Beksan Panji Sekar
Artikel ini memiliki beberapa masalah. Tolong bantu memperbaikinya atau diskusikan masalah-masalah ini di halaman pembicaraannya. (Pelajari bagaimana dan kapan saat yang tepat untuk menghapus templat pesan ini)
|
Artikel ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan. (Juni 2025) |
Beksan Panji Sekar adalah tarian tradisional Yogyakarta berjenis beksan sekawanan—ditarikan oleh empat pria—dengan tema kisah perang dan kepahlawanan dari cerita Panji. Tarian ini diciptakan pada era kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono I pada pertengahan abad 18 (1755–1765), sejalan dengan karya-karya seperti Beksan Trunajaya, Guntur Segara, Nyakrakusuma, dan Tugu Wasesa.[1]
Asal-usul
Beksan Panji Sekar dinukil dari kisah roman Panji dalam wayang gedog yang menceritakan peperangan antara Jayakusuma dengan Jayalengkara. Kisah ini dimuat dalam lakon Panji Bedhah Bali. Penyebutan Panji Sekar merujuk pada nama alias Jayakusuma yang berasal dari negara Jawa, sedangkan Jayalengkara berasal dari tanah sebrang yaitu negara Bali. Tersiar kabar bahwa Jayalengkara hendak melebarkan kekuasaan hingga ke negara Jawa. Mendengar kabar tersebut, Prabu Lembu Amiluhur dari Jenggala Manik memerintahkan Jayakusuma untuk mendatangi negara Bali demi mencegah Jayalengkara dan pasukannya menduduki negara Jawa. Akhirnya, peperangan antara keduanya beserta pasukan masing-masing tidak dapat dihindarkan.[butuh rujukan]
Catatan mengenai jalan cerita tarian ini termuat dalam manuskrip berjudul Beksan Pethilan (kode T3) koleksi Perpustakaan KHP Kridhomardowo Keraton Yogyakarta.[2] Di bawah subjudul Beksan Panji Sekar dalam manuskrip tersebut tercatat kandha (narasi) serta pocapan (dialog) antara Jayakusuma dan Jayalengkara. Tarian ini dibuat untuk mengukuhkan karakter ksatria dan menjadi bagian dari pelatihan militer dan upacara istana.[3]
Ciri khas
Sebagai beksan kakung berempat, Beksan Panji Sekar dibawakan oleh dua penari sebagai Jayakusuma dan dua sebagai Jayalengkara. Properti yang digunakan meliputi jemparing (panah) dan keris.[4] Gerakannya terdiri dari tiga bagian utama: pembukaan dengan tari nggrudha, fase pertarungan (enjeran) dengan manipulasi senjata, dan penutup berupa gerak mundur (mundur gendhing).[butuh rujukan]
Penari mengenakan busana khas keraton, meliputi celana cindhe, lonthong cindhe, dan penutup kepala bertais keemasan, mirip dengan perlengkapan pada bedhaya dan srimpi. Sementara itu, iringan musiknya menggunakan gamelan laras pelog pathet barang, dengan komposisi gendhing seperti Lagon Wetah, Ladrang Rangu‑Rangu, dan Ketawang Sri Malela. Pada era kontemporer, tata musik diperluas dengan ansambel gesek barat (violin, cello) sebagai bagian dari revitalisasi di abad ke‑21.[5]
Upaya revitalisasi
Setelah lama jarang dipertunjukkan, Beksan Panji Sekar direkonstruksi kembali oleh ISI Yogyakarta pada 1988.[6] Pada 23 November 2020, Keraton Yogyakarta menampilkan kembali tari ini dalam acara Uyon-Uyon Hadiluhung di Bangsal Srimanganti—melibatkan kombinasi gamelan dan musik gesek barat.[4]
Pada tahun 2022, Beksan Panji Sekar ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 414/P/2022.[7] Penetapan ini memberikan legitimasi sekaligus dorongan bagi pelestarian dan pengembangan tarian klasik ini dalam konteks kontemporer.[butuh rujukan]
Upaya pelestarian dilakukan melalui rekonstruksi koreografi berdasarkan naskah kuno, pementasan berkala di lingkungan keraton, serta pelatihan generasi muda. Selain itu, dokumentasi digital dan kolaborasi musik modern turut memperkuat eksistensinya di tengah perkembangan seni pertunjukan kontemporer. Beksan Panji Sekar tidak sekadar hiburan, tetapi juga sarana edukasi moral. Kisah Panji mengandung pesan tentang keberanian, kesetiaan, dan keadilan—nilai yang dipertegas melalui simbol senjata dan struktur tari formal yang menekankan kesemestaan dan kedisiplinan prajurit keraton.[8]
Referensi
- ^ crew, kraton. "Beksan Panji Sekar". kratonjogja.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-06-19.
- ^ "Beksan Panji Sekar | PDF | Seni". Scribd. Diakses tanggal 2025-06-19.
- ^ admin (2023-06-03). "Sejarah Penciptaan Tari Beksan Panji Sekar". Penelitian Pariwisata. Diakses tanggal 2025-06-19.
- ^ a b Program, Admin (2020-11-17). "Uyon-uyon Hadiluhung : Beksan Panji Sekar (23 November 2020)". Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-06-19.
- ^ Redaksi, Tim (2023-01-27). "'Menari' dengan Biola: Interaksi Musikal Iringan Tari Beksan Panji Sekar". NI. Diakses tanggal 2025-06-19.
- ^ admin (2022-12-27). "Beksan Panji SekarYasan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwana I". Penelitian Pariwisata. Diakses tanggal 2025-06-19.
- ^ Pusdatin Kemendikbudristek (2022). "Beksan Panji Sekar". Referensi Data Kemdikbud. Diakses tanggal 2025-06-20.
- ^ admin (2023-06-07). "Nilai Budaya dan Makna Filosofis dalam Beksan Panji Sekar". Penelitian Pariwisata. Diakses tanggal 2025-06-19.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


