Barong Nong Nong Kling

Barongan, makhluk mitos berkepala binatang dengan tubuh yang besar dan mengagumkan.

Tradisi Barong Nong Nong Kling merupakan ritual tolak bala yang berkembang dalam masyarakat Klungkung, Bali. Praktik budaya ini tidak semata-mata berfungsi sebagai pertunjukan rakyat, melainkan menjadi bagian dari sistem kepercayaan lokal yang bertujuan menjaga harmoni antara dunia sekala, yakni realitas kasatmata, dan dunia niskala, yang dipahami sebagai ranah tak terlihat namun diyakini memengaruhi kehidupan manusia. Asal-usul tradisi Barong Nong Nong Kling dapat ditelusuri ke Dusun Suwelagiri, Desa Aan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung. Bentuk kesenian ini memadukan unsur tari, musik, serta dramatikal sebagai medium ekspresi, sehingga menempatkannya sebagai salah satu representasi penting seni pertunjukan tradisional di wilayah tersebut.[1][2]

Pementasan

Pementasan Barong Nong Nong Kling dilaksanakan oleh para pria yang merupakan anggota pura setempat. Ritual ini biasanya diselenggarakan pada perayaan Hari Raya Galungan atau Kuningan. Dalam keyakinan masyarakat, periode tersebut memiliki intensitas spiritual yang tinggi karena bertepatan dengan datang dan kembalinya roh suci leluhur ke alam kahyangan. Oleh sebab itu, tradisi ini dipandang memiliki kemampuan simbolis untuk menetralkan kekuatan negatif dan memberikan perlindungan terhadap desa dari ancaman penyakit, bencana, maupun gangguan makhluk halus.[3] Penampilannya tidak dapat dilakukan sembarangan, karena terikat pada aturan adat serta waktu pelaksanaan tertentu. Tradisi ini biasanya diawali dengan prosesi penyucian atau melasti barong ke sumber air di pantai sebelum arak-arakan dimulai, sebagai bentuk pemurnian sebelum mengelilingi desa.[4]

Dalam praktiknya, tradisi ini menghadirkan Barong Ket atau Barong Bangkal yang diarak mengelilingi desa oleh warga. Arak-arakan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai pertunjukan, tetapi juga menjadi simbol pembersihan wilayah dari unsur negatif. Masyarakat setempat meyakini bahwa setiap langkah barong membawa perlindungan dan mengusir potensi gangguan terhadap keharmonisan hidup.[5]

Sejarah

Desa Aan pernah mengalami wabah yang dipicu oleh kegagalan panen. Berdasarkan pawisik atau petunjuk spiritual yang diterima masyarakat, lahirlah Barong Nong-Nong Kling sebagai media pelaksanaan ritual Ngelawang. Ritual ini dilakukan dengan mengarak barong berkeliling desa, diiringi tabuhan gamelan, dan diyakini mampu menolak mara bahaya serta memulihkan kembali kesuburan wilayah. Penamaan “Nong-Nong Kling” merujuk pada karakter bunyi iringan gamelan yang menghasilkan denting khas “nong, nong, kling”. Meskipun tidak menampilkan barong secara penuh selain penggunaan topeng, kesenian ini tetap berada dalam rumpun tradisi barong Bali. Sumber cerita pertunjukannya umumnya berasal dari epos Ramayana, khususnya lakon “Kerebut Kumbakarna”, yaitu kisah perebutan Kumbakarna oleh para kera.[5]

Referensi

  1. ^ Julianti, Ni Made Gita. "Mengenal Barong Nong Nong Kling, Tradisi Tolak Bala dari Klungkung". detikbali. Diakses tanggal 2025-11-13.
  2. ^ "4 Karya Tradisi di Klungkung, Bali, Jadi Warisan Budaya Tak Benda Nasional". kumparan. Diakses tanggal 2025-11-14.
  3. ^ Budiadnyana, Ari (2023-02-15). "Sejarah Tari Barong Nong Nong Kling dari Desa Aan Klungkung". IDN Times Bali. Diakses tanggal 2025-11-14.
  4. ^ NusaBali. "Barong Nong Nong Kling Terkait Erat dengan Berdirinya Desa Aan". www.nusabali.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-14.
  5. ^ a b Mayasari, Cok Istri Krisna Wardani Pemayun, I. Dewa Ayu Dwi (2023-06-20). "PERLINDUNGAN HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL TERHADAP KESENIAN BARONG NONG-NONG KLING DESA AAN SEBAGAI EKSPRESI BUDAYA TRADISIONAL". Jurnal Harian Regional (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-14. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement