Banjari
Banjari adalah bentuk kesenian musik Islam tradisional yang berkembang di berbagai daerah di Indonesia, terutama di wilayah Jawa, Madura, dan sebagian Sumatra. Kesenian ini menonjolkan syair atau sholawat bernuansa pujian terhadap Nabi Muhammad, yang dibawakan secara berkelompok dan diiringi tabuhan alat musik rebana kecil yang disebut "banjari".[1]
Seni banjari biasanya tampil dalam bentuk vokal bersahut-sahutan (koor) dengan iringan ritmis dan cepat dari rebana. Pertunjukan ini kerap hadir dalam kegiatan keagamaan seperti maulid nabi, pengajian, lomba hadrah, hingga kegiatan sosial masyarakat Muslim.[2]
Asal Usul dan Perkembangan
Nama "banjari" berasal dari jenis alat musik rebana khas Timur Tengah yang berukuran kecil, ringan, dan berbunyi tajam. Rebana jenis ini diyakini dibawa ke Nusantara bersamaan dengan penyebaran Islam oleh para dai dan wali songo.[3]
Dalam perkembangannya, banjari berakulturasi dengan budaya lokal dan menjadi bagian dari tradisi keislaman di Indonesia. Di beberapa daerah, istilah "banjari" digunakan secara bergantian dengan "hadrah", meskipun keduanya memiliki perbedaan teknis dan gaya.
Ciri Khas
Beberapa ciri utama dari kesenian banjari meliputi:[4]
- Menggunakan rebana kecil (banjari) dengan pola tabuhan cepat dan bervariasi.
- Syair berisi pujian kepada Nabi Muhammad, doa-doa, atau ajaran moral Islam.
- Vokal disampaikan secara koor (bersama-sama) atau bersahutan antar anggota kelompok.
- Iringan tabuhan yang terstruktur dan penuh semangat.
- Terkadang disertai gerakan tangan atau hentakan kaki yang ritmis.
Fungsi dan Konteks Penampilan
Banjari berfungsi sebagai sarana dakwah budaya, hiburan religi, serta media pembelajaran akhlak. Beberapa konteks di mana banjari sering ditampilkan:
- Peringatan Maulid Nabi
- Khataman Al-Qur’an
- Pengajian umum
- Tasyakuran atau resepsi keagamaan
- Lomba seni islami antar sekolah atau komunitas
Banjari di Kalangan Pelajar dan Mahasiswa
Di lingkungan pelajar dan mahasiswa, kesenian banjari sering dijadikan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dan kampus. Kelompok banjari pelajar rutin tampil dalam ajang lomba maupun kegiatan keagamaan sekolah.[4][5]
Di tingkat perguruan tinggi, seni banjari juga berkembang pesat. Beberapa universitas bahkan menyelenggarakan festival banjari antarkampus se-wilayah Jawa Timur.[6][7]
Perbedaan dengan Hadrah dan Marawis
Walau memiliki kemiripan, banjari berbeda dengan hadrah maupun marawis:
- Banjari: Menggunakan satu jenis rebana kecil, tempo cepat, dan dinyanyikan bersama.
- Hadrah: Biasanya lebih pelan dan ritmis, menggunakan lagu-lagu pujian atau doa.
- Marawis: Berasal dari Timur Tengah-Afrika, menggunakan lebih banyak jenis alat musik dan irama lebih variatif.
Lihat pula
Referensi
- ^ "Banjari Bukan Sekadar Kesenian Bernuansa Agama". NU Online. Diakses tanggal 2025-07-16.
- ^ "Hadrah Al-Banjari Lebih Diminati Kalangan Santri". Radar Banyuwangi. Diakses tanggal 2025-07-16.
- ^ "Mengenal Sejarah Rebana Al-Banjari yang Harus Anda Ketahui". Narcala. Diakses tanggal 2025-07-16.
- ^ a b "Ekstrakurikuler Banjari". Program Studi PGSD UNIPASBY. Diakses tanggal 2025-07-16.
- ^ "Indahnya Lantunan Sholawat di Festival Al-Banjari Se-Keresidenan Besuki". Universitas Airlangga. Diakses tanggal 2025-07-16.
- ^ "Banjari SERBAN UNAIR Raih Juara 3 di Festival Banjari Tingkat Jawa Timur". Universitas Airlangga. Diakses tanggal 2025-07-16.
- ^ "Seni Al-Banjari dan Kaligrafi: Cara Mahasiswa UIN Malang Bangun Generasi Kreatif". UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Diakses tanggal 2025-07-16.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


