Arsitektur Anglo-Saxon
Arsitektur Anglo-Saxon adalah sebuah periode dalam sejarah arsitektur Inggris yang berlangsung dari pertengahan abad ke-5 hingga Penaklukan Norman pada tahun 1066. Bangunan sekuler Anglo-Saxon di Britania umumnya sederhana, dibangun terutama dengan menggunakan kayu dan beratap jerami. Tidak ada contoh yang masih bertahan di atas permukaan tanah yang diterima secara universal sebagai peninggalan asli. Dengan kecenderungan untuk tidak menetap di kota-kota Romawi kuno, orang Anglo-Saxon membangun permukiman kecil di dekat pusat kegiatan pertanian, pada lokasi penyeberangan sungai (fords), atau ditempatkan untuk berfungsi sebagai pelabuhan. Di setiap permukiman, sebuah aula utama berada di bagian pusat, dilengkapi dengan perapian di tengah.[1]
Rumah dan bangunan sekuler lainnya

Bangunan sekuler Anglo-Saxon biasanya berupa struktur persegi panjang berbasis tiang, di mana tiang-tiang kayu ditanamkan ke dalam tanah untuk membentuk kerangka dinding yang menjadi penopang atap jerami. Dari ratusan lokasi permukiman Anglo-Saxon yang telah digali di Inggris, hanya sepuluh yang memperlihatkan bangunan domestik berbahan batu, dan itu pun terbatas pada konteks tertentu. Penjelasan umum mengenai kecenderungan Anglo-Saxon membangun dengan kayu sering dikaitkan dengan inferioritas atau ketidakmampuan teknologi. Namun, kini dapat diterima bahwa teknologi dan material merupakan pilihan sadar yang tidak terpisahkan dari makna sosialnya. Le Goff menyatakan bahwa periode Anglo-Saxon ditandai oleh penggunaan kayu,[2] dengan bukti yang menunjukkan perhatian serta keterampilan tinggi yang mereka curahkan pada budaya material berbahan kayu, mulai dari cawan hingga aula serta perhatian mereka terhadap pepohonan dan kayu sebagaimana tercermin dalam toponimi, literatur, dan agama mereka.[3]
Michael Shapland mengemukakan bahwa:
Bangunan batu yang diperkenalkan Romawi tampak “mengejutkan” dan “luar biasa” bagi penduduk setempat, dan setelah runtuhnya masyarakat Romawi pada abad ke-5, terjadi kembali peralihan luas menuju bangunan berbahan kayu (sebuah “pergeseran budaya”) yang tidak dapat dijelaskan hanya melalui determinisme teknologi.[4]
Bentuk bangunan Anglo-Saxon menjadi bagian dari tradisi arsitektur tersebut. Kayu merupakan “medium bangunan alami pada masanya”;[5] bahkan kata Anglo-Saxon untuk “bangunan” adalah timbe. Berbeda dengan kawasan Carolingian, aula-aula kerajaan Anglo-Saxon pada periode akhir tetap dibangun dari kayu sebagaimana di Yeavering berabad-abad sebelumnya, meskipun secara sumber daya sang raja mampu membangun dalam batu.[6] Preferensi ini hampir pasti merupakan pilihan sadar, mungkin sebagai ekspresi “identitas Germanik yang tertanam kuat” pada kalangan bangsawan Anglo-Saxon.
Rujukan
- ^ York dan London keduanya menawarkan contoh tren ini.
- ^ Goff, Jacques Le (1988). Medieval Civilization 400-1500 (dalam bahasa Inggris). B. Blackwell. ISBN 978-0-631-15512-6.
- ^ Bintley, Michael DJ, and Michael G. Shapland, eds. Trees and Timber in the Anglo-Saxon World. Oxford University Press, 2013.
- ^ Shapland, Michael G. "Meanings of Timber and Stone in Anglo-Saxon Building Practice." Trees and Timber in the Anglo-Saxon World (2013): 21.
- ^ Turner, Hilary L. (1970). Town Defences in England and Wales: An Architectural and Documentary Study, AD 900-1500 (dalam bahasa Inggris). John Baker. ISBN 978-0-212-98384-1.
- ^ Higham, Robert; Barker, Philip (1992). Timber Castles (dalam bahasa Inggris). Batsford. ISBN 978-0-7134-2189-7.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


