Betingkah Alu Selesung

Bertingkah Alu Selesung adalah kesenian musik tradisional dari Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau. Kesenian ini berasal dari aktivitas menumbuk padi menggunakan lesung dan alu. Kesenian ini menampilkan harmoni bunyi alu yang dipukul secara berirama, kesenian ini biasanya dimainkan oleh 7 orang (3 di dalam dan 4 di luar lesung), dan kini sering ditampilkan pada acara kebudayaan atau hiburan. Betingkah Alu Selesung ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia pada tahun 2021.[1]

Penggunaan Betingkah Alu Selesung

Betingkah Alu Selesung berasal dari 3 kata, yaitu Betingkah yang berarti memukul sesuatu dengan membuat irama, Alu yang berarti alat untuk menumbuk sesuatu, dan Selesung yang berarti satu lesung, wadah dimana alu ditumbuk. Pada zaman dahulu pada saat musim panen, sebagian dari hasil panen tersebut disimpan di lumbung padi dan sebagian diolah secara tradisional. Pengolahan secara tradisional yang dilakukan oleh masyarakat menggunakan alat lesung besar yang terbuat dari kayu belian atau batang meghis yang berukuran besar dan untuk menumbuknya digunakan beberapa anak alu yang juga terbuat dari batang kayu yang sama. Dari alat tersebut, masyarakat membuat makanan yang bernama mbeng. Mbeng merupakan makanan sejenis oat, yang akan mengembang jika diberikan air. Mbeng menjadi makanan utama masyarakat sebab keterbatasan alat mengolah padi menjadi beras pada saat itu.[1]

Proses membuat mbeng adalah dengan cara menumbukkan padi yang sudah disangrai di dalam lesung dengan alu. Pada proses membuat mbeng inilah yang menghasilkan beragam bunyi atau nada-nada yang enak di dengar. Dari berbagai bunyi tersebut terciptalah berbagai jenis irama yang lambat laun menjadi kesenian alu. Pada saat ini, Alu Selesung sudah berubah fungsi yang dulunya sebagai alat penumbuk padi sekarang menjadi kesenian musik tradisional khas Kabupaten Natuna yang di tampilkan pada setiap acara kebudayaan. Alu Selesung biasanya dibawakan oleh 7 orang pemain, 4 orang pemain menumbuk dibagian sisi luar Alu dan 3 orang di bagian dalam Alu. Di Natuna kesenian ini bermula di wilayah Kecamatan Bunguran Timur Laut tepatnya di Desa Ceruk, karena desa tersebut dulunya terkenal dengan hasil panennya yang melumpah ruah.[1]

Sejarah Betingkah Alu Selesung

Betingkah Alu Selesung merupakan kesenian tradisional masyarakat Natuna yang sudah ada sejak zaman penjajahan dimasa lampau. Pada masa lalu hampir diseluruh pelosok penjuru Natuna setiap hari terdengar bunyi lesung yang dibunyikan oleh ibu-ibu atau para bapak saat menumpuk hasil ladang seperti padi, jagung dan rempah-rempah masakan. Kegiatan menumbuk hasil ladang dilakukan secara bersama-sama dan disela-sela menumbuk hasil ladang mereka saling berbagi cerita disertai canda tawa tentang pengalaman hidup. Seiring berjalannya waktu kegiatan lesung – alu digantikan dengan alat-alat mesin canggih untuk menggiling padi dan hasil pangan lainnya. Untuk mempertahankan kegiatan lesung – alu masyarakat setempat mengubah fungsi lesung – alu yang awalnya dipergunakan untuk menumbuk padi sekarang menjadi kesenian tradisi daerah.[2][3]

Referensi

  1. ^ a b c adminweb (2022-12-29). "Betingkah Alu Selesung, Warisan Budaya Natuna yang Diakui Indonesia – GEOPARK NATUNA". Diakses tanggal 2025-11-17.
  2. ^ "Mengenal Kesenian Alu/Tingkah Alu Natuna". Dinas Pariwisata Kabupaten Natuna. 2021-08-05. Diakses tanggal 2025-11-17.
  3. ^ Darisman, Admin. "KESENIAN LESUNG ALU". PEMKAB NATUNA (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-11-17.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement