Beksan Inum
Beksan Inum adalah tarian klasik dari Pura Pakualaman, Yogyakarta, yang diciptakan oleh Sri Paku Alam II pada abad ke-19. Tarian ini awalnya diciptakan sebagai tarian untuk menjamu tamu penting atau para legiun yang pulang dari medan pertempuran. Gerakan tari ini memiliki perpaduan antara gaya Yogyakarta dan Surakarta, serta memiliki ciri khas gerakan yang disebut "pajek". Musik pengiring yang digunakan adalah gending Ladrang Inum. Berdasarkan Bausastra Jawa, istilah beksan memiliki makna sebagai jogetan atau tarian, sedangkan kata inum dalam bahasa Jawa berarti minum, sehingga tarian ini dinamakan Beksan Inum.[1]
Sejarah
Beksan Inum diciptakan oleh Sri Paku Alam II pada abad ke-19, tepatnya pada masa pemerintahannya antara tahun 1829 hingga 1858. Dalam perkembangannya, Beksan Inum mengalami proses penyempurnaan pada masa Sri Paku Alam IV, sekitar tahun 1864 hingga 1878. Tarian ini pada mulanya dipentaskan untuk menyambut para legiun Pura Pakualaman yang baru kembali dari medan perang, serta untuk menghormati tamu penting dan kerabat Dalem Paku Alam di Bangsal Sewatama. Esensi dari pertunjukan ini bersifat hiburan, yakni sebagai ungkapan kegembiraan dan sarana bersenang-senang.[2][3]
Perkembangan
Seiring perjalanan waktu, Beksan Inum sempat mengalami masa vakum dan hampir punah, terutama pada masa pemerintahan Sri Paku Alam VI hingga Sri Paku Alam VII. Upaya pelestarian kembali dilakukan pada era pemerintahan Sri Paku Alam VIII sekitar tahun 1990, ketika beberapa abdi dalem Pura Pakualaman berinisiatif merevitalisasi tarian ini berdasarkan gendhing atau iringan musik yang masih tersisa. Pada tahun 1997, versi yang telah mengalami sedikit penyesuaian dipertunjukkan di hadapan K.R.T. Wasitadipura, salah satu pengageng Pura Pakualaman, dan kemudian disajikan kepada Sri Paku Alam VIII. Setahun kemudian, pada tahun 1998, Beksan Inum kembali tampil di hadapan publik melalui ajang Festival Kraton di Yogyakarta, menandai kebangkitannya sebagai bagian dari warisan seni tari klasik Pakualaman.[3]
Busana
Busana yang dikenakan dalam pementasan Beksan Inum merupakan adopsi dari busana tradisional Gaya Pura Pakualaman. Pakaian ini melambangkan perpaduan dua unsur budaya yang terefleksi dalam kaidah dan tata busana yang secara umum diaplikasikan pada berbagai repertoar tari di lingkungan Pura Pakualaman.[2]
Referensi
- ^ Harjanta, Feri Catur; Kuswarsantyo, K. (2020-06-05). "HYBRIDITY OF BEKSAN FLORET PURA PAKUALAMAN YOGYAKARTA: POSTCOLONIAL STUDY". European Journal of Education Studies (dalam bahasa Inggris). 0 (0). doi:10.46827/ejes.v0i0.3096.
- ^ a b Murdyastomo, HY Agus (2012-06-01). "POLITIK KOLONIAL DAN PERKEMBANGAN SENI TARI DI PURO PAKUALAMAN PADA MASA PEMERINTAHAN PAKU ALAM IV (1864-1878". Informasi (dalam bahasa Inggris). 38 (2). doi:10.21831/informasi.v2i2.4451. ISSN 2502-3837.
- ^ a b 1011305011, Anggoro Budiman, (2017-08-02). "Bentuk Penyajian Beksan Inum Di Pura Pakualaman Daerah Istimewa Yogyakarta". digilib.isi.ac.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-13. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


