Bantengan Lereng Semeru
Bantengan Lereng Semeru adalah jenis kesenian bantengan tradisional Indonesia yang berasal dari wilayah lereng Gunung Semeru di Jawa Timur. Ciri khasnya adalah menggunakan kerangka bambu untuk bagian punggung banteng dan seringkali menceritakan kisah-kisah yang berlatar di pegunungan. Kesenian ini merupakan bagian dari tradisi Bantengan "mberot" yang lebih luas dan diusulkan menjadi Warisan Budaya Takbenda.[1]
Upaya pelestarian
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang (Bidang Kebudayaan) bersama Maestro dan pelaku seni Bantengan Lereng Semeru menggelar kegiatan dokumentasi/pembuatan video dokumenter tentang pertunjukan seni Bantengan Lereng Semeru di Kecamatan Wajak pada tanggal 14 Juli 2025 . Kegiatan tersebut bertujuan untuk melengkapi persyaratan usulan untuk menetapkan Bantengan Lereng Semeru Kecamatan Wajak sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Kabupaten Malang.[2]
Namun kesenian tersebut tidak bisa diklaim menjadi milik Bumi Kanjuruhan dikarenakan kesenian tersebut sudah berkembang di berbagai kabupaten/kota lainnya, seperti Mojokerto, Kota Malang, dan Kota Batu. maka yang diajukan menjadi WBTB (Warisan Budaya Tak Benda) saat ini adalah Bantengan Lereng Semeru yang dari Wajak dan sekitarnya.[3]
Sejarah Bantengan di Indonesia
Bantengan adalah seni pertunjukan tari tradisional rakyat. Kesenian ini mulai berkembang pesat pada 1960-an. Tarian bantengan dikembangkan dari kesenian kebo-keboan asal Ponorogo. Kala itu pesilat asal Madiun datang ke Ponorogo untuk melihat pertunjukan kesenian kebo-keboan. Seni kebo-keboan sendiri merupakan kesenian yang dipercaya sebagai tolak bala dan penyelamat Raja Surakarta Paku Buwono II dari berbagai serangan pemberontakan keraton.[4]
Pesilat asal pegunungan Mojokerto, Malang, dan Batu kemudian terinspirasi membuat kesenian serupa dengan menggunakan bentuk hewan banteng. Hewan banteng dipilih karena mulai punah. Mulanya, kesenian bantengan ditujukan sebagai pengingat dan pendorong untuk masyarakat akan bela diri pencak silat. Oleh karenanya, tanduk pada bantengan sebelum tahun 2000 masih menyerupai tanduk kerbau pada kesenian kebo-keboan. Seiring berjalannya waktu, kesenian bantengan menggunakan tanduk banteng. Kain pada bantengan biasanya didominasi warna hitam yang bertepi merah, seperti pakaian adat Ponorogo, Penadon. Bantengan berkembang ke tiga wilayah, di antaranya Mojokerto, Malang, dan Batu. Kesenian ini juga mulai dilestarikan di Jombang.[4]
Perkembangan Bantengan di Indonesia
Kesenian bantengan dilakukan oleh sebagian besar penduduk di pinggiran kota di daerah lereng pegunungan. Tepatnya penduduk di sekitar wilayah Bromo-Tengger-Semeru, Arjuno-Welirang, Anjasmoro, Kawi, dan Raung-Argopuro. Kesenian ini biasanya dimainkan dua orang. Peran dua orang tersebut terbagi menjadi kaki depan dan kaki belakang. Peran kaki depan sebagai pemegang kepala bantengan dan pengontrol tari bantengan. Sementara kaki belakang bertugas sebagai ekor bantengan. Dua orang tersebut biasanya dimainkan dua laki-laki.[4]
Kostum yang digunakan untuk tari bantengan terbuat dari kain hitam dan topeng berbentuk kepala banteng yang terbuat dari kayu. Selain itu, kepala banteng juga dilengkapi tanduk asli kerbau atau banteng. Adapun replika tanduk terbuat dari kayu. Tarian bantengan diiringi alunan musik khas bantengan, di antaranya gong, kendang, dan lain-lain. Bagian depan sebagai kepala akan mengalami kesurupan, sehingga orang di belakangnya juga akan mengalami hal serupa. Pasalnya, orang bagian belakang akan mengikuti setiap gerakan orang bagian depan.[4]
Bantengan mengalami kesurupan karena dipicu irengan atau abangan. Seperti diketahui, irengan merupakan laki-laki yang mengenakan pakaian serba hitam. Sedangkan, abangan merujuk pada laki-laki yang mengenakan pakaian serba merah. Selain itu, bantengan juga kerap kali diiringi macanan. Peran macanan untuk membantu bantengan kesurupan serta menahannya apabila kesurupan dinilai terlalu brutal. Kostum macanan terbuat dari kain berwarna kuning belang oranye. Macanan juga diperankan oleh seorang laki-laki.[4]
Jenis & ciri khas Bantengan di Indonesia
Bantengan lereng memiliki ciri khasa sesuai lereng dan terbagi menjadi enam jenis, yaitu bantengan lereng Kawi, Semeru, Arjuno, Kendeng, Tengger, dan Dorowati. Keenamnya memiliki ciri khusus. Seperti bantengan yang berasal dari lereng Semeru dan Tengger, menggunakan kerangka bambu untuk punggung banteng. Sementara bantengan dari lereng Kawi, Dorowati, dan Kendeng tidak menggunakan kerangka. Lalu bantengan lereng Arjuno menggunakan keduanya. Nama bantengan lereng sesuai cerita di Candi Jago. Di sana terdapat Nandaka Giri yang artinya gunung. Karena hal itu juga, cerita-cerita bantengan yang ditampilkan biasanya mengambil latar gunung. Biasanya, dalam cerita tersebut, banteng akan bertarung dengan hewan lainnya, seperti harimau, kera, dan sebagainya.[3]
Ornamen Bantengan
Terdapat tujuh ornamen yang ada pada bantengan di antaranya sebagai berikut.
- Tanduk (banteng, kerbau, sapi, dan lain-lain)
- Kepala banteng terbuat dari kayu (waru, dadap, kembang, loh, miri, nangka, dan masih banyak lagi)
- Mahkota bantengan berupa sulur wayang terbuat dari bahan kulit atau kertas
- Kelontong (alat bunyi di leher)
- Keranjang penjalin sebagai badan dengan menggunakan kain hitam untuk menutupi bagian antara kepala dan kaki belakang
- Gongseng kaki
- Keluhan (tali kendali).[4]
Referensi
- ^ "Disparbud Ajukan Bantengan Lereng Semeru dan Kolak Goblok Poncokusumo sebagai Warisan Budaya Takbenda - Tuban Times". Jatim TIMES. Diakses tanggal 2025-11-04.
- ^ "Dokumentasi Bantengan Lereng Semeru Langkah Menuju WBTb Kabupaten Malang". Matic. Diakses tanggal 2025-11-04.
- ^ a b Mahmudan. "Bantengan Lereng Semeru Sudah Pernah Diusulkan Disparbud Kabupaten Malang Jadi WBTB - Radar Malang". Bantengan Lereng Semeru Sudah Pernah Diusulkan Disparbud Kabupaten Malang Jadi WBTB - Radar Malang. Diakses tanggal 2025-11-04.
- ^ a b c d e f Sugita, Nabila Meidy. "Sekilas tentang Kesenian Bantengan yang Terinspirasi dari Kebo-keboan". detikjatim. Diakses tanggal 2025-11-04.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


