baru di sekitar Dargaville dan Ruawai pada tahun 1960-an, sehingga menyelamatkan tanaman tersebut dari kerugian akibat busuk hitam.[58][59]

Pada abad ke-21, sebagian besar kūmara komersial ditanam di Northland.[36] Pada tahun 2020, terdapat 1.600 hektare (4.000 ekar) lahan yang ditanami kūmara, yang memproduksi 24.000 ton per tahun.[60] Tiga varietas utamanya adalah Owairaka Red, Toka Toka Gold, dan Beauregard (oranye), dengan Owairaka Red sebagai yang paling umum.[61][62] Toka Toka Gold diperkenalkan oleh Kementerian Pertanian dan Perikanan pada tahun 1960-an dari sumber yang tidak diketahui,[35] dan tersedia secara komersial pada tahun 1972.[63] Namanya diambil dari puncak Tokatoka di dekat Dargaville.[62] Beauregard, yang dikembangkan di Universitas Negeri Louisiana pada tahun 1987, didatangkan ke Selandia Baru dari AS pada tahun 1991.[57][64] Dua varietas baru dirilis secara komersial oleh Plant & Food Research pada tahun 2014: Purple Dawn (kulit ungu dan daging ungu), serta Orange Sunset (kulit ungu dengan daging oranye dan ungu).[62]

Referensi

  1. ^ Zhang, D. P.; Ghislain, M.; Huamán, Z.; Cervantes, J. C.; Carey, E. (1997). "AFLP assessment of sweetpotato genetic diversity in four tropical American regions". CIP Program Report. 1998: 303–310.
  2. ^ Hather, Jon; Kirch, P. V. (1991). "Prehistoric sweet potato (Ipomoea batatas) from Mangaia Island, Central Polynesia". Antiquity. 65 (249): 887–893. doi:10.1017/S0003598X00080613. ISSN 0003-598X. S2CID 162750984.
  3. ^ a b c d e f g h i j k Anderson, A; Petchey, F (2020). "The transfer of kumara ('Ipomoea batatas') from East to South Polynesia and its dispersal in New Zealand". The Journal of the Polynesian Society. 129 (4): 351–381. doi:10.15286/jps.129.4.351-382. S2CID 234436359.
  4. ^ a b Barber, Ian G. (2012). "A fast yam to Polynesia: New thinking on the problem of the American sweet potato in Oceania". Rapa Nui Journal. 26 (1): 31–42.
  5. ^ "Batatas, Not Potatoes". Botgard.ucla.edu. Diarsipkan dari asli tanggal 19 May 2008. Diakses tanggal 12 September 2010.
  6. ^ a b c Winnicki, Elizabeth; Kagawa-Viviani, Aurora; Perez, Kauahi; Radovich, Theodore; Kantar, Michael (2021). "Characterizing the Diversity of Hawai'i Sweet Potatoes (Ipomoea batatas [L.] Lam.)". Economic Botany. 75 (1): 48–62. Bibcode:2021EcBot..75...48W. doi:10.1007/s12231-020-09511-2. S2CID 234165494.
  7. ^ Yen, Douglas E. (1961). Sweet-potato variation and its relation to human migration in the Pacific. Pacific Science Association.
  8. ^ Barrau, Jacques (1957). L'énigme de la patate douce en Océanie.
  9. ^ a b c d e f Barber, Ian G.; Higham, Thomas F. G. (14 April 2021). "Archaeological science meets Māori knowledge to model pre-Columbian sweet potato (Ipomoea batatas) dispersal to Polynesia's southernmost habitable margins". PLOS ONE. 16 (4): –0247643. Bibcode:2021PLoSO..1647643B. doi:10.1371/journal.pone.0247643. ISSN 1932-6203. PMC 8046222. PMID 33852587.
  10. ^ a b c d Furey, Louise (2006). "Maori Gardening: An Archaeological Perspective" (PDF). An Archaeological Perspective. Department of Conservation. Diakses tanggal 17 June 2021.
  11. ^ Jones, Terry L.; Klar, Kathryn A. (July 2005). "Diffusionism Reconsidered: Linguistic and Archaeological Evidence for Prehistoric Polynesian Contact with Southern California". American Antiquity (JSTOR). 70 (3): 457–484. doi:10.2307/40035309. JSTOR 40035309. S2CID 161301055.
  12. ^ van Tilburg, Jo Anne (1994). Easter Island: Archaeology, ecology, and culture. Washington, D.C.: Smithsonian Institution Press.
  13. ^ Bassett, Gordon; et al. "Gardening at the Edge: Documenting the limits of tropical Polynesian kumara horticulture in southern New Zealand" (PDF). New Zealand: University of Canterbury. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 24 July 2011.
  14. ^ Langdon, Robert (2001). "The Bamboo Raft as a Key to the Introduction of the Sweet Potato in Prehistoric Polynesia". The Journal of Pacific History. 36 (1): 51–76. doi:10.1080/00223340123312.
  15. ^ Montenegro, Álvaro; Avis, Chris; Weaver, Andrew (2008). "Modeling the prehistoric arrival of the sweet potato in Polynesia". Journal of Archaeological Science. 35 (2): 355–367. Bibcode:2008JArSc..35..355M. doi:10.1016/j.jas.2007.04.004.
  16. ^ Ioannidis, Alexander G.; Blanco-Portillo, Javier; Sandoval, Karla; Hagelberg, Erika; Miquel-Poblete, Juan Francisco; Moreno-Mayar, J. Víctor; Rodríguez-Rodríguez, Juan Esteban; Quinto-Cortés, Consuelo D.; Auckland, Kathryn; Parks, Tom; Robson, Kathryn; Hill, Adrian V. S.; Avila-Arcos, María C.; Sockell, Alexandra; Homburger, Julian R.; Wojcik, Genevieve L.; Barnes, Kathleen C.; Herrera, Luisa; Berríos, Soledad; Acuña, Mónica; Llop, Elena; Eng, Celeste; Huntsman, Scott; Burchard, Esteban G.; Gignoux, Christopher R.; Cifuentes, Lucía; Verdugo, Ricardo A.; Moraga, Mauricio; Mentzer, Alexander J.; Bustamante, Carlos D.; Moreno-Estrada, Andrés (1 July 2020). "Native American gene flow into Polynesia predating Easter Island settlement". Nature. 583 (7817): 572–577. Bibcode:2020Natur.583..572I. doi:10.1038/s41586-020-2487-2. ISSN 1476-4687. PMC 8939867. PMID 32641827. S2CID 220420232.
  17. ^ Greenhill, Simon J.; Clark, Ross; Biggs, Bruce (2010). "Entries for KUMALA.1 [LO] Sweet Potato (Ipomoea)". POLLEX-Online: The Polynesian Lexicon Project Online. Diarsipkan dari asli tanggal 8 February 2013. Diakses tanggal 16 July 2013.
  18. ^ Adelaar, Willem F. H.; Muysekn, Pieter C. (10 June 2004). "Genetic relations of South American Indian languages". The Languages of the Andes. Cambridge University Press. hlm. 41. ISBN 978-1-139-45112-3.
  19. ^ a b Muñoz-Rodríguez, Pablo; Carruthers, Tom; Wood, John R. I.; Williams, Bethany R. M.; Weitemier, Kevin; Kronmiller, Brent; Ellis, David; Anglin, Noelle L.; Longway, Lucas; Harris, Stephen A.; Rausher, Mark D.; Kelly, Steven; Liston, Aaron; Scotland, Robert W. (2018). "Reconciling conflicting phylogenies in the origin of sweet potato and dispersal to Polynesia". Current Biology. 28 (8): 1246–1256.e12. Bibcode:2018CBio...28E1246M. doi:10.1016/j.cub.2018.03.020. hdl:10568/92130. ISSN 0960-9822. PMID 29657119.
  20. ^ a b c d Kagawa-Viviani, Aurora (2016). "Untangling 'Uala: Toward re-diversifying and re-placing sweet potato". E Kūpaku Ka 'Āina – The Hawaii. Land Restoration Institute. Diakses tanggal 4 June 2021.
  21. ^ Ladefoged, Thegn N.; Graves, Michael W.; Coil, James H. (2005). "The introduction of sweet potato in Polynesia: early remains in Hawai'i". The Journal of the Polynesian Society. 114 (4): 359–373.
  22. ^ a b Hommon, Robert J. (2013). The ancient Hawaiian state: origins of a political society. Oxford University Press. ISBN 9780199916122.
  23. ^ Mieth, Andreas; Bork, Hans-Rudolf; Feeser, Ingo (2002). "Prehistoric and recent land use effects on Poike peninsula, Easter Island (Rapa Nui)". Rapa Nui Journal: Journal of the Easter Island Foundation. 16 (2): 6.
  24. ^ a b c d e f Wallin, Paul; Stevenson, C. M.; Ladefoged, T. N. (2005). "Sweet potato production on Rapa Nui". Dalam C. Ballard; P. Brown; R. M. Bourke; T. Harwood (ed.). The sweet potato in Oceania: a reappraisal. University of Pittsburgh, University of Sydney. hlm. 85–88. ISBN 0-945428-13-8.
  25. ^ Valentí, Rull (2019). "Human discovery and settlement of the remote Easter Island (SE Pacific)". Quaternary. 2 (2): 15. doi:10.3390/quat2020015. hdl:10261/185032.
  26. ^ a b Hunt, Terry; Lipo, Carl (1 January 2013). "The Human Transformation of Rapa Nui (Easter Island, Pacific Ocean)". Biodiversity and Societies in the Pacific Islands. hlm. 167–184.
  27. ^ Taonui, Rāwiri (8 February 2005). "Canoe traditions – Te Arawa and Tainui: Whakaotirangi". Te Ara – the Encyclopedia of New Zealand (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 27 April 2021.
  28. ^ Gordon-Burns, Diane; Taonui, Rawiri (2011). "Whakaotirangi : a canoe tradition". He Pukenga Korero (dalam bahasa Inggris). 10 (2): 10–19. Wikidata Q106637945.
  29. ^ "Whakaotirangi". Royal Society Te Apārangi. Diakses tanggal 27 April 2021.
  30. ^ a b Roberts, Mere; Haami, Brad; Benton, Richard; Satterfield, Terre; Finucane, Melissa L; Henare, Mark; Henare, Manuka (2004). "Whakapapa as a Māori mental construct: Some implications for the debate over genetic modification of organisms". The Contemporary Pacific: 1–28. ISSN 1043-898X.
  31. ^ a b c d e Colenso, William (1880). "On the vegetable food of the ancient New Zealanders before Cook's visit". Transactions and Proceedings of the Royal Society of New Zealand. 13: 3–38.
  32. ^ Macnab, J. W. (1969). "Sweet potatoes and Maori terraces in the Wellington area". The Journal of the Polynesian Society. 78 (1): 83–111. ISSN 0032-4000.
  33. ^ a b Tapsell, Enid (1947). "Original kumara". The Journal of the Polynesian Society. 56 (4): 325–332. ISSN 0032-4000.
  34. ^ a b c d Yen, D. E. (1963). "The New Zealand Kumara or Sweet Potato". Economic Botany. 17 (1): 31–45. Bibcode:1963EcBot..17...31Y. doi:10.1007/BF02985351. S2CID 32823869.
  35. ^ a b Harvey, Catherine F.; Gill, Geoffrey P.; Crossman, Catherine; Fraser, Lena G. (1997). "Assessing relationships of kumara cultivars by RAPD analysis". New Zealand Journal of Botany. 35 (4): 479–485. Bibcode:1997NZJB...35..479H. doi:10.1080/0028825X.1987.10410171.
  36. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p Adds, Peter (24 November 2008). "Kūmara". Te Ara – the Encyclopedia of New Zealand. Ministry for Culture and Heritage Te Manatu Taonga. Diakses tanggal 10 June 2021.
  37. ^ "Te Reka O Te Kai: Maara Kai Practical Guide" (PDF). Te Waka Kai Ora. 2010. Diakses tanggal 23 June 2021.
  38. ^ a b c Barber, Ian (1 March 2010). "Diffusion or innovation? Explaining lithic agronomy on the southern Polynesian margins". World Archaeology. 42 (1): 74–89. doi:10.1080/00438240903429755. ISSN 0043-8243. S2CID 128743972.
  39. ^ a b c d e f Marshall, Kehaulani; Koseff, Chloe; Roberts, Amber L; Lindsey, Ala; Kagawa-Viviani, Aurora K; Lincoln, Noa Kekuewa; Vitousek, Peter M (2017). "Restoring people and productivity to Puanui: challenges and opportunities in the restoration of an intensive rain-fed Hawaiian field system". Ecology and Society. 22 (2). doi:10.5751/ES-09170-220223. ISSN 1708-3087.
  40. ^ a b c Anderson, Todd (2020). Exploration of the Phenotypic Variation in Hawaiian Heritage Sweet Potato (PDF) (MSc). University of Hawaiʻi at Mānoa.
  41. ^ a b c d e f Louwagie, Geertrui; Langohr, Roger (2016). "Perspectives on traditional agriculture from Rapa Nui". Dalam Timothy P Denham; José Iriarte; Luc Vrydaghs (ed.). Rethinking Agriculture. Routledge. hlm. 157–174. ISBN 978-1-315-42101-8.
  42. ^ a b c d e f g h i j Fiso, Monique (2020). Hiakai: Modern Māori Cuisine. Penguin. ISBN 9780143772606.
  43. ^ Meredith, Paul (12 June 2006). "Matariki – Māori New Year - Cycles of life and death". Te Ara – the Encyclopedia of New Zealand. Ministry for Culture and Heritage Te Manatu Taonga. Diarsipkan dari asli tanggal 17 June 2013. Diakses tanggal 19 June 2021.
  44. ^ a b c d e f "Kumaras and Kumara Magic". Te Ao Hou: 36–39. December 1962.
  45. ^ Fox, Aileen; Cassels, Richard (1983). "Excavations at Aotea, Waikato, 1972–75". Records of the Auckland Institute and Museum (dalam bahasa Inggris). 20: 65–106. ISSN 0067-0464. JSTOR 42906516. Wikidata Q58677531.
  46. ^ Law, RG (1999). "Pits long, large and prestigious: recognition of varieties of Maori kumara storage pits in northern New Zealand". New Zealand Journal of Archaeology. 21: 29–45.
  47. ^ a b Royal, Charles; Kaka-Scott, Jenny (5 September 2013). "Māori foods – kai Māori – Traditional cooking and preserving". Te Ara – the Encyclopedia of New Zealand. Ministry for Culture and Heritage Te Manatu Taonga. Diakses tanggal 17 June 2021.
  48. ^ a b Furey, Louise; Emmitt, Joshua; Wallace, Roderick (2017). "Matakawau Stingray Point Pa Excavation, Ahuahu Great Mercury Island 1955–56". Papahou: Records of the Auckland Museum (dalam bahasa Inggris). 52: 39–57. doi:10.32912/RAM.2018.52.3. ISSN 1174-9202. JSTOR 90016661. Wikidata Q104815050.
  49. ^ Garcia, Maryana (16 December 2020). "Milestone reached for country's only traditional Māori garden". Stuff. Diakses tanggal 8 July 2021.
  50. ^ "Te Parapara Garden". Hamilton Gardens. Diakses tanggal 8 July 2021.
  51. ^ a b Roberts, Mere (2013). "Ways of seeing: Whakapapa". Sites: A Journal of Social Anthropology and Cultural Studies. 10 (1): 93–120. doi:10.11157/sites-vol10iss1id236. ISSN 1179-0237.
  52. ^ a b Ballara, Angela (2003). "Māori, Pacific and Polynesian Warfare in Recent Literature". Taua: 'musket wars', 'land wars' or tikanga?: warfare in Maori society in the early nineteenth century. Auckland: Penguin. hlm. 53–54. ISBN 9780143018896.
  53. ^ Savage, G. P.; Bolitho, K. M. (1993). Kumara – a traditional food for Maori. Vol. 18. Nutrition Society of New Zealand. hlm. 19.
  54. ^ a b c Petrie, Hazel (24 November 2008). "Kai Pākehā – introduced foods". Te Ara – the Encyclopedia of New Zealand. Ministry for Culture and Heritage Te Manatu Taonga. Diakses tanggal 17 June 2021.
  55. ^ Collins, Hugh (9 May 2017). "Rare kumara flower discovered in Freemans Bay garden". Stuff.co.nz. Diakses tanggal 9 June 2021.
  56. ^ Slade, D. A. (1960). "Black rot an important disease of kumaras". New Zealand Journal of Agriculture. 100 (4): 375. Diakses tanggal 18 July 2021 – via Papers Past.
  57. ^ a b Lewthwaite, S. L.; Fletcher, P. J.; Fletcher, J. D.; Triggs, C. M. (2011). "Cultivar decline in sweetpotato (Ipomoea batatas)". New Zealand Plant Protection. 64: 160–167. doi:10.30843/nzpp.2011.64.5976.
  58. ^ a b Lee, Lily (18 April 2016). "The Joe Gock Story". Auckland Zhong Shan Clan Association. Diakses tanggal 24 December 2018.
  59. ^ Wong, Gilbert (8 January 2019). "'Saviour of the kumara' dies, aged 85". Newsroom. Diakses tanggal 25 April 2021.
  60. ^ "Fresh Facts: New Zealand Horticulture" (PDF). Plant & Food Research. 2020. ISSN 1177-2190. Diakses tanggal 20 January 2022.
  61. ^ Collins, Hugh (1 February 2007). "Kumara claim becomes hot potato". NZ Herald. Diakses tanggal 17 June 2021.
  62. ^ a b c Cui, Rongbin; Zhu, Fan (2019). "Physicochemical and functional properties of sweetpotato flour". Journal of the Science of Food and Agriculture. 99 (10): 4624–4634. Bibcode:2019JSFA...99.4624C. doi:10.1002/jsfa.9702. ISSN 0022-5142. PMID 30895624. S2CID 195662071.
  63. ^ Lewthwaite, SL (2005). Sweetpotato products in a modern world: the New Zealand experience. II International Symposium on Sweetpotato and Cassava: Innovative Technologies for Commercialization 703. hlm. 31–38. doi:10.17660/actahortic.2006.703.2. ISBN 90-6605-387-9.
  64. ^ Rolston, LH; Clark, CA; Cannon, JM; Randle, WM; Riley, EG (1987). "Beauregard sweet potato". HortScience. 22 (6): 1338–1339. doi:10.21273/HORTSCI.22.6.1338. ISSN 0018-5345. S2CID 89381179.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement