Bakajang

Bakajang atau Alek Bakajang adalah sebuah tradisi masyarakat yang barasal dari Nagari Gunuang Malintang, sebuah nagari yang terletak di Kecamatan Pangkalan Koto Baru, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.[1] Tradisi ini merupakan tradisi menghias perahu yang disebut dengan nama lainnya kajang yang kalau dilihat sepintas tampak serupa dengan miniatur sebuah kapal pesiar. Tradisi ini biasa diadakan selepas Hari Raya Idul Fitri sebagai ajang silaturahmi antara anak nagari yang pada saat itu sedang berkumpul bersama di kampuang halaman.[2]

Penamaan

Bakajang berasal dari kata kajang yang mendapat imbuahan ba- dalam bahasa Minangkabau. Kajang pada penamaan tradisi ini dapat bermaksudkan dalam dua arti. Arti pertama bermaksud perahu kecil atau sampan, yang merupakan alat transportasi yang telah ada sejak masa lalu yang digunakan oleh masyarakat Nagari Gunuang Malintang untuk menyelusuri Batang Maek,[1] dan istilah ini merujuk pada lima miniatur kapal pesiar yang dipakai dalam tradisi tersebut.[3] Sementara itu arti kedua bermaksud memperbaharui, hal ini dikarenakan tujuan tradisi alek bakajang ini ialah untuk memperbaharui hubungan silaturahmi antara anak-anak nagari Gunuang Malintang.[2]

Aktivitas

Tradisi bakajang biasanya dilaksanakan beberapa hari setelah Hari Raya Idul Fitri, untuk itu segala persiapan termasuk pembuatan perahu biasanya sudah dimulai satu minggu sebelum Hari Raya Idul Fitri tiba. Pemuda dan masyarakat setempat terlibat dalam proses pembuatan perahu tersebut termasuk juga alim ulama, ninik mamak, serta pemerintah Nagari Gunung Malintang.[4] Semuanya saling bekerjasama dalam merancak dan membuat perahu. Perahu-perahu tersebut biasanya dibuat dengan bahan dasar seperti kayu dan triplek, kemudian proses akhir dari pembuatan perahu ini ialah dengan menghias perahu tersebut dengan cat warna-warni dan beberapa tambahan ornamen lainnya.[5]

Pelestarian

Pada saat sekarang ini tradisi bakajang tidak hanya menjadi ajang silaturahmi masyarakat setempat. melainkan sudah menjadi daya tarik tersendiri bagi orang-orang yang ingin menikmati salah satu keunikan tradsi budaya minangkabau.[6] Dalam beberap tahun belakangan ini, Tradisi bakajang telah menjadi salah satu ikon wisata Kabupaten Lima Puluh Kota. Pada taun 2021, Tradisi bakajang mendapatkan penghargaan Juara I Anugerah Pesona Indonesia (API) kategori Atraksi Budaya (Cultural Attraction).[7][8] Selain itu, tradisi bakajang masuk kedalam agenda wisata Sumatra Barat tiap tahunnya.[9][10]

Referensi

  1. ^ a b "Dinas Kominfo". kominfo.limapuluhkotakab.go.id. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-01-15. Diakses tanggal 2025-06-16.
  2. ^ a b S, Hijrah Adi (2018-06-24). "Bakajang, Tradisi Unik di Nagari Gunuang Malintang saat Lebaran". Kabarsumbar.com. Diakses tanggal 2025-06-16.
  3. ^ Bestari, Fardi (2022-05-05). "Bakajang, Tradisi Menghias Perahu Seperti Kapal Pesir Selesap Idul Fitri". Tempo (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-06-16.
  4. ^ "Bakajang, Tradisi Adat Di Limapuluh Koto". Diakses tanggal 2025-06-16.
  5. ^ firdausmarbun (2017-09-04). "Bakajang | Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-06-16.
  6. ^ SASTRA, YOLA (2024-04-17). "Alek Bakajang yang Mempererat Kekerabatan Limapuluh Kota". kompas.id. Diakses tanggal 2025-06-16.
  7. ^ "'Alek Bakajang' Lambungkan Kab. Limapuluh Kota di Pentas Nasional | Jernih News". www.jernihnews.com. Diakses tanggal 2025-06-16.
  8. ^ Setiawan, Anton. "Pesona Lima "Kapal Pesiar" di Alek Bakajang".
  9. ^ "Dispar Sumbar Terbitkan 45 Agenda Pariwisata 2021". Republika Online. 2020-12-14. Diakses tanggal 2025-06-16.
  10. ^ "Catat, Berikut Daftar dan Jadwal Event Wisata Sumbar Sepanjang Tahun 2023". TribunPekanbaru Travel. Diakses tanggal 2025-06-16.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement