Atib Koambai

Atib Koambai adalah ritual tolak bala yang berasal dari masyarakat Kubu di Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau. Atib Koambai juga dikenal sebagai ratib kerambai. Ritual ini dilakukan dengan berzikir dan berdoa di atas sampan di sungai untuk memohon perlindungan dari bencana atau penyakit, yang dipicu oleh wabah kolera yang disebut penyakit "Ta'un" pada masa lampau.[1]

Sejarah Atib Koambai

Atib Koambai merupakan adat dan tradisi religius yang turun-temurun rutin dilakukan masyarakat Kenegerian Kubu (kini menjadi Kecamatan Kubu dan Kubu Babussalam) sejak era Kesultanan Siak Sri Indrapura ratusan tahun lalu sebagai prosesi untuk menolak bala yang dilakukan satu kali dalam satu tahun pada setiap hari ketiga Syawal atau Hari Raya Idul Fitri. Helat ritual agama dan tradisi ini menjadi salah satu agenda Pariwisata setiap tahun, dengan pembentukan panitia pelaksana khusus guna mendukung pelaksanaan tradisi tersebut.[2]

Atib Koambai memiliki sejarah bagi masyarakat Kubu. Atib atau Ratib dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti puji-pujian atau doa kepada Tuhan yang diucapkan berulang-ulang, berdoa dan berzikir kepada Tuhan (Allah SWT). Meratib dimaksud untuk mendoakan orang yang meninggal supaya Allah melapangkan arwah orang tersebut di alam kubur; dan menzikirkannya. Dahulunya, tradisi ini dilakukan oleh warga karena adanya wabah penyakit kolera yang belum diketahui obatnya. Masyarakat setempat menyebut kolera dengan sebutan penyakit Ta’un. Penyakit ini sangat menakutkan bagi masyarakat setempat sebab sangat mudah mewabah dan dianggap sangat membahayakan.[1][3]

Atas alasan tersebut, para pemuka adat setempat pun melakukan sebuah ritual yang disebut atib koambai, yakni ritual menolak bala dari masyarakat Kubu dan Kuba. Masyarakat dan pemuka adat beratib (berdoa dan berzikir) dengan menggunakan sampan dengan tujuan membuang bala ke arah muara Sungai Kubu. Hal ini dilakukan sebab pada masa tersebut alat transportasi masyarakat masih menggunakan jalur perairan yakni sampan. Tradisi Atib Koambai sudah mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Dahulu masyarakat menggunakan sampan perahu dayung biasa hingga memakan waktu yang lama. Setiap peserta diminta membawa dayung. Tetapi kini dilakukan menggunakan boat yang memiliki mesin. Selain itu, dahulu tradisi ini dianggap sebagai tradisi yang benar-benar dilakukan untuk menolak bala. Peserta yang tidak ikut Atib Koambai diminta pulang dan menutup rumah rapat-rapat sambil membakar atau membuat asap di luar rumah. Namun, pada saat ini Atib Koambai lebih kepada pertunjukan tradisi menjadi objek wisata tahunan.[1][3]

Pelaksanaan Atib Koambai

Tradisi Atib Koambai biasanya dilaksanakan setiap tahun, tepatnya di hari ke-3 Hari Raya Idul Fitri. Peserta tradisi ini hanya dikhususkan bagi laki-laki. Tradisi Atib Koambai biasanya masyarakat berkumpul terlebih dahulu di satu titik, kemudian secara bersama-sama menuju ke Muara Sungai Kubu Tanjung Lumba Lumba. Peserta yang mengikuti tradisi Atib Koambai memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, tentunya dengan penuh kepercayaan hanya Allah SWT yang menguasai seluruh kebaikan dan mudharat, baik yang belum menimpa maupun yang sudah menimpa. Sehingga setiap umat Islam harus yakin dan percaya hanya boleh bergantung kepada Allah, tidak boleh menggantungkan kepada selain Allah.[4]

Ritual pelaksanaan Atib Koambai dimulai dari jam 08.00 WIB hingga jam 14.00 WIB siang. Prosesi acara dipusatkan dan dimulai dari Makam Keramat Datuk Diambai Kepenghuluan Teluk Nilap, kemudian berdzikir, tahlil dengan mempergunakan perahu atau kapal diikuti ribuan warga dan ratusan kapal hingga menuju ke Tanjung Pulau kuala Laut, Tanjung Lumba-Lumba Kelurahan Teluk Merbau. Bukan hanya masyarakat Kecamatan Kubu dan Kecamatan Kubu Babussalam yang ikut meramaikan ritual tahunan ini, warga asal daerah tersebut yang berada di Panipahan, Bagansiapiapi, Bagan Sinembah, Balai Jaya, Bangko Pusako, Pekanbaru, dan Dumai juga kembali ke kampung halaman untuk ikut serta dalam tradisi ini.[2]

Referensi

  1. ^ a b c "Atib Ko Ambai, Wisata Religi di Kubu Kabupaten Rokan Hilir" (dalam bahasa Inggris). 2019-05-21. Diakses tanggal 2025-11-14.
  2. ^ a b "Panitia Atib Koambai Negeri Kubu Dikukuhkan, Bupati Rohil: Mari Pertahankan Tradisi Religius dan Budaya Lokal". GoRiau.com. 2023-04-12. Diakses tanggal 2025-11-14.
  3. ^ a b "Atib Koambai, Wisata Religi di Rokan Hilir yang Dulunya Ritual Menolak Bala Wabah Kolera". PotretNews.com. 2020-10-04. Diakses tanggal 2025-11-14.
  4. ^ datariau.com (2022-05-17). "Atib Koambai, Tradisi Tolak Bala di Daerah Kubu Rokan Hilir". datariau.com. Diakses tanggal 2025-11-14.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement