Arca kriselefantin

Fragmen emas dan gading dari sebuah arca kriselefantin dari zaman Arkais (Museum Arkeologi Delfi)

Arca kriselefantin (dari bahasa Yunani Kunoː χρυσός, krusós, artinya "emas", dan ἐλεφάντινος, elefántinos, artinya "gading") adalah arca yang terbuat dari emas dan gading. Arca-arca kriselefantin yang digunakan dalam upacara pemujaan merupakan benda-benda bernilai tinggi pada zaman Yunani Kuno.

Contoh

Arca-arca kriselefantin terbuat dari rangka kayu yang dipasangi lempengan-lempengan tipis ukiran gading untuk membentuk badan arca, dan lembaran-lembaran emas pipih untuk membentuk pakaian, senjata, rambut, dan berbagai detail lain pada arca. Pada beberapa kasus, pasta kaca, kaca, batu mulia, dan batu semimulia digunakan untuk membentuk detail seperti biji mata, perhiasan, dan senjata.

Asal-usul teknik pembuatan arca kriselefantin tidak diketahui. Sudah ditemukan beberapa contoh arca rakitan gading dan emas buatan milenium ke-2 Pramasehi dari daerah-daerah yang dulunya merupakan bagian dari alam Yunani. Yang paling terkenal adalah arca "Kouros Palaikastro", tinggalan peradaban Minos dari sekitar tahun 1450 Pramasehi yang ditemukan di Palaikastro. Tampaknya arca ini adalah satu-satunya arca pemujaan tinggalan peradaban Minos yang sintas.[1] Meskipun demikian, belum jelas apakah ada kaitan antara tradisi pembuatan arca kriselefantin Yunani dengan arca-arca tersebut.

Arca kriselefantin marak bermunculan pada zaman Arkais. Arca-arca akrolit, dengan kepala, tangan, dan kaki dari pualam, serta badan dari kayu disaluti emas atau diselubungi kain, yang muncul lebih kemudian, merupakan arca-arca pemujaan yang dibuat dengan teknik yang mirip dengan teknik pembuatan arca-arca kriselefantin.

Arca-arca kriselefantin biasanya dibuat untuk dijadikan arca pemujaan yang ditempatkan di dalam kuil, lazimnya dalam ukurang yang lebih besar daripada tubuh manusia. Konstruksinya modular, sehingga beberapa lembaran emasnya dapat dicopot untuk dilelehkan dan dijadikan koin atau emas lantakan di masa-masa sulit, dan kelak diganti bila kondisi keuangan sudah membaik. Sebagai contoh, arca Nike yang tegak di atas telapak tangan arca Atena Partenos karya Fidias dibuat dari emas kimpal dengan maksud yang sama. Bahkan pada masa-masa makmur, arca Nike dari emas kimpal dibuat sampai enam buah, untuk dijadikan "simpanan wingit", yang keamanannya dijamin oleh tuah yang diyakini melekat pada benda-benda pemujaan, maupun oleh kehadiran para pendeta, pendeta wanita, dan petugas pemeliharaan kuil.

Sisa-sisa dari sebuah arca kriselefantin yang rusak dimakan api, diduga arca Apolon oleh beberapa sarjana (Museum Arkeologi Delfi)

Dua contoh arca kriselefantin yang paling terkenal berasal dari zaman Klasik, dan sama-sama merupakan hasil karya Fidias, yakni standing statue of arca Atena Partenos setinggi 13 meter (43 kaki) dalam posisi berdiri di Partenon, Atena, dan arca Zeus setinggi 12 meter (39 kaki) dalam posisi duduk di kuil Olimpia, yang tercatat sebagai salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia Kuno.

Arca-arca kriselefantin tidak semata-mata dibuat dengan maksud untuk terlihat memukau, tetapi juga untuk memamerkan kekayaan dan keunggulan-keunggulan budaya yang sudah berhasil dicapai oleh pihak-pihak yang membuatnya atau yang mengongkosi pembuatannya. Untuk membuat sebuah arca kriselefantin, dibutuhkan kemahiran di bidang kriya patung, kriya kayu, kriya perhiasan, dan kriya ukir gading. Begitu rampung dikerjakan, arca-arca kriselefantin harus terus-menerus dirawat. Diketahui bahwa di Olimpia, tenaga-tenaga ahli dipekerjakan demi memastikan arca Zeus tetap terawat dengan baik. Pada abad kedua Pramasehi, Damofon, pematung terkenal asal Mesene, diupah untuk mereparasi arca ini.

Lantaran tingginya nilai dari beberapa jenis bahan mentah yang digunakan, dan sifat tidak tahan lama dari beberapa jenis bahan mentah lainnya, sebagian besar arca kriselefantin mengalami kerusakan pada Abad Kuno dan Abad Pertengahan. Sebagai contoh, yang tersisa dari arca Atena Partenos hanyalah lubang di lantai kuil tempat memancangkan rangka kayu yang menopang keseluruhan arca. Meskipun demikian, tampilan arcanya dapat diketahui dari sejumlah arca duplikatnya yang terbuat dari pualam dalam ukuran mini yang ditemukan di Atena, maupun dari uraian terperinci dari risalah Pausanias. Pausanias juga menjabarkan tampilan arca Zeus di Olimpia secara terperinci. Sehubungan dengan arca Zeus, beberapa wadah cetakan lempung yang digunakan untuk mencetak bagian-bagian pakaian arca Zeus yang terbuat dari kaca atau pasta kaca telah ditemukan di bangunan yang dinamakan "sanggar kriya Fidias". Wadah-wadah cetakan itu adalah satu-satunya jenis temuan yang dapat dikaitkan secara langsung dengan karya-karya terkenal yang lahir dari tangan pematung besar itu, dan oleh sebab itu memberikan informasi yang berguna mengenai pembuatan karya-karya seni tersebut.

Beberapa contoh arca kriselefantin telah ditemukan. Contoh sintas yang paling terkenal adalah adalah fragmen-fragmen dari beberapa arca bekas terbakar berukuran lebih kecil dari ukuran tubuh manusia dari zaman Arkais yang ditemukan di Delfi. Tidak diketahui siapa tokoh yang direpresentasikan oleh arca-arca itu, tetapi diduga dewa-dewi.

Arca kriselefantin modern

Duplikat arca Atena Partenos di duplikat kuil Partenon seukuran asli di negara bagian Tennessee, Amerika Serikat

Istilah kriselefantin juga digunakan untuk menyebut ragam arca yang cukup lazim dijumpai di ranah seni rupa Eropa pada abad ke-19, khususnya Art Nouveau. Dalam konteks ini, yang disifatkan sebagai arca-arca kriselefantin adalah arca-arca dengan bagian kulit dari gading dan bagian pakaian serta detail lain dari bahan-bahan mentah selain gading, seperti emas, perunggu, pualam, perak, dan batu unam. Sebagai contoh, sekitar tahun 1840, seniman patung Pierre-Charles Simart membuat sebuah arca dari gading dan emas, atas pesanan Honoré Théodoric d'Albert de Luynes, dengan berpatokan kepada penjabaran-penjabaran kuno mengenai bentuk arca Atena Partenos karya Fidias. Hasilnya agak mengecewakan, karena kabarnya "... arca ini membuat Luynes menghabiskan seratus ribu franc hanya untuk membuktikan bahwa Simart bukanlah Fidias."[2] Sebuah versi abad ke-20 dari arca Atena Partenos, yang dikerjakan oleh pematung Amerika Alan LeQuire, kini tegak di dalam duplikat modern dari gedung Partenon yang dibangun di Nashville, Tennessee. Selepas dasawarsa 1890-an, sebagai pencerminan dari perubahan yang sudah dirangkul Pierre-Charles Simart dan beberapa pematung lain, istilah kriselefantin mengalami perluasan makna sehingga digunakan pula untuk menyifatkan arca-arca yang dibuat dengan memadukan gading dengan bahan-bahan mentah lain.[3]

Pada permulaan abad ke-20, Ferdinand Preiss dan Franz Iffland, pematung-pematung asal Jerman, terkenal dengan arca-arca kriselefantinnya. Beberapa pematung Eropa lainnya juga menghasilkan arca-arca kriselefantin, antara lain Joé Descomps, Josef Lorenzl, Georges Omerth, Claire J. R. Colinet, Pierre Le Faguays, D. H. Chiparus, Bruno Zach, dan Dominique Alonzo.[4]

Baca juga

Rujukan

  • Lapatin, Kenneth D. S. (2001). Chryselephantine statuary in the ancient Mediterranean world. Oxford: Oxford University Press. ISBN 0-19-815311-2.
  1. ^ Hemingway, Seán, Art of the Aegean Bronze Age, 31, The Metropolitan Museum of Art Bulletin, Edisi Musim Semi 2012 Jilid LXIX, Nomor 4
  2. ^ "... il en coûta cent mille francs au duc de Luynes pour prouver que Simart ne fut pas Phidias." Boissieu 1869:260.
  3. ^ Art Nouveau Sculpture, Alastair Duncan.
  4. ^ Catley, Bryan (1978). Art Deco and Other Figures (Edisi pertama). Woodbridge, Inggris: Antique Collectors' Club Ltd. hlm. 1–398. ISBN 978-1-85149-382-1.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement