Bameti

Bameti adalah kegiatan memungut hasil-hasil laut ketika air laut sedang surut (meti), berlangsung pada malam maupun siang hari. Terutama daerah pesisir yang landai dan menjorok, sehingga ketika surut nampak kolam-kolam kecil dan batu karang. Tradisi Bameti berasal dari Kampung Waru, Provinsi Papua. Tradisi Bameti telah lama ada bahkan semenjak belum ditemukan alat tangkap ikan di Papua.[1]

Kegiatan Bameti biasanya dilakukan oleh tiap-tiap keluarga untuk mengisi waktu-waktu senggang sambil rekreasi, dan dimanfaatkan untuk pertemuan dengan keluarga yang lain dalam satu kampung. Kegiatan bameti dilakukan dengan menggunakan peralatan seadanya, seperti panah dari lidi yang menggunakan karet gelang lalu ditembakkan; alat cungkil kerang, dan baskom/serok penangkap, untuk mencari ikan karang, udang lobster yang terdampar dan beragam jenis kerang laut, bia/tiram. Biasanya hasil buruan dimakan di pinggir pantai dan sisanya dibawa pulang untuk di makan sendiri atau dibagikan kepada tetangga.[1][2]

Makna Bameti

Tradisi Bameti bukan hanya soal mencari makanan, tetapi juga tentang hubungan erat dengan alam. Masyarakat memahami kapan laut ramah dan kapan ia marah. Karena itu, mereka selalu menghormati laut dengan doa sebelum memulai kegiatan. Selain itu, Bameti mengajarkan nilai kerja sama dan tanggung jawab. Warga tidak boleh serakah saat mengambil hasil laut. Mereka memetik hanya yang cukup untuk makan bersama keluarga. Ini menjaga keseimbangan ekosistem dan kelestarian sumber daya. Kemudian, hasil Bameti seperti kerang, kepiting kecil, dan ikan-ikan rawa dikumpulkan di satu tempat. Setelah itu, para perempuan akan membersihkan hasil tangkapan dan mengolahnya secara bersama. Kebersamaan ini menciptakan ikatan sosial yang erat antar warga.[3]

Dalam Bameti berlaku aturan tidak tertulis berupa ambil “manfaatkan” seperlunya dan secukupnya saja. Tindakan ini sesungguhnya untuk memastikan ketersediaan sumberdaya berkelanjutan bagi generasi penerus. Praktek Bameti merupakan bukti masyarakat lokal memanfaatkan sumber daya alam mereka dengan peralatan sederhana bahkan tradisional. Dalam tradisi ini, masyarakat bisa belajar bagaimana memperlakukan laut dengan tetap memperhatikan keberlanjutannya. Hal ini sangat sarat dengan nilai-nilai konservasi yang juga banyak digaungkan konservasionis saat sekarang ini.[1]

Aturan Bameti

Bameti tidak bisa dilakukan sembarangan. Waktu dan lokasi pelaksanaannya diatur oleh tetua adat berdasarkan pengetahuan turun-temurun. Ketika waktunya tepat, seluruh kampung bersiap tanpa perlu aba-aba dari pemerintah atau pihak luar. Masyarakat menganggap Bameti sebagai bentuk ibadah terhadap alam. Karena itu, mereka tidak pernah meninggalkan sampah di pantai setelah kegiatan. Mereka percaya, laut yang bersih akan membawa hasil yang melimpah di masa depan.[3]

Referensi

  1. ^ a b c Nabire, Suara. "Mengenal Tradisi Molo, Balobe dan Bameti dalam Masyarakat Pesisir Kabupaten Nabire". SUARA NABIRE. Diakses tanggal 2025-11-10.
  2. ^ NABIRENET (2020-01-08). "Mengenal Tradisi Balobe, Bameti dan Molo Ikan di Papua". Nabire.Net (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diakses tanggal 2025-11-10.
  3. ^ a b pemkotkampungmalukuid (2025-07-16). "Tradisi Bameti di Kampung Waru". PEMERINTAH KOTA KAMPUNG MALUKU. Diakses tanggal 2025-11-10.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement