Afdeling Mandailing dan Angkola

Afdeling Mandailing dan Angkola (nama awal: Afdeling Mandailing) adalah salah satu afdeling yang terbentuk dalam wilayah Keresidenan Tapanuli di Hindia Belanda.[1][2] Wilayah Afdeling Mandailing dan Angkola terbagi menjadi beberapa onderafdeling.[1] Penduduk di Afdeling Mandailing dan Angkola mengadakan kegiatan budidaya kopi.[3] Sebagian besar pelarian dari kejaran pasukan Belanda yang berasal dari Tapanuli.[4]

Pembentukan

Pada tahun 1824 M, Belanda menguasai wilayah Mandailing dan membentuk pemerintahan Keresidenan Air Bangis yang diurusi oleh Gubernemen Pesisir Barat Sumatra. Kemudian pada tahun 1834 M, ibu kota pemerintahan Keresidenan Air Mandailing dipindahkan dan diubah menjadi Keresidenan Tapanuli. Pada tahun 1852 M, wilayah yang mencakup Kabupaten Mandailing Natal pada masa kini, dibagi menjadi dua wilayah dan dibentuk dua afdeling yaitu Afdeling Mandailing dan Afdeling Natal.[1] Pada perkembangannya, nama Afdeling Mandailing berubah menjadi Afdeling Mandailing dan Angkola.[2]

Wilayah dan pemerintahan

Afdeling Mandailing dan Angkola memiliki wilayah yang terletak pada kawasan bagian selatan Tapanuli.[3] Wilayah Afdeling Mandailing dan Angkola terbagi menjadi beberapa onderafdeling. Nama-nama onderafdelingya yaitu Onderafdeling Mandailing Besar, Onderafdeling Mandailing Kecil, Onderafdeling Ulu dan Onderafdeling Pakantan dan Batang Natal.[1]

Penduduk dan pemerintahan

Pemerintahan di Afdeling Mandailing dan Angkola mulai diselenggarakan setelah Belanda berhasil merebut Benteng Bonjol dan mengamankan kondisi penduduk. Penduduk dan Pemerintah Hindia Belanda di Afdeling Mandailing dan Angkola telah mengadakan perjanjian tentang hak dan kewajibannya masing-masing. Para penduduk yang dipimpin oleh penguasa lokal diwajibkan mengadakan kegiatan budidaya kopi. Sementara itu, Pemerintah Hindia Belanda menjamin keamanan penduduk serta memberikan pendidikan dan pengingkatan kesehatan bagi penduduk.[3]

Penduduk di Afdeling Mandailing dan Angkola sebagian besar merupakan penduduk pendatang yang awalnya merupakan pelarian dari kejaran pasukan Belanda. Para penduduk pelarian awalnya merupakan pengikut dari para Raja Sisingamangaraja yang berkuasa di Tapanuli dan berperang melawan Belanda. Saat kawasan Tapanuli mulai diserang oleh pasukan Belanda, sebagian penduduknya memilih pindah ke wilayah Afdeling Mandailing dan Angkola untuk menghindari perang di tempat tinggal asalnya. Keberadaan penduduk pelarian di Afdeling Mandailing dan Angkola membuat hubungan antara Pemerintah Hindia Belanda dan penduduk sering mengalami konflik yang disertai oleh perlawanan dari rakyatnya.[4]

Referensi

Catatatan kak

  1. ^ a b c d BPK Sumatera Utara 2023, hlm. 44.
  2. ^ a b BPK Sumatera Utara 2023, hlm. 149.
  3. ^ a b c Harahap, A. M., dkk. (Januari 2017). Pendidikan di Tapanuli Bagian Selatan: Perjalanan Panjang Perubahan Status UGN Menjadi PTN (PDF). Sleman: Deepublish. hlm. 20. ISBN 978-602-401-982-2. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. ^ a b Pulungan, Ayub Suleman (2025). Willem Iskander Pahlawan dan Pendobrak! tetapi Nyaris Dilupakan Bangsanya!. Sleman: Penerbit Deepublish. hlm. 145. ISBN 978-634-200-542-2. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Daftar pustaka

  • Badan Pemeriksa Keuangan Perwakilan Provinsi Sumatera Utara (Desember 2023). Profil Perwakilan 2023 (PDF). Medan: Badan Pemeriksa Keuangan Perwakilan Provinsi Sumatera Utara. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement