Bayu Toraya
Bayu Toraya adalah baju adat yang berasal dari daerah Tana Toraja, Sulawesi Selatan, Indonesia. Baju adat ini berwarna hitam, lengan panjang, bentuk leher V dengan panjang baju sampai panggul. Bayu Toraya terbuat dari bahan tenunan khas Mamasa. Baju ini bukan hanya berfungsi sebagai busana, tetapi juga memiliki makna simbolis yang kuat terkait kekuatan, Perlindungan Spiritual, dan Identitas Budaya. Bayu Toraya, Genrang Labobo, Masara Majaga Sando Batu, Gantala Jarang, Cemme Passili dan Tammu Taung ditetapkan Jadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia tahun 2024.[1]
Baju adat Bayu Toraya umumnya terdiri dari atasan lengan panjang berwarna gelap biasanya hitam atau merah tua. Baju ini dipadukan dengan Pote dan Dodo. Dodo merupakan sarung tenun Mamasa warna hitam polos dijadikan sebagai rok, yang dililitkan dipinggang sampai mata kaki. Sarung yang digunakan ukurannya lebih kecil. Penggunaan Pote bagi perempuan dari keluarga yang berduka tidak dililitkan dikepala tapi diurai ke belakang. Sepu digunakan sebagai tas untuk menyimpan daun siri, pinang, kapur, uang dan lain-lain. Sarong patongko, semacam tudung terbuat dari bagian dalam bambu atau rotan. Sarung patongko pada upacara rambu solo digunakan pada saat mengiring jenasah ke kuburan. pada beberapa kegiatan dapat menggunakan aksesoris lain seperti manik, sassing, dan ponto tergantung pada selera orang yang memakainya.[2][3]
Baju adat ini tidak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, melainkan khusus dikenakan dalam upacara adat, atau pertunjukan budaya. Dalam konteks upacara seperti Rambu Solo (upacara kematian) atau Rambu Tuka (upacara syukuran). Pakaian adat ini mengandung makna makna simbolis nilai-nilai budaya masyarakat baik dalam strata Sosial, Ekonomi, maupun Agama. Warna-warna yang digunakan pada pakaian adalah warna putih, merah, kuning dan hitam. Warna hitam hanya digunakan pada upacara kedukaan/kematian sebagai simbol kesedihan bagi keluarga. Kini, baju adat Bayu Toraya juga menjadi simbol pelestarian budaya dan identitas kultural masyarakat Toraja, serta dikenalkan dalam berbagai festival budaya untuk memperkenalkan nilai-nilai tradisional kepada generasi muda. Gencar melakukan promosi baik secara langsung maupun melalui media sosial tentang pakaian tradisional Toraja.[4]
Referensi
- ^ admin, admin. "Bayu Toraya, Genrang Labobo, Masara Majaga Sando Batu, Gantala Jarang, Cemme Passili dan Tammu Taung Ditetapkan Jadi WBTb Indonesia 2024".
- ^ Patmawati, Patmawati; A.S, Mariani (2021-02-22). "Keberadaan Adat Rambu Solo' Di Mamasa". Phinisi Integration Review. 4 (1): 115. doi:10.26858/pir.v4i1.19377. ISSN 2614-2317.
- ^ Kasim, Yaslinda Utari. "Mengenal Pakaian Adat Khas Toraja untuk Pria 'Seppa Tallung Buku'". detiksulsel. Diakses tanggal 2025-06-19.
- ^ editor (2024-08-21). "Mengenal Baju Adat Toraja dalam Pengajuan WBTB Indonesia Tahun 2024". INTI MEDIA NETPEDIA. Diakses tanggal 2025-06-19.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


