Balai Desa Sidoluhur

Balai Desa Sidoluhur.

Balai Desa Sidoluhur (bahasa Jawa: ꦧꦭꦺꦢꦺꦱꦱꦶꦢꦭꦸꦲꦸꦂ) merupakan bangunan berarsitektur tradisional Jawa yang saat ini berfungsi sebagai pusat administrasi Pemerintah Kalurahan Sidoluhur.[1] Selain berfungsi sebagai pusat administrasi desa, Balai Desa Sidoluhur juga memiliki nilai historis terkait dengan proses terbentuknya Kalurahan Sidoluhur. Bangunan ini menghadap ke arah utara dan memiliki tata ruang khas rumah tradisional Jawa yang terdiri atas kuncungan, pendhapa, pringgitan, dalem ageng, gandhok kiwa, dan pawon.[2] Secara administratif, Balai Desa Sidoluhur terletak di Padukuhan Ngabangan V, Kalurahan Sidoluhur, Kapanewon Godean, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi ini berada pada sistem koordinat 49 M, UTM X: 0421540 dan Y: 9141433. Bangunan ini telah mendapatkan penghargaan atas upaya pelestariannya sebagai cagar budaya.[3]

Sejarah

Kalurahan Sidoluhur terbentuk pada tahun 1947 sebagai hasil penggabungan dari tiga kelurahan lama, yaitu Krajan, Berjo, dan Tebon. Sebelumnya, pada tahun 1946, diadakan pemilihan lurah yang dimenangkan oleh Bapak Wiknyo Sudarmo. Rumah yang saat ini menjadi Balai Desa Sidoluhur semula merupakan milik Bapak Arjosuwarno, salah satu calon lurah dalam pemilihan tersebut. Setelah kekalahannya, rumah tersebut dijual kepada Bapak Wiknyo Sudarmo. Sejak 5 Desember 1947, rumah ini mulai difungsikan sebagai balai desa. Pada tahun 1975, dilakukan penataan ulang pada tata ruang bangunan tersebut untuk menyesuaikan dengan kebutuhan pemerintahan desa.[1]

Tata Arsitektur dan Struktur Bangunan

Kuncungan dan Pendhapa

Pendhapa Balai Desa Sidoluhur.

Bagian kuncungan menggunakan atap limasan, sementara pendhapa menggunakan atap joglo. Pendhapa terbagi menjadi dua bagian utama, yaitu:

  • Pamidhangan, yang ditopang oleh empat saka guru, berbentuk tumpang dengan dua balok kayu bersusun menopang pada blandar pamidhangan, yaitu blandar panyelak dan blandar pamanjang. Di bagian atasnya terdapat tiga trap yang terdiri dari blandar pamindhangan, blandar lar-laran, dan blandar singup. Di bagian atas sunduk terdapat geganja, dan di keempat sudut pamidhangan terdapat empat emprit gantil berbentuk keben. Sistem pemasangan usuk yang digunakan adalah sistem ri gereh.
  • Penanggap, yang terdiri atas 12 saka penanggap, serta pada sisi belakang terdapat dua bahu dhanyang.

Pendhapa dan pringgitan dipisahkan oleh lantai jogan, dan pada sisi timur pendhapa terdapat dinding kayu dan kaca.

Pringgitan dan Dalem Ageng

Pringgitan menggunakan atap limasan, sedangkan dalem ageng menggunakan atap joglo. Atap dalem ageng terdiri atas empat sisi empyak yang diikat membentuk satu kesatuan puncak atap yang disebut brunjung.

Pamidhangan dalem ageng memiliki bentuk tumpang dengan dua balok kayu bersusun menopang pada blandar pamidhangan (panyelak dan pamanjang). Komponen tumpang terdiri dari blandar pamindhangan, blandar lar-laran, dan blandar singup. Di atas sunduk terdapat geganja, dan keempat sudutnya dilengkapi dengan empat emprit gantil berbentuk keben. Sistem usuk yang digunakan juga sistem ri gereh, yakni sistem tegak lurus dengan blandar dan sebagian bertumpu pada jurai atau dudur.

Pada dinding sisi utara, terdapat satu pintu dan dua jendela, sedangkan pada sisi barat dan timur masing-masing terdapat satu pintu.

Gandhok Kiwa, Pawon, dan Bangunan Tambahan

Gandhok Kiwa Balai Desa Sidoluhur.

Gandhok kiwa terletak di sisi barat dalem ageng dan memiliki atap kampung. Pada bagian barat gandhok kiwa terdapat bangunan tambahan yang difungsikan sebagai garasi, serta tambahan ruangan di bagian depan yang digunakan sebagai ruang ibadah.

Pada sisi timur pendhapa dan dalem, terdapat bangunan tambahan bertipe atap kampung yang saat ini berfungsi sebagai kantor Desa Sidoluhur.

Pawon berada di belakang gandhok kiwa dan dilengkapi emperan sebagai selasar. Di bagian depan pawon terdapat sumur, dan di antara bangunan dalem dan pawon terdapat longkangan (ruang terbuka).

Material dan Finishing

Sebagian besar ruangan di kompleks Balai Desa Sidoluhur menggunakan lantai tegel abu-abu berukuran 20 x 20 cm, yang menjadi ciri khas material penutup lantai pada bangunan tradisional Jawa.[2]

Referensi

  1. ^ a b "Bangunan Balai Kalurahan Sidoluhur". Dinas Kebudayaan Sleman. Diakses tanggal 2025-06-19.
  2. ^ a b "JOGJACAGAR | Sistem Informasi Cagar Budaya". jogjacagar.jogjaprov.go.id. Diakses tanggal 2025-06-19.
  3. ^ "Balai Desa Sidoluhur – Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta". kebudayaan.kemdikbud.go.id (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-06-19.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement