Banjir dan longsor Asia Tenggara 2025
Searah jarum jam dari atas: Citra satelit inframerah Siklon Senyar (kiri) dan Siklon Koto (kanan) pada 26 November • Banjir bandang di Padangsidimpuan • Sebuah pohon tumbang di Kota Cebu, Filipina pasca Topan Kalmaegi • Jalan utama di Padang Panjang hancur akibat longsor • Citra satelit inframerah Siklon Ditwah saat melanda Sri Lanka | |
| Tanggal | November 2025 |
|---|---|
| Lokasi | |
| Penyebab | Hujan lebat akibat Siklon Senyar, Topan Fung-Wong, Topan Kalmaegi, Siklon Ditwah |
| Tewas | 2.370 (per 9 Desember) |
| Cedera | 3.123 (per 2 Desember) |
| Hilang | 1.024 (per 2 Desember) |
| Kerugian harta benda | Rp 86.9 triliun ($5.23 miliar) |
| Terdampak | >15.7 Juta |
| Mengungsi | >2.1 Juta |
Bagian dari Musim siklon Samudra Hindia 2025 | |
Bencana Banjir dan Tanah Longsor Asia Tenggara 2025 adalah serangkaian bencana hidrometeorologi parah yang melanda sebagian besar wilayah Asia Tenggara dan wilayah Asia Selatan yang berdekatan selama paruh kedua tahun 2025.[1] Krisis ini memuncak pada bulan November 2025, dipicu oleh Siklon Tropis Senyar yang langka dan kuat, serta sistem siklon lain yang terjadi bersamaan di tengah kondisi Monsun Timur Laut dan La Niña.[2][3]
Bencana ini tercatat sebagai salah satu peristiwa bencana alam paling mematikan di Asia Tenggara pada tahun 2025.[4][5] Dampak gabungan dari Siklon Senyar dan badai terkait lainnya menyebabkan total lebih dari 798 orang meninggal di Indonesia, Thailand, dan Malaysia. Korban jiwa secara keseluruhan di seluruh wilayah terdampak (termasuk Filipina, Vietnam dan Sri Lanka) melampaui 900 orang, dengan ribuan orang hilang dan jutaan jiwa terdampak secara langsung.[6][7][8]
Para ahli dan badan internasional secara eksplisit mengaitkan intensitas luar biasa dari bencana ini sebagai "contoh terbaru dari dampak krisis iklim pada pola badai dan cuaca ekstrem".[9] Selain itu, analisis menunjukkan bencana diperburuk oleh faktor non-iklim, khususnya deforestasi skala besar dan pengelolaan lahan yang buruk di daerah perbukitan, yang meningkatkan kerentanan terhadap longsoran mematikan.[10][11]
Latar belakang dan penyebab

Badai tropikal (39–73 mph, 63–118 km/h)
Kategori 1 (74–95 mph, 119–153 km/h)
Kategori 2 (96–110 mph, 154–177 km/h)
Kategori 3 (111–129 mph, 178–208 km/h)
Kategori 4 (130–156 mph, 209–251 km/h)
Kategori 5 (≥157 mph, ≥252 km/h)
Tidak diketahui

Siklon Senyar
Puncak krisis di Asia Tenggara dipicu oleh Siklon Tropis Senyar, sebuah siklon langka yang terbentuk di Selat Malaka pada November 2025. Senyar bermula dari daerah bertekanan rendah pada 22 November dan menguat menjadi badai depresi pada 25 November. Pada 26 November, sistem tersebut dinamai Siklon Senyar oleh Departemen Meteorologi India (IMD), dengan kecepatan angin maksimum mencapai 43 knot atau sekitar 80 km/jam.
Siklon Senyar bergerak melintasi Selat Malaka dan mendarat di timur laut Sumatra menjelang tengah malam 25 November. Meskipun perkembangannya terbatas karena kedekatan dengan daratan, sistem ini membawa hujan deras dan banjir bandang ke Sumatra, Thailand Selatan, dan Semenanjung Malaysia. Senyar merupakan siklon tropis kedua yang terdokumentasikan di Selat Malaka setelah Badai Tropis Vamei pada tahun 2001. Setelah melintasi Semenanjung Malaysia dan mendarat kedua di Selangor, sisa-sisa badai ini muncul kembali di Laut Cina Selatan pada 28 November dan beregenerasi.
Konteks meteorologi regional
Peristiwa ini terjadi di tengah musim Monsun Timur Laut dan kondisi atmosfer didukung oleh fenomena La Niña, yang diprediksi berlanjut hingga awal 2026 dan berkorelasi dengan curah hujan di atas rata-rata di Asia Tenggara.
Di samping Siklon Senyar, krisis regional diperburuk oleh:
- Siklon Ditwah yang menyebabkan bencana skala besar di Sri Lanka.
- Topan Kalmaegi (Tino) dan Fung-Wong (Uwan) yang menghantam Filipina secara berurutan dalam waktu kurang dari seminggu.
Anomali curah hujan tercatat sangat ekstrem. Kota Hat Yai di Provinsi Songkhla, Thailand, mencatat curah hujan sebesar 335 milimeter (13,2 inci) dalam satu hari pada 21 November, yang dilaporkan sebagai jumlah terberat yang tercatat dalam satu hari dalam 300 tahun terakhir di wilayah tersebut.
Kerentanan lingkungan
Bencana 2025 diperparah oleh kerentanan internal yang diciptakan oleh manusia. Kerusakan lingkungan, termasuk deforestasi dan aktivitas tambang ilegal, disebut oleh pakar turut memperparah dampak bencana ini. Di Sumatra, hilangnya jutaan hektar hutan selama dua puluh tahun terakhir telah menghilangkan sistem retensi dan penyerapan air alami, yang mengubah hujan lebat menjadi longsor bandang yang mematikan.
Dampak dan korban
| Negara Terdampak | Peristiwa Utama | Korban Jiwa | Luka-luka | Orang Hilang | Total Orang Terdampak/Mengungsi |
|---|---|---|---|---|---|
| Siklon Senyar (Banjir dan Longsor Sumatera) | 1.135 | 7.000 | 173 | 3.3 juta orang terdampak dan >845 ribu jiwa mengungsi | |
| Siklon Senyar (Semenanjung) dan Longsor Sabah | 3 | - | - | 34 ribu jiwa mengungsi | |
| Banjir Monsun Selatan dan Siklon Senyar | 297-1.068 | - | - | 3.6 juta penduduk terdampak | |
| Banjir bandang | 90 | - | 12 | 202.5 ribu rumah terendam | |
| Topan Tino dan Topan Uwan | >322 | 523 | 125 | 7.52 juta orang terdampak dan 1.4 juta jiwa mengungsi[12] | |
| Banjir dan longsor (Siklon Ditwah) | 628 | - | 214 | 1.3 juta terdampak |
Indonesia


Indonesia mengalami bencana alam paling mematikan di negara tersebut sejak gempa bumi dan tsunami Sulawesi 2018, dengan 1.135 orang meninggal dunia, 173 orang hilang, dan 7.000 orang luka-luka akibat Siklon Senyar.[13] Total lebih dari 3.3 juta orang terdampak, dengan 1.1 juta orang mengungsi di tiga provinsi utama.[14]
- Sumatra Utara: 271 korban jiwa, dengan dampak terparah di Kabupaten Tapanuli Tengah (204 korban jiwa, 51 hilang).
- Sumatra Barat: 261 korban jiwa, termasuk 194 orang tewas akibat banjir bandang di Kabupaten Agam. Tanah longsor di gerbang masuk Padang Panjang menewaskan 30 orang.
- Aceh: 503 korban jiwa, 3.500 luka-luka, dan 31 lainnya hilang. Sekitar 46.000 rumah rusak. Pemadaman listrik terjadi di sebagian wilayah Aceh akibat tower transmisi 150 KV roboh diterjang banjir bandang.[15]
Kerusakan infrastruktur sangat luas; akses jalan utama seperti Jalan Tarutung-Sibolga lumpuh total akibat banjir setinggi 3 meter dan tertimbun longsor. Sejumlah infrastruktur ketenagalistrikan milik PLN juga rusak.
Malaysia
Malaysia mengalami dua insiden signifikan. Insiden pada September di Pulau Kalimantan (Sabah) menyebabkan longsor dan banjir bandang, menewaskan 13 hingga 14 orang dan membuat 3.134 orang mengungsi. Periode kedua pada November, akibat Siklon Senyar, membawa banjir besar ke Semenanjung Malaysia, menyebabkan evakuasi terhadap lebih dari 34.000 orang di 10 negara bagian. Tiga orang dilaporkan tewas akibat banjir di Kelantan.
Thailand
Banjir akibat Siklon Senyar dan Monsun Timur Laut diperkuat berdampak pada 3,6 juta orang di 20 provinsi di Thailand, terutama di wilayah Selatan. Setidaknya 297–1.068 korban jiwa dilaporkan di negara tersebut, dengan 200 korban jiwa di antaranya terpusat di Provinsi Songkhla, yang dinyatakan sebagai zona bencana. Beberapa laporan lain dari petugas penyelamat menyebutkan jumlah korban tewas di Songkhla mendekati 550 hingga 1.000 jiwa.
Dampak terburuk terjadi di kota Hat Yai, Songkhla. Curah hujan ekstrem (335 mm dalam satu hari) menyebabkan banjir mencapai kedalaman 2 meter, menelantarkan 7.000 wisatawan asing dan merusak situs keagamaan, seperti kuil Mahattamangkalaram yang terendam air hingga 16 kaki. Kerusakan ekonomi akibat banjir di Thailand diperkirakan mencapai 100 miliar baht (US$3,11 miliar).
Vietnam
Vietnam mengalami hujan ekstrem dan banjir bandang di Wilayah Tengah dari 16 hingga 22 November. Dampak kemanusiaan mencatat total 90 orang meninggal dan 12 orang hilang per 24 November, dengan sebagian besar fatalitas (63 jiwa) terkonsentrasi di Provinsi Dak Lak. Sebanyak 202.567 rumah terendam. Kerugian di sektor pertanian sangat signifikan, termasuk kerusakan pada 82.414 hektar sawah dan kerugian 1.730.983 ternak dan unggas. Kerugian ekonomi awal diestimasi mencapai 13.748 miliar VND (sekitar $522 Juta USD).
Filipina
Filipina menghadapi serangan berurutan dari Topan Kalmaegi (Tino) dan Super Topan Fung-Wong (Uwan) pada bulan November. Secara gabungan, badai ini mengakibatkan lebih dari 322 kematian dan lebih dari 100 orang hilang. Bencana ini memengaruhi sekitar 13 juta orang dan menyebabkan penangguhan kelas yang memengaruhi sekitar 17 juta pelajar. Namun, sistem peringatan dini yang efektif memungkinkan evakuasi pencegahan massal terhadap lebih dari 1.5 juta orang.
Sri Lanka
Siklon Ditwah menyebabkan bencana alam terburuk di Sri Lanka sejak tsunami 2004. Angka kematian mencapai 628 jiwa, dengan hampir 218 orang hilang per 5 Desember. Lebih dari 1.3 juta orang terdampak, dan wilayah dataran rendah ibu kota, Kolombo, terendam air. Krisis ini memicu penurunan kritis pada suplai darah, yang sangat dibutuhkan oleh rumah sakit, akibat terhentinya kampanye donor darah.
Tanggap darurat dan pemulihan
Bantuan Nasional dan Internasional
Menghadapi skala bencana, pemerintah Indonesia segera mengerahkan bantuan besar-besaran, termasuk tiga pesawat Hercules C-130 dan satu A-400 dari Presiden Indonesia, serta total 6 ton logistik dari Kepolisian Republik Indonesia (Polri) menggunakan pesawat Fokker 50 dan CN295. Kementerian Sosial (Kemensos) menyalurkan bantuan sebesar Rp 2,6 miliar dan mendirikan tenda darurat serta dapur umum. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) memberikan bantuan darurat berupa sembako, family kit, kitchen kit, tenda pengungsi, dan perahu karet.
Sebagai dukungan teknologi, layanan internet satelit Starlink milik Elon Musk digratiskan bagi korban banjir dan longsor di Sumatra hingga akhir Desember 2025.
Di Thailand, Angkatan Laut Kerajaan mengerahkan 14 kapal, termasuk kapal induk HTMS Chakri Naruebet, untuk menyediakan pasokan bantuan dan personel medis. Secara internasional, India menyediakan 10 ton bantuan darurat ke Sri Lanka di bawah Operation Sagar Bandhu, termasuk pasokan tanggap bencana dan tim medis.
Implikasi Kebijakan Jangka Panjang
Krisis 2025 terjadi di tengah diskusi ASEAN mengenai kerangka kerja pasca-2025 untuk Pengurangan Risiko Bencana (DRR). Peristiwa ini menyoroti urgensi untuk mengalihkan investasi dari pemulihan reaktif ke pencegahan proaktif (proactive prevention). Laporan Global Assessment Report (GAR) 2025 menyoroti bahwa total biaya bencana global melampaui $2.3 triliun per tahun ketika biaya berjenjang dan ekosistem diperhitungkan, menjadikan bencana hidrometeorologi sebagai ancaman sistemik terhadap stabilitas finansial regional.
Krisis ini mendorong perlunya:
- Tata Kelola Lingkungan yang Kuat: Mengatasi deforestasi skala besar di kawasan rentan merupakan tindakan mitigasi risiko bencana yang mendasar.
- Penggunaan Bantuan Tunai: Para ahli merekomendasikan penggunaan bantuan tunai langsung (Cash Assistance) sebagai strategi pemulihan inti untuk mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat yang terdampak dan memastikan dukungan yang relevan dan tepat waktu.
- Akselerasi Adaptasi Iklim: Bukti curah hujan ekstrem menuntut kesiapan dan adaptasi terhadap anomali cuaca yang didorong oleh krisis iklim.
Lihat pula
- Siklon tropis di Indonesia
- Daftar siklon tropis di Indonesia
- Siklon Senyar
- Banjir dan longsor Sumatra 2025
- Topan Fung-wong (2025)
Referensi
- ^ Widyatama, Elvan. "Musim Hujan Paling Ekstrem, Badai & Banjir Hantam Asia Tenggara". CNBC Indonesia. Diakses tanggal 2025-12-01.
- ^ [email protected], Fransisca Romana Ninik W.- (2025-12-01). "Asia Tenggara yang Makin Merana Dilanda Bencana". Kompas.id. Diakses tanggal 2025-12-01.
- ^ Global Humanitarian Overview 2024 – Abridged Report. United Nations. 2023-12-01. hlm. 1–20. ISBN 978-92-1-358708-9.
- ^ "ASEAN Weekly Disaster Update Week 47 | 17 – 24 November 2025 - Philippines | ReliefWeb". reliefweb.int (dalam bahasa Inggris). 2025-11-24. Diakses tanggal 2025-12-01.
- ^ Pirard, Cassian (2025-04-19). "Floods and Water Management in Chiang Mai and the Upper Ping catchment, Northern Thailand". doi.org. Diakses tanggal 2025-12-01.
- ^ "Banjir-Longsor Asia Tenggara: Ratusan Orang Tewas – DW – 28.11.2025". dw.com. Diakses tanggal 2025-12-01.
- ^ Amelia, Nayla (2025-11-30). "The Mass Disaster of November 2025: When Human Hands Were to Blame, Not the Sky". Modern Diplomacy (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-12-01.
- ^ 杜娟. "Southeast Asia eyes aid for climate adaptation". global.chinadaily.com.cn. Diakses tanggal 2025-12-01.
- ^ "Global Assessment Report (GAR) 2025". www.undrr.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-01.
- ^ "2025 Southeast Asia Severe Storms". Center for Disaster Philanthropy (dalam bahasa American English). 2025-11-26. Diakses tanggal 2025-12-01.
- ^ "Global Flood Awareness System – GloFAS News". global-flood.emergency.copernicus.eu. Diakses tanggal 2025-12-01.
- ^ Rowlands, Lyndal. "Typhoon Fung-wong leaves Philippines with 10 dead, 1.4 million displaced". Al Jazeera (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-02.
- ^ "Sebulan Usai Banjir Sumatera, Korban Tewas Capai 1.135 Orang". Kompas.com. 25 Desember 2025. Diakses tanggal 26 Desember 2025.
- ^ "Lebih dari 600 orang meninggal dunia, Prabowo tinjau lokasi – Perkembangan terbaru banjir dan longsor di Sumatra". BBC Indonesia. 1 Desember 2025. Diakses tanggal 1 Desember 2025.
- ^ "Korban Banjir Aceh Terus Bertambah Jadi 156 Orang Meninggal, 181 Jiwa Masih Hilang". Tribun Network. 1 Desember 2025. Diakses tanggal 1 Desember 2025.
Pranala luar
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


