Arthah bin Ka'ab An-Nakha'iy
Nama lengkapnya adalah Arthah bin Ka'ab bin Syarahil bin Ka'ab bin Salaman bin Amir bin Haritsah bin Sa'ad bin Malik bin An-Nakha'. Ia berasal dari keluarga atau kabilah Nakha', sebuah suku yang berasal dari Yaman, mereka masuk Islam setelah bertemu dengan Nabi Muhammad dan berperan sangat vital dalam pertempuran Qadisia. Ia termasuk salah satu Sahabat Nabi.[1]
Kisah Keislaman
Arthah datang ke Madinah bersama dengan saudaranya Qais bin Ka'ab dan temannya yang bernama al-Arqam, mereka dikatakan sebagai salah satu orang paling rupawan dan fashih di zamannya. Setelah menyatakan keislaman, mereka didoakan kebaikan oleh Nabi Muhammad dan diberikan tugas untuk berdakwah dan membela islam dengan menyerahkan sebuah bendera atau panji perang. Panji perang ini mereka jaga dan pakai hingga nanti dibawa dalam pertempuran Qadisia.[2]
Perjuangan dan Pertempuran
Setelah zaman pemerintahan Umar bin Khatthab, islam melakukan ekspansi dengan mengutus beberapa pasukan untuk menaklukkan beberapa wilayah kekuasaan kerajaan seperti Persia dan Romawi. Saat pasukan kabilah Nakha' sampai di Madinah, mereka meminta izin kepada khalifah untuk berangkat menuju penaklukkan daerah Syam di utara, tetapi Umar memerintahkan mereka untuk pergi ke wilayah Irak sembari memuji mereka setelah melihat betapa gagahnya prajurit Nakha' yang berjumlah sekitar 2500 orang. [3]
Pertempuran yang paling berpengaruh yang mereka lewati dengan kepemimpinan Arthah adalah pertempuran Qadisia yang mengharuskan mereka untuk melawan prajurit Persia beserta gajah raksasa mereka. Banyak dari pasukan Nakha yang terbunuh dalam kejadian ini, termasuk Arthah bin Ka'ab dan saudara yang menggantikan posisinya yaitu Zaid bin Ka'ab. Atas hal ini, Umar menyatakan: Sungguh, (kabilah) Nakha' telah mengambil peran besar mereka dan menyelesaikannya.
Sumber Pustaka
Referensi
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


