Budaya Komering

Sistem Kekerabatan

Gotong Royong

Masyarakat Komering secara tradisional hidup dalam suasana komunal atau kekeluargaan dan mengedepankan gotong royong dalam pelbagai bidang kehidupan. Dalam bahasa Komering, gotong royong secara umum disebut sakai sambai. Namun, terdapat istilah khusus bagi gotong royong yang diadakan pada saat-saat tertentu saja. Gotong royong saat ada acara pernikahan disebut mumpung. Ada pun bubatok merujuk pada gotong royong yang berkaitan dengan pertanian seperti mengerjakan sawah atau kebun. Saat terjadi musibah atau kedukaan, orang-orang akan bergotong royong, yang dikenal sebagai bujugjug.

Hari Besar Keagamaan

Masyarakat Komering menyambut bulan Ramadan dengantradisi nyambuk yang terdiri dari enam rangkaian. Keenam rangkaian nyambuk meliputi ngunjungi, bulimau, kusi kitkit, baban, ghamu, dan bugoghok. Ngunjungi adalah yang terawal dilakukan. Masyarakat akan melakukan ziarah kubur dan membersihkan makam keluarga besar. Hal ini diiikuti dengan proses bulimau atauy membersihkan diri secara lahiriah, seperti memotong atau merapikan rambut, cambang, janggut, dan kumis bagi kaum pria; memotong dan merapikan kuku; membersihkan telinga; serta menyikat gigi dan berkumur. Proses ini juga meliputi kegiatan bebersih seperangkat alat ibadah seperti sajadah, sarung, peci, mukena, dan sebagainya. Area pekarangan rumah juga dibersihkan sebagai bentuk penghormatan akan datangnya bulan puasa. Kegiatan bebersih lingkungan ini dikenal sebagai kusi kitkit.

Rangkaian nyambuk berikutnya berkaitan dengan hubungan persaudaraan. Apabila ngunjungi adalah menziarahi saudara yang sudah berpulang, maka baban adalah silaturrahmi yang disertai denmgan memberikan bingkisan sesuai kemampuan kepada orang tua, mertua, maupun kerabat lain yang dituakan. Setelah keempat rangkaian selesai, barulah keluarga dapat fokus pada persiapan bahan makanan (ghamu) dan memasak serta menghidangkan makanan pada sahur hari pertama puasa (bugoghok). Bahan makanan yang umum dipersiapkan sebagai stok menyambut Ramadan meliputi kacang-kacangan, rempah-rempah, minyak goreng, gula, beras, kopi, dan berbagai olahan ikan. Stok berupa daging-dagingan, umumnya ayam, dipersiapkan dengan cara disembelih sendiri.

Kemudian, pada saat Idulfitri atau lebaran, ada tradisi buantak, yaitu saling berkirim atau bertukar makanan antartetangga. Makanan yang umum di-buantak adalah ketupat (lontong) dan gulai-nya. Ciri khas buantak adalah penggunaan talam bulat berbahan suasa atau kuningan sebagai tatakan khusus untuk ketupat dan gulai yang akan dikirimkan ke tetangga. Talam itu umumnya dialasi dulu dengan kain berhias berupa tenun yang disebut pandalakmak, baru kemudian piring dan mangkok ditata, sebelum akhirnya ditutup dengan tudung saji yang dilapisi tualak, semacam kain lapis berhias yang mirik pandalakmak.

Pada 2 September 2023, tradisi sidokah balaq dari Desa Negeri Ratu, Kabupaten OKU Timur ditetapkan menjadi warisan budaya tak benda Indonesia, sehingga menjadikan OKU Timur kini memiliki tiga warisan budaya tak benda. Sidokah balaq diadakan setiap tanggal 10 Muharram sebagai bentuk rasa syukur atas karunia rezeki dan kesehatan yang dilimpahkan Allah kepada masyarakat. Sidokah balaq disebut sebagai peninggalan leluhur Komering, khususnya Marga Bunga Mayang yang diklaim sebagai keturunan Skala Berak.[1]

Sistem Kepercayaan

Kematian

Peradaban

Pernikahan

Tradisi Upacara Adat Pernikahan Suku Komering memiliki empat jenis, yaitu:

Rasan Tuha Angkat Gawi

  • Tahapan Dalam Fase Masa Pendekatan

Dalam fase masa pendekatan ditradisi rasan Tuha angkat gawi Suku Komering, terdiri dari beberapa tahapan yang antara lain:

  1. Tadalan
  2. Petu'uk
  3. Mancikko Cawa
  4. Betunggu
  5. Beteghuh
  6. Nyawak


  • Tahapan Dalam Fase Pranikah

Dalam fase Pranikah ditradisi Rasan Tuha Angkat Gawi Suku Komering, terdiri dari beberapa tahapan yang antara lain:

  1. Midang
  2. Mandi Poghos
  3. Baghanah
  4. Nimpun
  5. Nganjungi


  • Tahapan Dalam Fase Inti Pada Upacara Adat Pernikahan

Dalam fase Inti (Ijab Qobul) ditradisi Rasan Tuha Angkat Gawi Suku Komering, terdiri dari beberapa tahapan yang antara lain sebagai berikut:

  1. Sembah Sujud
  2. Bukunci / Ijab Qobul
  3. Betemu
  4. Bujumpuk / Busotagh


  • Tahapan Dalam Fase Acara Pesta (Tayuh Agung)

Dalam fase pesta atau Tayuh Agung ditradisi Rasan Tuha Angkat Gawi Suku Komering, terdiri dari beberapa tahapan yang antara lain sebagai berikut:

  1. Nyungsung
  2. Ngaghak
  3. Nyambuk
  4. Kuadi / Puade / Ngipuk
  5. Butimbang
  6. Jajuluk Adok
  7. Takad Takadan
  8. Malam Taghi Agung


  • Tahapan Dalam Fase Pasca Pernikahan

Manjau Kegiatan berkunjung atau bertandang dalam tradisi Komering, dikenal dengan istilah Manjau. Ada tiga jenis tradisi anjangsana atau Manjau dalam adat dan budaya Suku Komering, yang antara lain sebagai berikut:

  1. Manjau Kasalahan atau Kesalahan
  2. Manjau Sujud
  3. Manjau Tughui atau Pedom


Rasan Tuha Takad Padang

Sibambangan

Samanda

Referensi

  1. ^ Purmana, Edo (2 September 2023). "Adat Komering Ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia". sumsel.antaranews.com. Kantor Berita Nasional ANTARA. Diakses tanggal 15 November 2025.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement