Bentuk yang dapat dipahami

Plato dan Aristoteles.

Dalam filsafat, bentuk yang dapat dipahami oleh akal (intelligible form) merujuk pada bentuk yang dapat ditangkap oleh intelek, berbeda dari persepsi indrawi. Menurut para filsuf Kuno dan Abad Pertengahan, bentuk-bentuk yang dapat dipahami adalah hal-hal yang memungkinkan kita untuk memahami sesuatu. Bentuk-bentuk ini berupa genus dan spesies.

Genus dan spesies merupakan konsep abstrak, bukan objek konkret. Misalnya, istilah “hewan”, “manusia”, dan “kuda” adalah istilah umum yang tidak merujuk pada individu tertentu di dunia nyata. Hanya hewan, manusia, dan kuda yang spesifik yang benar-benar ada dalam kenyataan, menurut beberapa bentuk paham naturalisme.

Penggunaan

Objek atau konsep yang memiliki keterpahaman atau dapat dipahami oleh akal budi disebut inteligibel (intelligible). Sesuatu yang inteligibel adalah sesuatu yang dapat ditangkap atau dimengerti oleh pikiran, bukan semata-mata oleh indera. Contoh klasik dari hal-hal yang inteligibel meliputi angka dan hukum logika tentang non-kontradiksi, yaitu prinsip bahwa sesuatu tidak dapat sekaligus ada dan tidak ada dalam pengertian yang sama pada waktu yang sama.

Dalam filsafat, khususnya dalam tradisi Yunani kuno, sering dibedakan antara segala sesuatu yang inteligibel dan segala sesuatu yang terindra (visible). Perbedaan ini muncul secara eksplisit dalam alegori atau analogi garis terbagi (the divided line) sebagaimana dijelaskan oleh Plato dalam Republic. Dalam analogi tersebut, dunia inteligibel merupakan ranah pengetahuan sejati dan abadi, sedangkan dunia yang terlihat hanyalah bayangan atau refleksi dari realitas yang lebih tinggi.[1]

Plato

Bagi Plato, dunia inteligibel adalah ranah dari bentuk-bentuk (Forms atau Ideas), matematika, prinsip-prinsip pertama, dan metode dialektika. Dalam pandangannya, pengetahuan sejati hanya dapat diperoleh melalui akal yang berhubungan dengan bentuk-bentuk ideal, bukan melalui persepsi indrawi yang bersifat sementara dan berubah-ubah.

Plato menggambarkan dunia inteligibel sebagai wilayah pemikiran murni, di mana pikiran memikirkan dirinya sendiri — sebuah aktivitas yang tidak memerlukan citra visual, kesan sensorik, atau penyebab material. Dengan demikian, dunia inteligibel menjadi sumber realitas bagi dunia yang tampak; segala sesuatu yang dapat dilihat hanyalah partisipasi dari bentuk-bentuk ideal yang abadi. Dunia inteligibel, dalam kerangka ini, adalah wilayah keberadaan yang paling nyata dan sempurna, sedangkan dunia terindra merupakan refleksi atau imitasi dari kebenaran tersebut.

Aristoteles

Gagasan tentang bentuk (form) sebagai sesuatu yang menjadikan pengetahuan mungkin telah ada sejak masa Socrates, namun Aristoteles memperjelas dan memperdalam konsep ini dengan membedakan antara bentuk inteligibel dan bentuk material. Ia berpendapat bahwa bentuk adalah prinsip yang memungkinkan sesuatu untuk dapat diketahui; tanpa bentuk, objek tidak akan memiliki identitas yang dapat dipahami.

Aristoteles memperkenalkan pembedaan antara akal pasif (intellectus possibilis) dan akal aktif (intellectus agens). Akal pasif menerima bentuk-bentuk dari benda-benda sebagaimana adanya, yakni sebagai potensi pengetahuan, sedangkan akal aktif berperan dalam mengaktualkan potensi tersebut menjadi pengetahuan yang nyata. Dengan kata lain, akal aktif menjadikan yang mungkin diketahui menjadi diketahui dalam tindakan (knowledge in act). Melalui mekanisme ini, manusia mampu memahami hakikat sesuatu secara inteligibel, melampaui sekadar persepsi indrawi.[2]

Plotinus

Menurut Plotinus, tokoh utama dalam filsafat Neoplatonisme, kekuatan Demiurgos (atau demiurge, sang “pengrajin” kosmos) berasal dari kekuatan pemikiran (nous). Dalam proses penciptaan, Demiurgos menata dan mengatur sifat pasif dari materi dengan memberinya bentuk yang dapat dirasakan—yakni bentuk indrawi—yang pada hakikatnya merupakan citra atau refleksi dari bentuk-bentuk inteligibel yang tersimpan dalam pikiran sang Demiurgos.

Dengan demikian, seluruh realitas yang tampak merupakan hasil dari pemikiran ilahi yang menanamkan struktur inteligibel ke dalam dunia material. Bagi Plotinus, keberadaan di dunia indrawi memiliki dasar eksistensial hanya sejauh ia berpartisipasi dalam pikiran ilahi. Maka, nous atau akal kosmik menjadi perantara antara yang absolut (Yang Satu) dan dunia fenomenal, sekaligus menjadi sumber segala tatanan dan inteligibilitas yang ada.[3]

Thomas Aquinas

Dalam Compendium Theologiae, Santo Thomas Aquinas membahas hierarki substansi intelektual dan hubungannya dengan bentuk-bentuk inteligibel sebagaimana dipahami oleh akal manusia. Menurut Aquinas, semakin tinggi tingkat kesempurnaan suatu substansi intelektual, semakin universal bentuk inteligibel yang dimilikinya.

Ia menulis bahwa di antara semua substansi intelektual, akal manusia (yang disebutnya sebagai intellectus possibilis atau akal potensial) memiliki bentuk inteligibel yang paling terbatas dalam universalitasnya. Oleh karena itu, akal manusia memperoleh bentuk inteligibelnya dari hal-hal yang bersifat indrawi, karena hanya melalui pengamatan terhadap dunia material manusia dapat mengabstraksikan konsep universal.

Lebih lanjut, Aquinas menegaskan bahwa bentuk harus memiliki proporsi yang sesuai dengan daya penerimaannya. Karena akal manusia adalah yang paling dekat dengan materi di antara substansi intelektual lainnya, maka bentuk inteligibel yang dapat diterimanya juga paling erat kaitannya dengan hal-hal yang bersifat material. Dengan demikian, pengetahuan manusia bersumber dari dunia indrawi tetapi diarahkan menuju pengertian inteligibel yang lebih tinggi, yang pada akhirnya menuntun kepada pengetahuan tentang realitas ilahi.[4]

Referensi

  1. ^ "The Catholic University of America". www.catholic.edu. Diakses tanggal 2025-11-12.
  2. ^ Aristotle (1961-01-01). Book III. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-814155-6.
  3. ^ "Plotinus | Internet Encyclopedia of Philosophy" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-11-12.
  4. ^ "Aquinas". aquinas.cc. Diakses tanggal 2025-11-12.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement