Babanga

Babanga adalah permainan tradisional anak-anak yang berasal dari daerah Kalimantan Selatan.[1]

Latar belakang

Babangan merupakan permainan rakyat yang ditemukan di Margasari, Kecamatan Candi Laras Utara, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. Permainan ini diperkirakan telah dikenal sejak sebelum kemerdekaan. Anak-anak daerah dari berbagai latar belakang keluarga seperti anak petani, nelayan, penyadap karet, dan lainnya bersama-sama mengumpulkan buah karet pada musim karet untuk bermain babanga.[1][2]

Pelaksanaan

Permainan babanga ini umumnya memiliki dua hingga lima pemain tanpa adanya batasan gender. Pemain babanga biasanya merupakan siswa sekolah dasar dengan rentang usia sekitar 9–14 tahun dengan tingkat kesulitan permainan tergolong mudah.[1]

Permainan Babanga dilakukan di halaman yang rata tak berbatu.[2] Lapangan dibuat dengan ukuran panjang 5 meter dan lebar 2 meter. Pada lapangan permainan dibuat pula lingkaran berdiameter sekitar 40 cm di salah satu ujung sebagai area target.[1]

Alat utama dalam permainan ini adalah buah karet yang dapat diganti pula dengan buah kemiri.[2] Buah karet yang masih utuh, disebut sebagai pasangan, digunakan sebagai taruhan yang dilemparkan dengan undas. Adapun, buah karet yang telah diisi timah atau tanah liat sebagai pemberat, disebut sebagai undas, digunakan untuk melempar pasangan. Pasangan yang dimiliki tiap orang kurang lebih sejumlah 10 buah.[1]

Setelah buah karet dikumpulkan, para pemain akan mencari lapangan dan membuat lingkaran tempat menaruh pasangan. Sekitar tiga meter dari lingkaran dibuat pula garis bakakacian. Para pemain akan meletakkan seluruh pasangan pada lingkaran.[1]

Permainan dimulai dengan melempar undas ke arah lingkaran untuk menentukan urutan giliran pemain (bakakacian). Pemain yang undas-nya paling dekat dengan pusat lingkaran mendapat giliran pertama. Tujuan utama adalah memukul pasangan dalam lingkaran hingga keluar garis. Jika berhasil, pasangan itu menjadi milik si pemukul sebagai skor.[1]

Pemain mati jika undas keluar dari lingkaran saat melempar, atau jika melempar dari posisi yang tidak sah (misalnya dari samping). Permainan dilanjutkan sampai semua pemain mendapat giliran, dan jika sisa pasangan tinggal sedikit, maka semua pemain sepakat menambahkan pasangan baru dan permainan diulang dari awal.[1]

Referensi

  1. ^ a b c d e f g h Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1981). Permainan Rakyat Daerah Kalimantan Selatan. Jakarta: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.12-20
  2. ^ a b c Arief. "7 Permainan Tradisional Kalsel yang Hampir Punah - Radar Banjarmasin". 7 Permainan Tradisional Kalsel yang Hampir Punah - Radar Banjarmasin. Diakses tanggal 2025-06-15.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement