Belenderan
Artikel ini membutuhkan lebih banyak pranala ke artikel lain untuk meningkatkan kualitasnya. (Juni 2025) |
Belenderan merupakan salah satu kesenian khas Kabupaten Karawang. Tari Belenderan biasa ditampilkan setiap bulan maulud yang bertepatan pada tanggal 16 bulan Jawa. Dahulu, tarian ini oleh masyarakat Karawang selalu menyajikan unsur ritual, yaitu pada bagian awal tarian yang selalu diawali dengan sesajen berupa kopi pahit, kopi manis, rokok, rurujakan, kalapa dawegan (kelapa muda), beas (beras). Hingga saat ini, syarat sesajen tersebut masih tetap dipenuhi sebelum memulai tari belenderan.[1]
Sejarah
Tari Belenderan mulai dikenal di Kabupaten Karawang pada tahun 1939, dalam acara peresmian jembatan di kampung Cisaruak Desa Pasir Tanjung kecamatan Telagasari. Istilah Tari Belenderan asal kata dari Leleran, yang artinya tanah sawah yang diratakan sebelum ditanami padi.[2]
Seniman pertama yang menarikan tari Belenderan ini adalah bernama Abah Nemin dengan panggilan Abah Epeng, nama Epeng ini merupakan nama panggilan ketika di atas pentas. Setelah meninggalnya Abah Epeng pada tahun 2011, penerus yang menggantikannya sebagai penari Belenderan bernama Mang Sarna. Mang Sarna selaku seniman pemain Topeng Banjet, beliau mempelajari tari Belenderan hanya dengan mengamati Abah Epeng ketika menarikan tari Belenderan. Melalui pengamatan Mang Sarna tersebut terbentuklah pola gerak tari Belenderan saat ini. Adapun koreografinya tidak lepas dari gerak-gerak Pencak Silat gaya Karawangan.[1]
Sesuai dengan karakteristik gaya Karawang, tari belenderan ini dihasilkan dari pola spontanitas atau tanpa direncanakan pada saat menggerakannya. Beberapa gerak tari belenderan seperti Bahe, Kewer, Sambungan, Tempelan, Belikat tukang dilakukan secara berulang-ulang dalam satu goong dengan diakhiri oleh gerak mincid. Gerak bahe memiliki makna gerak yang terlihat pada gerak tangan yang seperti pada saat melempar benih padi dan gerak badan yang berbalik badan untuk mengambil benih kembali. Beberapa gerak belenderan ada yang hampir sama dengan gerak topeng. Hal ini dipengaruhi dari waktu pentas kedua tari tersebut dalam satu pertunjukan. Adapun satu gerak dari kelima gerak tersebut yang berkaitan maknanya dengan arti kata belenderan.[2]
Pementasan
Dalam pementasan, tari belenderan tidak lepas dari kegiatan ritual. Hal ini disebabkan adanya syarat yang wajib dipenuhi sebelum pentas dalam bentuk kegiatan ritual penyediaan sesajen atau sadiaan berupa rokok gudang garam merah. Syarat tersebut hingga saat ini masih terus dipenuhi sebelum memulai tari belenderan. Rias dan busana pada tari belenderan berkarakter lincah dan gagah, karena pada rias tari belenderan ini tidak banyak penegasan-penegasan garis wajah hanya saja pada bagian alis masekon, jambang mecut dan cedo pada bagian dagu. Busana pada tari belenderan berakar dari busana tari rakyat, di mana busana yang sering digunakan masyarakat pedesaan seperti baju pangsi, celana pangsi, iket (kain penutup kepala), sarung (kain penutup bagian pinggang hingga ke bawah). Begitu pula dengan pakaian yang dikenakan dalam tarian ini, secara garis besar terdiri dari atribut-atribut pakaian khas masyarakat Sunda.[1]
Referensi
- ^ a b c Admin_BPK_Wil_IX (2019-05-22). "Gaya Karawangan dalam Tari Belenderan - Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat". Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat. Diakses tanggal 2025-06-20.
- ^ a b https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditwdb/belenderan/
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


