Adipati Pakualaman
| Adipati Pakualaman | |
|---|---|
Lambang Kadipaten Pakualaman | |
| Gelar | Yang Mulia |
| Kediaman | Pura Pakualaman, Yogyakarta |
| Kantor | Yogyakarta, Indonesia |
| Masa jabatan | Seumur hidup |
| Dibentuk | 17 Maret 1813 |
| Pejabat pertama | Paku Alam I |
Adipati Pakualaman adalah penguasa Kadipaten Pakualaman, sebuah kadipaten di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Kadipaten ini didirikan pada tahun 1813 pada masa pemerintahan Inggris di Jawa di bawah pimpinan Thomas Stamford Raffles.[1]
Pakualaman merupakan bagian dari sistem monarki tradisional Jawa yang tetap bertahan dalam struktur pemerintahan Indonesia modern, khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta.[2]
Sejarah
Latar belakang
Kadipaten Pakualaman merupakan sebuah kadipaten yang berdiri di wilayah Kesultanan Yogyakarta sebagai hasil dinamika politik pada awal abad ke-19. Pembentukannya tidak terlepas dari konflik internal di lingkungan Keraton Yogyakarta serta campur tangan pemerintah kolonial Eropa.[3]
Pembentukan Pakualaman (1812–1813)
Kadipaten Pakualaman didirikan pada tahun 1812–1813 sebagai bagian dari konsekuensi politik setelah peristiwa Geger Sepehi, yaitu penyerbuan Keraton Yogyakarta oleh pasukan Inggris.[4]
Sebagai hasil perjanjian dengan pemerintah Inggris, Pangeran Notokusumo diangkat menjadi penguasa dengan gelar Paku Alam I. Pembentukan ini merupakan bagian dari kontrak politik antara pemerintah Britania Raya dan pihak keraton, yang sekaligus menjadikan Pakualaman sebagai pecahan dari Kesultanan Yogyakarta.[5]
Dengan berdirinya Pakualaman, struktur kekuasaan warisan Mataram Islam semakin terfragmentasi menjadi beberapa entitas politik di Jawa.[6]
Masa pemerintahan kolonial
Pada masa pemerintahan kolonial, Pakualaman berstatus sebagai daerah semi-otonom di bawah pengaruh pemerintah kolonial, сначала Inggris dan kemudian Belanda. Kedudukannya mirip dengan Praja Mangkunegaran di Surakarta.[7]
Para adipati Pakualaman tetap menjalankan fungsi administratif lokal serta menjaga stabilitas politik di wilayah Yogyakarta di bawah pengawasan kolonial.[8]
Masa pendudukan Jepang
Pada masa pendudukan Jepang (1942–1945), struktur pemerintahan tradisional termasuk Pakualaman tetap dipertahankan, namun berada di bawah kontrol militer Jepang. Status kadipaten tetap ada, tetapi kekuasaan politiknya terbatas.[9]
Peran dalam kemerdekaan Indonesia
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, Adipati Pakualaman saat itu, yaitu Paku Alam VIII, menyatakan dukungan terhadap Republik Indonesia. Bersama Sri Sultan Hamengkubuwana IX, ia berperan penting dalam integrasi wilayah Yogyakarta ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.[10]
Sebagai bentuk penghargaan, pemerintah Indonesia menetapkan Daerah Istimewa Yogyakarta dengan sistem pemerintahan khusus.[11]
Era Daerah Istimewa Yogyakarta
Dalam sistem pemerintahan modern, Adipati Pakualaman menjabat sebagai Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta secara turun-temurun, berdampingan dengan Sultan Yogyakarta sebagai Gubernur.[12]
Perkembangan kontemporer
Hingga saat ini, Kadipaten Pakualaman tetap eksis sebagai institusi budaya dan pemerintahan simbolik yang memiliki pengaruh dalam kehidupan masyarakat Yogyakarta. Kepemimpinan diwariskan secara turun-temurun dari Paku Alam I hingga Paku Alam X.[13]
Daftar Adipati Pakualaman
| No. | Potret | Nama | Masa Jabatan | Keterangan |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Paku Alam I | 1813–1829 | Pendiri Pakualaman[14] | |
| 2 | Paku Alam II | 1829–1858 | [15] | |
| 3 | Paku Alam III | 1858–1864 | [16] | |
| 4 | Paku Alam IV | 1864–1878 | [17] | |
| 5 | Paku Alam V | 1878–1900 | [18] | |
| 6 | Paku Alam VI | 1900–1902 | [19] | |
| 7 | Paku Alam VII | 1903–1937 | [20] | |
| 8 | Paku Alam VIII | 1937–1998 | Wakil Gubernur DIY[21] | |
| 9 | Paku Alam IX | 1998–2015 | [22] | |
| 10 | Paku Alam X | 2016–sekarang | Adipati saat ini[23] |
Lihat pula
Referensi
- ^ "Yogyakarta". Encyclopaedia Britannica. Diakses tanggal 2026-03-28.
- ^ "Sejarah Daerah Istimewa Yogyakarta". Pemerintah Daerah DIY. Diakses tanggal 2026-03-28.
- ^ "Pakualaman: Sejarah Berdirinya, Raja-raja, dan Pemerintahan". Kompas.com. Diakses tanggal 2026-03-30.
- ^ "Geger Sepehi 1812: Latar Belakang, Kronologi, dan Dampak". Kompas.com. Diakses tanggal 2026-03-30.
- ^ "Pakualaman: Sejarah Berdirinya, Raja-raja, dan Pemerintahan". Kompas.com. Diakses tanggal 2026-03-30.
- ^ "Pakualaman: Sejarah Berdirinya, Raja-raja, dan Pemerintahan". Kompas.com. Diakses tanggal 2026-03-30.
- ^ "Pakualaman: Sejarah Berdirinya, Raja-raja, dan Pemerintahan". Kompas.com. Diakses tanggal 2026-03-30.
- ^ "Daftar Adipati Pakualaman". Kompas.com. Diakses tanggal 2026-03-30.
- ^ "Pakualaman". Wikipedia. Diakses tanggal 2026-03-30.
- ^ "Pakualaman". Wikipedia. Diakses tanggal 2026-03-30.
- ^ "Pakualaman". Wikipedia. Diakses tanggal 2026-03-30.
- ^ "Pakualaman". Wikipedia. Diakses tanggal 2026-03-30.
- ^ "Daftar Adipati Pakualaman". Kompas.com. Diakses tanggal 2026-03-30.
- ^ Ricklefs, M.C. (2008). A History of Modern Indonesia Since c.1200. Stanford University Press.
- ^ Ricklefs, M.C. (2008). A History of Modern Indonesia Since c.1200. Stanford University Press.
- ^ Carey, Peter (2007). The Power of Prophecy: Prince Diponegoro and the End of an Old Order in Java. Brill.
- ^ "Sejarah Kesultanan Yogyakarta". Kraton Yogyakarta. Diakses tanggal 2026-03-28.
- ^ Ricklefs, M.C. (2008). A History of Modern Indonesia Since c.1200.
- ^ Ricklefs, M.C. (2008). A History of Modern Indonesia Since c.1200.
- ^ "Javanese Royal Succession and Colonial Politics". Indonesia Journal. 1990.
- ^ "Profil Daerah Istimewa Yogyakarta". Pemerintah DIY. Diakses tanggal 2026-03-28.
- ^ "Profil Paku Alam IX". Kompas. Diakses tanggal 2026-03-28.
- ^ "Profil Paku Alam X". Kompas. Diakses tanggal 2026-03-28.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


