Banjir bandang Khyber Pakhtunkhwa 2025
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (September 2025) |
| Penyebab | Hujan monsun deras, fenomena cloudburst, dan luapan danau glasial[1] |
|---|---|
| Cedera | 1.000+ (nasional)[2] |
| Hilang | 100+ (di distrik Buner)[3] |
| Kerugian harta benda | Ribuan rumah, sekolah, jembatan, dan infrastruktur rusak parah. Lebih dari 23.000 orang mengungsi.[2] |
Banjir bandang Khyber Pakhtunkhwa 2025 adalah serangkaian banjir bandang dan tanah longsor dahsyat yang melanda provinsi Khyber Pakhtunkhwa di Pakistan sebagai bagian dari musim monsun yang parah sejak akhir Juni 2025. Bencana ini memuncak pada pertengahan Agustus, disebabkan oleh hujan monsun yang sangat deras, fenomena cloudburst (ledakan awan), dan luapan danau glasial, yang menyebabkan kerusakan luas dan ratusan korban jiwa.[1]
Penyebab
Banjir dipicu oleh hujan deras yang turun terus-menerus sejak musim monsun dimulai pada 26 Juni. Situasi ini diperparah oleh fenomena cloudburst langka yang melanda wilayah utara, termasuk Khyber Pakhtunkhwa, di mana beberapa distrik menerima curah hujan lebih dari 150mm dalam satu jam.[1] Faktor-faktor lain yang berkontribusi termasuk luapan danau glasial (GLOFs) di Gilgit-Baltistan yang menambah volume air ke hilir, serta deforestasi yang mengurangi kemampuan tanah untuk menyerap air hujan.[1][3] Kombinasi ancaman ini diperkuat oleh pembangunan pemukiman di dekat bantaran sungai dan dataran banjir dalam beberapa dekade terakhir.[1]
Dampak
Banjir dan longsor menyebabkan kerusakan parah di seluruh Pakistan, dengan Provinsi Khyber Pakhtunkhwa menjadi yang paling parah terkena dampaknya.[4] Sembilan distrik di provinsi tersebut dinyatakan dalam keadaan darurat, termasuk Buner, Swat, Shangla, dan Mansehra.[5]
Secara keseluruhan di Khyber Pakhtunkhwa, lebih dari 2.113 rumah dan 266 sekolah hancur.[2] Infrastruktur vital seperti jalan dan jembatan juga mengalami kerusakan parah, memutus akses ke seluruh desa dan komunitas.[4] Distrik Buner dilaporkan sebagai salah satu daerah yang paling hancur, di mana air bah yang membawa bebatuan dan puing-puing menyapu bersih rumah dan mata pencaharian warga dalam hitungan menit.[5] Bencana ini menyebabkan lebih dari 23.430 orang di provinsi tersebut mengungsi, dengan banyak dari mereka berlindung di fasilitas pendidikan yang dialihfungsikan menjadi tempat penampungan sementara.[2]
Korban
Hingga 28 Agustus 2025, jumlah korban tewas akibat bencana ini di seluruh Pakistan telah mencapai 804 orang sejak akhir Juni.[1] Provinsi Khyber Pakhtunkhwa mencatat jumlah korban tertinggi, dengan setidaknya 465 kematian dilaporkan pada 22 Agustus.[2] Angka dari Otoritas Penanggulangan Bencana Provinsi (PDMA) bahkan menyebutkan lebih dari 400 korban jiwa.[3]
Distrik Buner mengalami jumlah korban tertinggi di provinsi tersebut, dengan lebih dari 237 orang tewas dan hampir 100 orang lainnya masih hilang.[2][3] Korban jiwa juga termasuk lebih dari 200 anak-anak di seluruh Pakistan.[3] Pihak berwenang memperingatkan bahwa jumlah korban kemungkinan akan terus bertambah karena operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung dan banyak daerah masih terisolasi.[3]
Respons
Pemerintah Provinsi Khyber Pakhtunkhwa segera menetapkan status darurat di sembilan distrik yang terdampak paling parah.[5] Militer dikerahkan untuk membantu operasi pencarian, penyelamatan, dan evakuasi, serta memperbaiki infrastruktur yang rusak. Ketua Menteri Khyber Pakhtunkhwa, Ali Amin Gandapur, meninjau langsung lokasi banjir dan memimpin rapat koordinasi penanganan bencana, memastikan distribusi bantuan darurat seperti makanan, tenda, dan selimut kepada para pengungsi.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, António Guterres, menyampaikan belasungkawa, dan tim PBB di lapangan menyatakan siap memberikan bantuan.[5] Berbagai lembaga bantuan kemanusiaan bekerja untuk menjangkau daerah-daerah yang paling parah terkena dampak untuk menyediakan makanan, air bersih, dan perawatan medis.[4]
Referensi
- ^ a b c d e f "Behind Pakistan's repeated floods: Melting glaciers, depleted forests". Al Jazeera. 28 August 2025. Diakses tanggal 31 August 2025.
- ^ a b c d e f Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref>tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernamaOCHAUpdate - ^ a b c d e f "'It happened in seconds': residents count the cost of deadly floods that have left Pakistan in crisis". The Guardian. 25 August 2025. Diakses tanggal 31 August 2025.
- ^ a b c "Pakistan floods leave villages cut off as monsoon devastation continues". UN News. 27 August 2025. Diakses tanggal 31 August 2025.
- ^ a b c d "Monsoon floods kill more than 700 in Pakistan, with heavy rains set to continue". UN News. 21 August 2025. Diakses tanggal 31 August 2025.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


