Bicoli, Maba Selatan, Halmahera Timur
Bicoli | |
|---|---|
| Negara | |
| Provinsi | Maluku Utara |
| Kabupaten | Halmahera Timur |
| Kecamatan | Maba Selatan |
| Kode pos | 97861 |
| Kode Kemendagri | 82.06.03.2001 |
| Luas | ... km² |
| Jumlah penduduk | ... jiwa |
| Kepadatan | ... jiwa/km² |
Bicoli adalah sebuah desa di Kecamatan Maba Selatan, Kabupaten Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara, Indonesia. Dahulunya desa ini merupakan pelabuhan dagang yang penting dan juga pernah berdiri sebuah pemerintahan lokal Kenegerian Bicoli yang dipimpin oleh seorang sangaji yang tunduk di bawah kekuasaan Kesultanan Tidore.
Sejarah

Sejak dahulu, Bicoli telah mengalami kontak dengan dunia luar. Pada tahun 1817, Bicoli muncul sebagai sebuah pelabuhan dagang. Oleh Leirissa (1996), dikatakan bahwa di sebelah timur Halmahera terdapat negeri bernama Bitjolie (Bicoli), negeri pesisir yang paling aman untuk berlabuh, sehingga disebut sebagai pelabuhan utama di bagian timur Halmahera.[1] Hal ini pun ditegaskan ketika tiga tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1820-an, Hindia Belanda menempatkan seorang wakil di Bicoli untuk mengurus perdagangan pala. Namun, kegiatan perdagangan ini relatif berumur pendek, karena kekuasaan Hindia Belanda tidak berlangsung lama.[2]
Selain negeri Maba yang dianggap penting oleh VOC, karena merupakan pusat dari distrik Maba. Menurut dokumen dari abad ke-17, ada juga berbagai negeri penting lainnya, seperti Bitjolie (Bicoli), Panga, Gotowasi, Waianli, Ingli, Boeli (Buli), Samofo, Watjie (Waci), Lolobata, Luipi, Ses, dan Seun. Selain itu, dalam pernyataannya, seorang penguasa Maba menyebutkan bahwa ada 23 pemukiman, meliputi Kutjame (Kucame), Geet, Binhinjan, Seise, Ose (Woso), Watjie (Waci), Gotowasi, Wailo, Terbil, Air, Kapitan Laut, Air Sangaji, Gaw, Seli, Wasile, Waisarli, Mabunglang, Akelamo, Bitjolie (Bicoli), Waya, Belolo, Air Masing, Tolowaisali, dan Geruwe.[3] Catatan pemukiman ini, pada paruh kedua abad ke-19 hanya tersisa empat negeri dengan 13 pemukiman, dan yang terbesar berada di sekitar Bitjolie (Bicoli).[4]
Memasuki masa kekisruhan antara Belanda dan Tidore, Sultan Zainal Abidin kemungkinan besar tiba di Maba dan menetap di Woso sejak Februari 1808, setelah dijemput beberapa bobato bersama Kapten Grieve menggunakan kapal Inggris, Lord Minto, ke Pulau Gebe. Dalam catatan kaki, oleh Kapten Herder, pemimpin ekspedisi militer di Maba antara Januari dan Mei 1808, bahwa pada tanggal 23 Februari, Sangaji Lakone dari Woso berangkat ke Pulau Gebe dengan sebuah kapal Inggris untuk menjemput 25 kora-kora dan dua kapal nelayan Inggris. Pada saat yang sama, Zainal Abidin yang sebelumnya berada di Misool juga diundang.[5]
Sekitar pertengahan tahun 1808, negeri Woso sangat penting posisinya. Woso terletak cukup tinggi di perbukitan dekat Bicoli. Konon pada saat itu, Ternate dan Belanda mulai menyerang Zainal Abidin, karena rentetan serangan tersebut, sehingga dibangunlah sistem benteng untuk mempertahankan dan memperkuat negeri Woso dari serangan musuh. Serangan itu sendiri dipimpin oleh Letnan Herder. Sistem pertahanan benteng tradisional dibangun dalam bentuk tembok lurus dengan jarak tembak setinggi dada (1,0 m), terbuat dari batu koral dan dilapisi perekat yang terbuat dari kulit kerang yang dibakar. Tak hanya di pegunungan, di bagian utara juga terdapat tiga benteng serupa, dan satu benteng lagi ke arah laut.[6]
Pada tahun 1822 hingga 1942, Belanda menempatkan pejabat-pejabatnya pada tingkat asisten residen (afdeeling) dan membangun pos militer (gecommitteerde) di Bicoli dengan wilayah kerja Maba, Patani, dan Weda (Gamrange). Perwira militer Belanda pertama yang bertugas di pos militer Belanda di Bicoli adalah Cambier, sedangkan pejabat militer terakhir yang bertugas di Bicoli hingga tahun 1942 adalah Laurens. Pada tahun 1942, Jepang mengambil alih pos militer tersebut.[7]
Pemerintahan
Terdapat Kadato Tiga Negeri yang merupakan persekutuan pengelompokan enam sangaji (kenegerian) yang berdasarkan etnogeografis menjadi tiga partai besar. Sehingga pengelompokan enam sangaji menjadi tiga subetnis pada masa lampau disebut dengan Gamrange (tiga negeri), dimana setiap dua sangaji beraliansi menjadi satu kekuatan, misalnya Sangaji Maba kul–kul Sangaji Bicoli (Sangaji Maba dengan Sangaji Bicoli). Pengelompokan ini didasarkan pada kenyataan sebelumnya bahwa di Halmahera tengah dan timur merupakan wilayah yang pada awalnya terdapat tiga pemerintahan asli, yaitu Mobon (Maba), Poton (Patani), dan Were (Weda). Kerajaan Mobon (Maba), Poton (Patani), dan Were (Weda) menjadi bagian dari Kesultanan Tidore, diperkirakan pada awal abad ke-17. Dimana Bicoli sebelumnya menjadi satu dengan Maba.[7]
Wilayah Sangaji Bicoli mencakup lima desa administratif saat ini, tetapi masih merupakan satu wilayah adat yang bersatu. Desa-desa tersebut diantaranya Bicoli, Kasuba, Momole, Sil, dan Sowoli. Wilayah Bicoli juga dahulunya meliputi desa Sakam di perbatasan Halmahera Tengah dan Halmahera Timur.[8]
Lihat pula
Referensi
- ^ Leirissa (1996), hlm. 67.
- ^ Marsaoly, M. Azrul (1 Juli 2025). "Pembangunan Pelabuhan Bicoli: Sebuah Iktikad Mengurai Ulang Narasi Sejarah". www.malutpost.com. Nuansa Laut. Diakses tanggal 9 Juli 2025.
- ^ Leirissa (1996), hlm. 66.
- ^ Campen (1884), hlm. 292–301.
- ^ Leirissa (1996), hlm. 182.
- ^ Leirissa (1996), hlm. 184.
- ^ a b Tjan, Deni (22 Juni 2019). "Mengungkap Pemerintah Khas Haltim – Halteng". malut.aman.or.id. Malut Aman. Diakses tanggal 9 Juli 2025.
- ^ Ichi, Mahmud (6 Juli 2025). "Kearifan Masyarakat Adat Sangadji Jaga Desa Bicoli". mongabay.co.id. Mongabay. Diakses tanggal 9 Juli 2025.
Pranala luar
- (Indonesia) Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 050-145 Tahun 2022 tentang Pemberian dan Pemutakhiran Kode, Data Wilayah Administrasi Pemerintahan, dan Pulau tahun 2021
- (Indonesia) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 72 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan
- (Indonesia) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


