Baju Basurat

Baju Basurat atau pakaian berperang suku Dayak yang menjadi koleksi museum Balanga Kalimantan Tengah.

Baju Basurat adalah pakaian tradisional yang digunakan oleh masyarakat adat suku Dayak ketika berperang.[1]

Baju Basurat atau pakaian berperang suku Dayak ini terbuat dari kulit kayu, kulit binatang, dan dihiasi logam. Baju Basurat juga kerap dilengkapi dengan tulisan-tulisan yang disebut rajah, dengan tujuan untuk menangkal atau melindungi si pemakai ketika berperang atau berkelahi, sehingga ia selamat.[2]

Bahan Pembuatan

Baju Basurat terbuat dari berbagai bahan alami yang kuat dan tahan lama, beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Serat daun nanas
  • Serat daun lemba
  • Serat tengang
  • Serat nyamu

Kulit nyamu atau kulit daun lemba, berasal dari tumbuhan pinang puyuh yang banyak ditemukan di ekosistem hutan hujan tropis seperti di Kalimantan. Kulit ini memiliki struktur yang keras dan berserat, sehingga dapat dirajut dan dibentuk seperti rompi.[1]

Baju Basurat juga sering kali dihiasi dengan berbagai macam ornamen yang memiliki makna khusus. Beberapa hiasan yang biasanya digunakan adalah sebagai berikut:

  • Lukisan dari cat alami
  • Kulit trenggiling
  • Kancing
  • Uang logam
  • Manik-manik
  • Benda-benda azimat

Dengan adanya benda-benda azimat tersebut, orang yang memakai baju basurat dipercaya akan kebal terhadap senjata tajam atau senjata api. Rajah atau tulisan-tulisan pada baju basurat juga diyakini memiliki kekuatan untuk melindungi pemakainya saat berperang atau berkelahi.[1]

Sejarah

Ilustrasi pakaian perang suku Dayak.

Menurut sejarah, pada perang di Kuta Bataguh, para kesatria suku Dayak Ngaju menggunakan Baju Basurat dalam menghadapi serangan pasukan musuh dari Negeri Sawang.[1]

Sejarah ini berkaitan dengan cerita rakyat Nyai Undang dari Kalimantan Tengah, yang menceritakan seorang ratu nan cantik dari Pulau Kupang, yang kelak wilayah tersebut dikenal dengan sebutan Kuta Bataguh, dan menjadi sebuah kecamatan di Kabupaten Kapuas.[3]

Pada suatu hari, tiga perahu singgah di negeri Pamatang Sawang yang dihuni oleh suku Dayak. Pemimpin rombongan itu adalah Nawang, adik dari Raja Soso (Sulu) di Filipina Selatan. Penduduk setempat menyambut tamu mereka dengan ramah. Nawang pun terpesona dengan kecantikan Nyai Undang, lalu berniat melamarnya. Nyai Undang dengan sopan menolak lamaran tersebut, tetapi Nawang tetap memaksa. Ketika Nyai Undang berbalik dan masuk ke dalam ruangan, Nawang berusaha meraih tangannya. Nyai Undang merasa malu atas perbuatan Nawang, hingga ia menghunus senjata pusaka bernama Duhung Raka Hulang ke tubuh Nawang.[3]

Melihat Nawang terbunuh, pasukannya pun mengamuk. Meski begitu, Nyai Undang bersama warga Pamatang Sawang melakukan perlawanan dan nyaris membantai seluruh pasukan musuh, sisanya dijadikan budak. Setelah kejadian ini, Raja Utara bernama Raja Nyaliwen juga mengalami nasib yang sama dengan Nawang. Ia terbunuh dan sisa pasukannya menyerah lalu dijadikan budak.[3]

Kabar kematian Nawang sampai ke seberang lautan, dan kakaknya, Raja Sawang, berniat untuk membalas dendam. Ribuan pasukan Raja Sawang yang bersenjatakan tombak, pedang, dan perisai tembaga menaiki dinding benteng. Namun, mereka disambut dengan tebasan mandau serta anak sumpitan beracun yang menyebabkan banyak pasukannya tewas.[3]

Selain penggunaan senjata tradisional yang mematikan, salah satu hal yang membuat masyarakat Dayak saat itu unggul dalam peperangan, diyakini karena penggunaan baju basurat yang sudah diberi rajah sebagai perlindungan.

Referensi

  1. ^ a b c d Pramono, Agus. "Baju Basurat, Pakaian Perang suku Dayak, Ini Bahan, Hiasan, Sejarah dan Penggunaan - Kalteng Pos". Baju Basurat, Pakaian Perang suku Dayak, Ini Bahan, Hiasan, Sejarah dan Penggunaan - Kalteng Pos. Diakses tanggal 2025-06-17.
  2. ^ "pakaian perang dayak » Budaya Indonesia". budaya-indonesia.org. Diakses tanggal 2025-06-17.
  3. ^ a b c d "Tradisi Lisan Ratu Nyai Undang". kumparan. Diakses tanggal 2025-06-17.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement