Bangsal Palereman

Bangsal Palereman (bahasa Jawa: ꦧꦁꦱꦭ꧀ꦥꦊꦉꦩ꧀ꦩꦤ꧀) merupakan salah satu bangunan bersejarah yang termasuk dalam daftar cagar budaya. Status ini mengacu pada keputusan Bupati Sleman Nomor 14.7/Kep.KDH/A/2017 tentang Status Cagar Budaya Kabupaten Sleman.[1] Bangunan ini memiliki nilai penting dalam sejarah pemakaman raja-raja Mataram, khususnya sebagai tempat transit jenazah sebelum menuju Makam Raja-raja Imogiri. Secara administratif, Bangsal Palereman berlokasi di Prambanan, Bokoharjo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.[2]
Arsitektur Bangunan

Bangsal Palereman di Prambanan memiliki tiang-tiang penyangga yang menopang atap, tanpa dinding masif yang mengelilingi bangunan. Terdapat 24 (dua puluh empat) tiang berbentuk bulat yang tersusun mengelilingi bangunan. Pada bagian sudut, terdapat pilar bergaya Doria yang menunjukkan adanya pengaruh arsitektur Eropa. Setiap pilar berdiri di atas pasangan berbentuk persegi yang menyatu dengan tiangnya. Atap bangunan ini menggunakan tipe limasan dengan emper di keempat sisi, yang dikenal sebagai Limasan Lawakan. Penutup atap menggunakan genteng kripik, sementara bagian bubungan atap dibuat dari pasangan dan wuwung berbahan tanah liat.[3]
Dalam lingkungan Kraton Yogyakarta, bangunan dibedakan berdasarkan bentuk fisik dan fungsinya. Bangsal merujuk pada bangunan terbuka tanpa dinding, sedangkan gedong merupakan bangunan yang memiliki dinding. Bangsal Palereman termasuk dalam kategori bangsal karena bentuknya yang terbuka.[3]
Perkiraan Waktu Pendirian
Tahun pasti pembangunan Bangsal Palereman belum dapat dipastikan. Namun, berdasarkan informasi dalam “Babad Sala”, diketahui bahwa kereta api telah hadir sejak masa pemerintahan Pakubuwana IV, sekitar tahun 1881. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Bangsal Palereman sudah berdiri sebelum tahun 1881.[1]
Fungsi Awal
Secara historis, Bangsal Palereman berfungsi sebagai tempat transit jenazah raja-raja Kraton Kartasura dan Surakarta yang hendak dimakamkan di Makam Raja-raja Imogiri. Fungsi pemberhentian ini diperlukan karena pada masa itu jenazah diarak menggunakan kereta kuda dan bantuan tenaga manusia, sehingga diperlukan tempat untuk berhenti dan beristirahat. Nama "palereman" sendiri berasal dari kata lerem yang berarti berhenti, menandakan fungsinya sebagai tempat pemberhentian sementara dalam prosesi pemakaman.[1]
Perubahan Fungsi
Seiring waktu dan perubahan teknologi transportasi, terutama dengan hadirnya kereta api, jenazah raja tidak lagi diangkut menggunakan kereta kuda dan tidak lagi beristirahat di Bangsal Palereman. Dengan demikian, fungsi awal bangunan tersebut mengalami perubahan. Saat ini, Bangsal Palereman dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai tempat kegiatan budaya.[1]
Referensi
- ^ a b c d "BANGSAL PALEREMAN". Dinas Kebudayaan Sleman. 2022-04-14. Diakses tanggal 2025-06-16.
- ^ Liputan6.com (2025-06-13). "Bangsal Palereman, Tempat Transit Jenazah Raja Tempo Dulu". liputan6.com. Diakses tanggal 2025-06-16. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
- ^ a b "JOGJACAGAR | Sistem Informasi Cagar Budaya". jogjacagar.jogjaprov.go.id. Diakses tanggal 2025-06-16.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


