Bintang Abdulkadir
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Maret 2025) |
Artikel ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan. (Maret 2025) |
| Raden Ayu (R. Ay.) Bintang Abdulkadir | |
|---|---|
| Lahir | 10 Desember 1899 Mojokerto, Jawa Timur |
| Meninggal | 1990 |
| Kebangsaan | Indonesia |
| Nama lain | Aisah Bintang Abdulkadir |
| Dikenal atas | Pendiri Pergerakan Wanita Oetomo, Tokoh Kongres Perempuan I |
| Suami/istri | Raden Mas Abdulkadir Tjokroadisoerjo |
Raden Ayu (R. Ay.) Bintang Abdulkadir atau Aisah Bintang Abdulkadir lahir pada 10 Desember 1899 di Mojokerto Jawa Timur. Ia adalah bungsu dari 5 bersaudara. Ayahnya Raden Ario Notoadiningrat adalah seorang collecteur, pejabat pemerintahan pada zaman Hindia Belanda di Mojokerto dan ibunya Bernama Raden Ayu Garminah.
Perjalanan hidup Raden Ayu Bintang menempanya menjadi sosok yang memiliki jiwa sosial tinggi dan peduli pada kemajuan kaum wanita. Ia memprakarsai Wanita Oetomo, perkumpulan istri dari anggota Boedi Oetomo yang dalam perkembangannya memberikan sumbangsih positif dalam perjuangan hak perempuan Indonesia.
Kehidupan awal
Ketika Raden Ayu Bintang masih kecil, ayahnya meninggal dunia. Raden Ayu Garminah Notoadinigrat bersama anak-anaknya memutuskan pindah ke Semarang untuk tinggal di rumah kakaknya Raden Ayu Mertoatmojo yang diperistri oleh Patih Mertoatmojo. Kedatangan mereka disambut baik karena keluarga Patih Mertoatmojo yang tidak mempunyai putera.
Setelah Raden Ayu Mertoatmojo meninggal, Raden Ayu Garminah kemudian diperistri Patih Mertoatmojo. Saat itu Raden Ayu Bintang menginjak usia 5 tahun. Adapun Patih Mertoatmojo menganggap putra-putri Raden Ayu Garminah adalah putranya sendiri. Di kemudian hari teladan hidup Patih Mertoatmojo sangat memengaruhi watak putra-putrinya. Tidak terkecuali Raden Ayu Bintang yang juga gemar menolong dan aktif dalam berbagai kegiatan sosial.[1]
Patih Mertoatmojo adalah sosok yang murah hati, ringan tangan membantu mereka yang membutuhkan. Raja-raja dari luar Jawa yang dibuang pemerintah Hindia Belanda ditampung Patih Mertoatmojo di rumahnya hingga hukuman mereka habis. Ia menyediakan makanan, memperlakukan orang buangan itu seperti keluarganya sendiri agar mereka tidak merasa dihukum. Selain itu ia Patih Mertoatmojo memiliki minat besar pada kesenian tradisional. Di Dalem Kepatihan ada seperangkat gamelan yang dipergunakan untuk mengiringi pelatihan menari. Meskipun keluarga ini tidak dapat membaca dan menulis latin, tetapi mereka pandai membaca dan menulis huruf Jawa, mampu mengkoordinasi kegiatan sosial seperti Pekan Raya yang hasilnya akan disumbangkan untuk sekolah kepandaian putri Van Deventer School di Semarang. Raden Ayu Garminah Mertoatmojo ikut menggerakkan para ibu pamong praja untuk berkarya membuat kerajinan tangan, membatik, menganyam, menyulam, dan lain sebagainya.
Pendidikan
Raden Ayu Bintang disekolahkan di Zuster school pada usia 7 tahun. Ia dapat menyelesaikan studinya dengan baik. Dalam bidang agama Islam Raden Ayu Bintang belajar di rumah pada guru agama yang sengaja didatangkan. Ia juga belajar mengaji di mushola yang letaknya di belakang Dalem Kepatihan.
Pernikahan
Raden Mas Abdulkadir Tjokroadisoerjo atau lebih dikenal dengan dr Abdulkadir adalah anggota Boedi Oetomo yang terpandang. Sebelum mempersunting Raden Ayu Bintang, ia berkawan dengan Putra Mahkota Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Hamengkubuwono VIII yang kemudian mengangkatnya menjadi dokter keraton dengan gaji f. 700, empat kali lipat dibanding gajinya sebagai dokter Pemerintah Belanda.[2]
Raden Ayu Bintang dan Raden Mas Abdulkadir Tjokroadisoerjo yang saat itu telah menduda menikah pada tahun 1915. Sejak menikah nama Raden Ayu Bintang menjadi Raden Ayu Bintang Abdulkadir. Dari pernikahan tersebut mereka dikaruniai empat putri dan dua laki-laki.
Keluarga ini sering berpindah tempat karena sebagai dokter pemerintah hampir setiap 2 tahun dr Abdulkadir dimutasi. Setelah menikah mereka tinggal di Pekalongan. Lalu pada 1917 pindah ke semarang. Dan pada 1991 keluarga ini tinggal di Kampung Sosrokusuman Yogyakarta. Di kota inilah Raden Ayu Bintang Abdulkadir terpanggil terlibat dalam pergerakan nasional perempuan.
Pencetus Wanita Oetomo
Raden Ayu Bintang diam-diam menyimak setiap pembicaraan suaminya dengan para anggota Boedi Oetomo di kediaman mereka di Sosrokusuman. Ia berpikir seharusnya kaum perempuan juga memiliki kesempatan yang sama dengan kaum laki-laki untuk berkumpul dan saling berpendapat.[3]
Tak tega melihat istrinya mencuri-curi pandang, dr Abdulkadir lalu mengizinkan istrinya mengikuti rapat Boedi Oetomo duduk di barisan belakang. Raden Ayu Bintang sebagai satu-satunya perempuan spontan mengajukan usul kepada para bapak agar lain waktu mengajak istrinya mengikuti rapat. Permintaan ini hanya disambut senyum oleh mereka yang hadir.
Raden Ayu Bintang yang penasaran kemudian mengajukan usulan langsung kepada pengurus Boedi Oetomo cabang Yogyakarta. Usulan ini ternyata ditanggapi antusias oleh para istri anggota Boedi Oetomo. Kabar menyebar cepat dan menarik perhatian dari perempuan berpengaruh seperti Nyi Hajar Dewantara, Raden Ayu Gondoatmodjo, dan Nyonya Imam Sulandji. Surat kabar Boedi Oetomo tertanggal 11 April 1921 memberitakan ajakan kepada pengurus Boedi Oetomo beserta istri untuk menyelenggarakan rapat perdana pada 24 April 1921. Demikianlah pada April 1921 lahir sebuah organisasi perkumpulan istri yang diberi nama Wanita Oetomo.
Kemudian terbentuklah kepenguruan Wanita Oetomo. Raden Ayu Bintang Abdulkadir menjabat sebagai bendahara. Ia hampir selalu diangkat sebagai bendahara, kecuali pada 1925 – 1927 menjadi wakil ketua. Adapun dibentuknya Wanita Oetomo bertujuan untuk mempererat persaudaraan, saling tukar-menukar keahlian, saling tolong-menolong dalam kesusahan, dan mengurus rumah tangga sesuai dengan penghasilan suami.
Pekembangan Wanita Oetomo terhadap Emansipasi, Nasionalisme dan Kemerdekaan
Organisasi Wanita Oetomo kemudian berkembang tidak hanya menjadi perkumpulan istri dari anggota Boedi Oetomo melainkan bersifat terbuka untuk umum.[4] Siapapun asal perempuan dapat bergabung menjadi anggota tanpa dibatasi usia dan pendidikan. Setiap anggota mempunyai kesempatan yang sama untuk bersuara dan mengemukakan pendapat, utamanya mengenai emansipasi wanita, gagasan kemerdekaan melawan penindasan dan penjajahan serta menjadi wadah bagi tumbuhnya kesadaran nasionalisme.
Wanita Oetomo berkontribusi aktif dalam pergerakan nasional dengan menjadi penyelenggara kongres Perempuan I pada 22-23 Desember 1928 di Yogyakarta. Kongres Perempuan pertama ini menghasilkan beberapa keputusan yang memperjuangkan hak-hak perempuan Indonesia. Wanita Oetomo pada masa itu sering membantu program bidang sosial dan pendidikan yang digagas oleh Boedi Oetomo, diantaranya mendirikan sekolah Boedi Oetomo, Klinik Mata Dokter Yap, dan acara penggalangan dana Seri Derma.
Wanita Oetomo berkembang semakin baik dan bermunculan cabang-cabangnya di berbagai kota. Pada 1926 lustrum pertama Wanita Oetomo diselenggarakan di gedung Loge Mataram Malioboro (sekarang gedung DPRD Tingkat I).
Kongres Perempuan Indonesia I
Pada 1928 tiga tokoh perempuan Indonesia: R. Ay. Soekonto (Wanita Oetomo), Nyi Hajar Dewantoro (Wanita Taman Siswa) dan R.A. Sujatin (R.Ay. S. Kartowiyono) dari Putri Indonesia berhasil melakukan pendekatan dengan beberapa perkumpulan kaum wanita Mataram untuk menyelenggarakan "Kongres Perempuan Indonesia." Wanita Oetomo berperan aktif dalam kepanitiaan Kongres Perempuan I dengan mengirim wakilnya dua tokoh wanita yaitu R. Ay. Sukonto dan Nn. Ismudiati. Dalam Kongres Perempuan Indonesia I Raden Ayu Bintang Abdulkadir tidak memegang kepanitiaan bahkan tidak dapat hadir karena anak bungsunya masih terlalu kecil untuk ditinggal. Meskipun demikian ia tetap terlibat memberi petunjuk dan dukungan.
Kiprah Raden Ayu Bintang
- Pada April 1929 Raden Ayu Bintang Abdulkadir mendirikan Wanita Oetomo Cabang Purworejo.[5] Peringatan Hari Kartini untuk pertama kalinya dilaksanakan di Purworejo dengan mengadakan pasar derma. Hasil pasar derma akan dipakai untuk beasiswa dan pinjaman belajar bagi siswa yang kurang mampu. Raden Ayu Bintang Abdulkadir membuat peraturan kreatif bahwa para anggota yang datang ke rapat harus menggunakan bahasa Indonesia. Mereka yang berbahasa Jawa akan didenda lima sen setiap kata. Peraturan ini sangat cerdas, selain untuk menambah dana juga membiasakan Masyarakat mengunakan bahasa Indonesia yang sudah diikrarkan pada 28 Oktober 1928.
- Pada Kongres Wanita Oetomo di Solo, Raden Ayu Bintang Abdulkadir mengusulkan agar beasiswa dikelola oleh pusat. Usul tersebut diterima dan diberi nama "Seri Derma". Raden Ayu Bintang Abdulkadir ditunjuk menjadi ketua.
- Tahun 1930 Raden Ayu Bintang Abdulkadir mengikuti suaminya pindah ke Gombong. Ia lalu mendirikan Wanita Oetomo Cabang Gombong. Namun Raden Ayu Bintang tidak lama mengelola Wanita Oetomo cabang Gombong sebab saat itu Gombong belum memiliki sekolah menengah, sedangkan anak-anaknya akan segera naik tingkat. Maka dengan berat hati keluarga dr Abdulkadir pindah ke Malang meninggalkan kota Gombong.
- Pada 1934 keluarga ini pindah lagi ke daerah Tegal, dr. Abdulkadir membuka usaha apotek dengan nama "Mitro Rahayu". Ia juga meracik obat tradisional anti kencing manis yang diberi nama "Podoselamete". Usaha ini berhasil baik.
Selama di tegal Raden Ayu Bintang melayani banyak permintaan untuk membantu kegiatan organisasi wanita. Raden Ayu Bintang kemudian mengusulkan agar semua organisasi wanita di Tegal digabung agar setiap kebutuhan organisasi terlayani dengan baik. Dibentuklah Persatuan Perkumpulan Puteri Tegal yang melahirkan berbagai kegiatan meliputi keterampilan wanita, kesenian, dan olahraga. - Pada 1942 keluarga dr. R. Abdulkadir pindah kembali ke Yogyakarta. Tak lama berselang, tepatnya 8 Maret 1942 pemerintah Hindia Belanda menyerah kepada tentara Jepang di Kalijati. Sejak itu Indonesia dikuasai oleh pemerintah Jepang. Pada masa pendudukan Jepang ini, semua organisasi pergerakan Indonesia dibubarkan termasuk organisasi kewanitaan.
Tentara Jepang lalu membentuk organisasi wanita baru dengan nama Fujinkai. Raden Ayu Bintang Abdulkadir masuk menjadi pengurus Fujinkai di Yogyakarta. Usaha-usaha Fujinkai, antara lain: mengobarkan semangat cinta tanah air dan bangsa di kalangan Wanita, menanamkan nasionalisme, rasa suka berkorban dan rela menderita untuk tanah air dan bangsa, menyiapkan tenaga di belakang garis peperangan, menganjurkan hidup hemat, memperbanyak hasil bumi, menghidupkan pekerjaan tangan dan industri rumah, mengadakan latihan-latihan yang diperlukan dan menghidupkan pekerjaan untuk memberantas pengangguran. Setelah Indonesia Merdeka, Fujinkai segera dibubarkan. - Raden Ayu Bintang Abdulkadir juga ikut terlibat membantu Persatuan Wanita Republik Indonesia (PERWARI) yang dipimpin oleh Nyi Sri Mangunsarkoro. Kegiatan PERWARI saat itu adalah dapur umum, palang merah, dan mengurus jenazah para pejuang dari luar Kota Yogyakarta.
- Sesudah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia, beberapa ibu mengusulkan agar Wanita Oetomo dihidupkan kembali. Namun Raden Ayu Bintang menolak usaha tersebut karena sudah ada PERWARI. Ia menganjurkan para ibu untuk mengikuti PERWARI dan menggiatkan kembali "Seri Derma". Usul mengenai “Seri Derma” disetujui dan diadakan pembaharuan pengurus, yaitu Raden Ayu Bintang Abdulkadir, Nyi Hajar Dewantoro, Nyi Sri Mangunsarkoro, Ny. Yudo Pranoto dan Ny. Santoso.
Kematian
Pada tahun 1967 dr. R. Abdulkadir meninggal dunia, semenjak itu Raden Ayu Bintang Abdulkadir memberi pelajaran masak-memasak di rumahnya. Ia juga meneruskan usaha obat tradisional anti kencing manis "Podoselamete” hingga ia menutup mata untuk terakhir kalinya pada tahun 1990.
Referensi
- ^ "RADEN AYU BINTANG ABDULKADIR". id.wikisource.org. Diakses tanggal 2025-03-24.
- ^ "Aisah Bintang & Sejarah Berdirinya Wanito Oetomo". tirto.id. 2022-12-19. Diakses tanggal 2025-03-24.
- ^ "Wanita Oetomo dan Pergerakan Perempuan dalam Pergerakan Nasional". kumparan.com. 2022-4-1. Diakses tanggal 2025-03-24.
- ^ "Kebangkitan Perempuan Di Balik Berdirinya Boedi Oetomo". mubadalah.id. 2023-5-21. Diakses tanggal 2025-03-24.
- ^ "Biografi Tokoh Kongres Perempuan Indonesia Pertama" (PDF). repositori.kemdikbud.go.id. Diakses tanggal 2025-03-24.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


