Bubur Asyura Lingga
Bubur Asyura lingga merupakan masakan tradisi di Kepulauan Riau, Kabupaten Lingga yang biasanya dilaksanakan secara gotong royong baik di Masjid, Surau maupun di rumah kediaman. Tradisi ini masih berlangsung hingga sekarang. Nama “Asyura” berasal dari kata “Asyura” dalam bahasa Arab yang berarti “kesepuluh”. Bubur ini biasanya dibuat pada hari ke-10 bulan Muharam. Hari tersebut dikenal sebagai Hari Asyura, salah satu hari penting dalam kalender Islam.[1]
Jenis Bubur Asyura
Bubur Asyura memiliki dua jenis yakni bubur lemak dan bubur manis. Bubur manis menggunakan gula serta hanya ditambahkan pulut hitam sedangkan bubur lemak isinya ditambahkan dari beberapa hasil laut, misalnya seperti udang dan cumi-cumi. Setiap daerah di Indonesia memiliki versi Bubur Asyura yang berbeda, sesuai dengan ketersediaan bahan dan budaya setempat. Bubur ini oleh masyarakat Lingga dibuat setahun sekali saat memperingati hari Asyura pada setiap sepuluh hari bulan Muharram. Namun pada hari Asyura disunahkan untuk berpuasa sunat, karena bubur Asyura ini disediakan untuk berbuka puasa bersama.[2]
Asal usul Asyura
Asyura berasal dari bahasa Arab “Asyurah” yang berarti sepuluh. Jadi Asyura adalah hari kesepuluh dari bulan Muharram. Bahwa Asyura merupakan hari/bulan untuk meninggalkan kejahatan, bulan berkait dengan peristiwa Nabi Musa a.s., Ibn Abbas r.a. menceritakan bahawa Nabi Muhammad SAW. tiba di Madinah dan melihat orang Yahudi berpuasa pada hari 10 Muharam. Nabi s.a.w. bertanya kepada orang Yahudi apa yang yang mereka lakukan. Orang Yahudi menjawab bahawa hari ini (10 Muharam) ialah hari soleh (baik). Allah SWT menyelamatkan pada hari ini Musa A.S. dan Bani Israel daripada musuh mereka. Maka Musa berpuasa pada hari tersebut. Maka Nabi s.a.w. bersabda bahawa baginda lebih berhak dengan Musa daripada kamu (orang Yahudi). Nabi s.a.w. berpuasa pada hari itu dan mengarahkan sahabatnya berpuasa, Ada juga anggapan bahawa hari Asyura berkait dengan peristiwa Nabi Nuh. Kononnya, selepas diselamatkan daripada banjir besar, maka dibuatlah makanan yang dimasak itu ialah bubur. Guna merayakan hari tersebut terlihat rangkaian kegiatan yang sering diadakan oleh orang-orang pedesaan yang tergolong ekonomis mampu, untuk mengundang dan memberi makan anak-anak yatim dan/atau piatu yang ada di sekitar tempat kediamannya. Upacara tersebut berlangsung pada waktu sore hari sekitar pukul 16.00 Wib tanggal 10 Muharram. Bubur dimasak bercampur dengan kacang-kacangan, berbagai macam rencah dan bumbu-bumbu lainnya, diantaranya kacang hijau, kacang merah, kacang hitam, kacang kuning, kacang tanah, kacang kuda, jagung, kacang putih, keledek, ubi, kentang biji nangka, biji durian, biji cempedak, udang, daun sop, bawang goreng, Nio gula (kelapa parut disangrai lalu digiling halus), dengan bumbu yang dihaluskan.[3]
Refrensi
- ^ Suyudi, Teguh Imam (2024-07-17). "Mengenal Bubur Asyura, Kuliner Istimewa Setiap 10 Muharam". Corenews.id. Diakses tanggal 2025-11-21.
- ^ karuna (2024-04-28). "Bubur Asyura Makanan Tradisional Zaman Kerajaan Lingga". KarunaKepri.com. Diakses tanggal 2025-11-21.
- ^ admin (2018-03-15). "BUBUR ASYURAA'". Diakses tanggal 2025-11-21.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


