Ad hominem


Seorang pemain sepak bola yang sedang menyerang mengincar bola, bukan penjaga gawang. "Mainkan bolanya, bukan orangnya" adalah metafora yang umum digunakan untuk menentang argumen ad hominem.

Ad hominem (Bahasa Latin: 'tertuju pada orangnya'), singkatan dari argumentum ad hominem, merujuk pada beberapa jenis argumen yang mana pembicara menyerang karakter, motif, atau atribut lainnya dari orang yang mengemukakan argumen, alih-alih menyerang substansi dari argumen itu sendiri. Hal ini menghindari perdebatan yang sesungguhnya dengan menciptakan pengalihan, sering kali menggunakan atribut karakter atau latar belakang lawan yang sama sekali tidak relevan namun sangat memancing emosi. Bentuk paling umum dari kesesatan berpikir ini adalah ketika "A" membuat klaim berupa "fakta", lalu "B" meresponsnya dengan menegaskan bahwa "A" memiliki sifat pribadi, kualitas, atau atribut fisik yang buruk sehingga menyimpang dari topik, dan dari hal itu "B" menyimpulkan bahwa "fakta" dari "A" itu salah – tanpa pernah menyinggung pokok perdebatan itu sendiri.

Penggunaan lain dari istilah ad hominem lebih bersifat tradisional, yang merujuk pada argumen yang secara khusus disesuaikan dengan audiens tertentu, dan dapat dijumpai dalam penggunaan filosofis khusus. Hal ini biasanya merujuk pada strategi dialektika yang menggunakan keyakinan dan argumen target itu sendiri untuk menyerang balik mereka, tanpa perlu menyetujui keabsahan dari keyakinan dan argumen tersebut. Argumen ad hominem pertama kali dipelajari pada zaman Yunani Kuno; John Locke menghidupkan kembali kajian terhadap argumen ad hominem pada abad ke-17.

Kesalahpahaman yang lazim terjadi adalah anggapan bahwa serangan ad hominem bersinonim dengan hinaan. Hal ini tidaklah benar, meskipun beberapa argumen ad hominem mungkin saja dianggap menghina oleh pihak yang menerimanya.

Sejarah

Aristoteles (384–322 SM) dianggap sebagai tokoh yang memunculkan perbedaan antara argumen personal dan logis.[1]

Berbagai jenis argumen ad hominem telah dikenal di Dunia Barat setidaknya sejak zaman Yunani Kuno. Aristoteles, dalam karyanya Bantahan Sofistik, merincikan kesesatan berpikir apabila seseorang menguji sang penanya alih-alih argumennya.[2] Deskripsinya sedikit berbeda dari pemahaman modern, yang mana ia merujuk pada suatu kelas sofisme yang menerapkan pertanyaan ambigu tentang orang-orang kepada individu tertentu. Bantahan yang tepat, tulisnya, bukanlah memperdebatkan atribut dari orang tersebut (solutio ad hominem) melainkan mengatasi ambiguitas aslinya.[3] Banyak contoh argumen ad hominem kuno yang tidak sesat (non-falasia) dipertahankan dalam karya filsuf Pironis Sextus Empiricus. Dalam argumen-argumen tersebut, konsep dan asumsi lawan digunakan sebagai bagian dari strategi dialektika untuk menyerang mereka guna menunjukkan ketidaktepatan argumen dan asumsi mereka sendiri. Dengan cara ini, argumen-argumen tersebut tertuju pada orangnya (ad hominem), namun tanpa menyerang sifat dari individu yang melontarkan argumen tersebut.[4] Jenis argumen ini juga dikenal sebagai "argumen dari komitmen".

Tokoh Italia Galileo Galilei dan filsuf Inggris John Locke juga meneliti argumen dari komitmen, sebuah bentuk dari argumen ad hominem, yang berarti menguji sebuah argumen berdasarkan apakah argumen tersebut sejalan dengan prinsip-prinsip orang yang membawakannya. Pada pertengahan abad ke-19, pemahaman modern akan istilah ad hominem mulai terbentuk, dengan definisi luas yang diberikan oleh ahli logika Inggris Richard Whately. Menurut Whately, argumen ad hominem "ditujukan pada keadaan, karakter, pendapat yang diakui, atau perilaku masa lalu individu yang khas".[5]

Seiring berjalannya waktu, istilah ini memperoleh makna yang berbeda; pada awal abad ke-20, istilah ini dikaitkan dengan kesesatan logika, di mana seorang pendebat, alih-alih membantah sebuah argumen, malah menyerang lawannya. Pendekatan ini juga dipopulerkan dalam buku-buku teks filsafat pada pertengahan abad ke-20, dan ditentang oleh filsuf Australia Charles Leonard Hamblin pada paruh kedua abad ke-20. Dalam sebuah karya yang terperinci, ia menyarankan bahwa penyertaan pernyataan yang menyerang seseorang dalam sebuah argumen tidak serta-merta menjadikannya argumen yang sesat, karena frasa tersebut bukanlah premis yang mengarah pada kesimpulan. Meskipun kritik Hamblin tidak diterima secara luas, filsuf Kanada Douglas N. Walton meneliti kesesatan argumen ad hominem lebih jauh lagi.[6] Kecuali dalam diskursus filosofis khusus, penggunaan kontemporer dari istilah ad hominem menggambarkan serangan langsung terhadap karakter dan etos seseorang, dalam upaya untuk mematahkan argumen mereka.[7]

Terminologi

Frasa Latin argumentum ad hominem berarti 'argumen yang menentang orangnya'.[8] Dalam konteks ini, ad berarti 'melawan' atau 'menentang', namun dapat juga berarti 'kepada' atau 'menuju'.[9]

Istilah ad mulierem dan ad feminam telah digunakan secara khusus ketika orang yang menerima kritik tersebut adalah perempuan[10] namun istilah hominem (bentuk akusatif dari homo) bersifat netral gender dalam bahasa Latin, dan hanya menyiratkan bahwa penerima hinaan tersebut adalah hominid awal, alih-alih manusia modern yang terbentuk secara budaya.[11]

Jenis-jenis argumen ad hominem

Penalaran ad hominem yang sesat dikategorikan ke dalam kesesatan informal, atau lebih tepatnya sebagai kesesatan genetik, sebuah subkategori dari kesesatan relevansi.[12]

Kesesatan ad hominem dapat dibagi menjadi beberapa jenis, seperti tu quoque, ad hominem sirkumstansial, bersalah karena asosiasi, dan ad hominem kasar. Semuanya memiliki kesamaan dengan skema umum argumen ad hominem, yakni alih-alih menangani esensi dari argumen seseorang atau mencoba mematahkannya, lawan bicaranya malah menyerang karakter pendukung argumen tersebut dan menyimpulkan bahwa hal tersebut merupakan alasan yang cukup untuk mengabaikan argumen awalnya.[13]

Tu quoque

Ad hominem tu quoque (secara harfiah berarti 'kamu juga') adalah tanggapan terhadap sebuah argumen ad hominem yang dengan sendirinya menjadi ad hominem.[14]

Tu quoque /[tuː koʊ.kweɪ]/ muncul sebagai berikut:

  • A membuat klaim a.
  • B menyerang karakter A dengan mengeklaim bahwa ia memiliki sifat negatif x.
  • A membela diri dengan menyerang B, dengan mengatakan bahwa ia juga memiliki sifat x yang sama.[15]

Sebuah contoh yang diberikan oleh profesor George Wrisley untuk mengilustrasikan hal di atas adalah:

Seorang pengusaha dan politikus sedang memberikan kuliah di sebuah universitas tentang seberapa bagus perusahaannya dan seberapa baik sistemnya bekerja. Seorang mahasiswa bertanya kepadanya, "Benarkah Anda dan perusahaan Anda menjual senjata kepada penguasa dunia ketiga yang menggunakan senjata tersebut untuk melawan rakyatnya sendiri?" dan pengusaha itu menjawab, "Benarkah universitas Anda mendapatkan pendanaan dari perusahaan yang sama yang Anda klaim menjual senjata ke negara-negara tersebut? Anda juga bukanlah merpati putih." Tuduhan ad hominem mahasiswa tersebut tidaklah sesat, karena relevan dengan narasi yang coba dibangun oleh pengusaha tersebut. Di sisi lain, serangan pengusaha terhadap mahasiswa tersebut (yaitu, fakta bahwa mahasiswa tersebut tidak konsisten) tidak relevan dengan narasi pembukanya. Jadi, tanggapan tu quoque dari pengusaha tersebut adalah sesat.[16]

Filsuf Kanada Christopher Tindale memiliki pendekatan yang sedikit berbeda mengenai kesesatan tu quoque. Menurut Tindale, kesesatan tu quoque muncul ketika tanggapan terhadap sebuah argumen didasarkan pada rekam jejak orang yang berargumen. Argumen ini juga tidak valid karena tidak membantah premisnya; jika premisnya benar, maka sumber A mungkin saja seorang yang munafik atau bahkan telah mengubah pikirannya, tetapi hal ini tidak membuat pernyataan tersebut menjadi kurang kredibel dari sudut pandang logis. Contoh umum yang diberikan oleh Tindale adalah ketika seorang dokter menyarankan pasiennya untuk menurunkan berat badan, tetapi pasien tersebut berargumen bahwa ia tidak perlu melakukan diet karena sang dokter juga kelebihan berat badan.[17]

Sirkumstansial

Ad hominem sirkumstansial menyoroti bahwa seseorang berada dalam keadaan (misalnya, pekerjaan, kekayaan, properti, atau relasi mereka) yang membuat mereka cenderung mengambil posisi tertentu. Hal ini merupakan serangan terhadap bias dari suatu sumber. Sama halnya dengan jenis argumen lainnya, ad hominem sirkumstansial bisa saja sesat ataupun tidak. Hal ini bisa menjadi sesat karena kecenderungan untuk membuat argumen tertentu tidak lantas membuat argumen tersebut menjadi tidak valid; hal ini tumpang tindih dengan kesesatan genetik (argumen bahwa suatu klaim salah karena sumbernya). Namun, argumen ini juga bisa menjadi argumen yang logis, jika premis-premisnya benar dan bias tersebut relevan dengan argumennya.[18]

Contoh sederhananya adalah: seorang ayah mungkin memberitahu putrinya untuk tidak merokok karena hal itu akan merusak kesehatannya, lalu sang putri mungkin menunjuk pada fakta bahwa ayahnya adalah perokok atau pernah menjadi perokok. Hal ini tidak mengubah fakta bahwa merokok dapat menyebabkan berbagai penyakit. Ketidakkonsistenan ayahnya bukanlah alasan yang tepat untuk menolak klaimnya.[19]

Douglas N. Walton, filsuf dan pakar dalam kesesatan informal, berargumen bahwa argumen ad hominem sirkumstansial bisa jadi tidak sesat. Hal ini bisa terjadi ketika seseorang (A) menyerang kepribadian orang lain (B), yang membuat argumen (a) sementara kepribadian B relevan dengan argumen a, misalnya B berbicara sebagai seorang figur otoritas. Untuk mengilustrasikan penalaran ini, Walton memberikan contoh seorang saksi di pengadilan: jika ia pernah ketahuan berbohong dan berbuat curang dalam hidupnya, haruskah juri begitu saja mempercayai perkataannya? Tidak, menurut Walton.[20]

Bersalah karena asosiasi

Bersalah karena asosiasi, yaitu menuduh seseorang yang berargumen karena dugaan keterkaitannya dengan orang atau kelompok yang didiskreditkan, terkadang juga dapat menjadi jenis kesesatan ad hominem ketika argumen tersebut menyerang suatu sumber karena adanya kesamaan antara pandangan seseorang yang membuat argumen dengan pendukung argumen lainnya.[21]

Bentuk argumen ini adalah sebagai berikut:[21]

  1. Individu S membuat klaim C. 
  2. Individu S juga berasosiasi dengan Kelompok G, yang memiliki reputasi buruk.
  3. Oleh karena itu, individu S dan pandangannya patut dipertanyakan.

Akademisi Leigh Kolb memberikan contoh bahwa kandidat wakil presiden AS 2008 Sarah Palin menyerang Barack Obama karena pernah bekerja sama dengan Bill Ayers, yang pernah menjadi pemimpin kelompok teroris Weather Underground pada tahun 1960-an. Meskipun Obama mengecam setiap tindakan terorisme, lawan-lawannya tetap mengaitkannya dengan terorisme.[22]

Bersalah karena asosiasi sering ditemukan dalam perdebatan sosial dan politik. Hal ini juga muncul setelah peristiwa besar (seperti skandal dan terorisme) yang dikaitkan dengan kelompok tertentu. Kolb mengutip puncak serangan terhadap umat Islam di AS setelah Serangan 11 September.[22]

Ad hominem kasar

Argumen ad hominem kasar (atau ad hominem langsung) dikaitkan dengan serangan terhadap karakter orang yang membawakan argumen. Jenis argumen ini, selain biasanya sesat, juga kontraproduktif, karena dialog yang baik sulit dicapai setelah serangan semacam itu.[23][24][25]

Isu utama dalam menguji sebuah argumen untuk menentukan apakah hal tersebut merupakan kesesatan ad hominem atau bukan adalah apakah tuduhan terhadap orang tersebut benar atau tidak, dan apakah tuduhan tersebut relevan dengan argumennya. Contohnya adalah dialog di pengadilan, saat pengacara melakukan pemeriksaan silang terhadap saksi mata, yang mengungkap fakta bahwa saksi tersebut pernah dihukum di masa lalu karena berbohong. Jika kesimpulan pengacara adalah bahwa saksi tersebut sedang berbohong, hal itu adalah salah. Namun, jika argumennya adalah bahwa saksi tersebut tidak dapat dipercaya, itu bukanlah suatu kesesatan.[26]

Argumen dari komitmen

Argumen ad hominem dari komitmen adalah jenis argumen valid yang menggunakan strategi dialektika, yaitu penggunaan eksklusif atas keyakinan, pendirian, dan asumsi dari mereka yang memegang posisi yang sedang ditentang, yakni argumen yang dibangun berdasarkan apa yang dianggap benar oleh orang lain. Penggunaan ini umumnya hanya dijumpai dalam diskursus filosofis khusus atau dalam penggunaan sebelum abad ke-20.[27] Jenis argumen ini juga dikenal sebagai argumen ex concessis (bahasa Latin untuk 'dari apa yang telah diakui').[28]

Penggunaan dalam perdebatan

Kesesatan ad hominem dianggap tidak beradab dan tidak membantu menciptakan suasana yang konstruktif agar dialog dapat berkembang.[29] Serangan ad hominem adalah serangan terhadap karakter target yang cenderung merasa perlu membela diri dari tuduhan bersikap munafik. Walton mencatat bahwa ini adalah argumen yang sangat kuat sehingga sering digunakan dalam banyak perdebatan politik. Karena dikaitkan dengan hal-hal negatif dan taktik kotor, argumen ini mendapat reputasi buruk karena selalu dianggap sesat.[30]

Penulis Eithan Orkibi, yang telah mempelajari politik Israel menjelang pemilihan umum, menggambarkan dua bentuk serangan ad hominem lainnya yang umum terjadi selama masa pemilihan. Keduanya bergantung pada memori kolektif yang dibagikan oleh pendukung maupun audiens. Yang pertama adalah "ad hominem preseden", yang mana menurut argumen ini riwayat masa lalu seseorang menandakan bahwa mereka tidak pantas untuk menduduki jabatan tersebut. Bentuknya seperti ini: "Lawan saya (diduga) salah di masa lalu, oleh karena itu dia salah sekarang". Yang kedua adalah ad hominem perilaku: "lawan saya tidak pantas dalam argumennya di masa lalu, jadi dia juga tidak pantas sekarang". Serangan semacam ini didasarkan pada ketidakmampuan audiens untuk memiliki pandangan yang jelas mengenai jumlah pernyataan palsu yang dibuat oleh kedua belah pihak dalam perdebatan tersebut.[31]

Kritik sebagai kesesatan

Walton berpendapat bahwa penalaran ad hominem tidaklah selalu sesat, dan dalam beberapa kasus, pertanyaan mengenai perilaku pribadi, karakter, motif, dan lain-lain, adalah sah dan relevan dengan pokok permasalahan,[32] misalnya ketika hal tersebut secara langsung melibatkan kemunafikan, atau tindakan yang bertentangan dengan perkataan subjek tersebut.

Filsuf Charles Taylor berpendapat bahwa penalaran ad hominem (membahas fakta-fakta tentang pembicara atau penulis sehubungan dengan nilai dari pernyataan mereka) sangat penting untuk memahami masalah moral tertentu karena adanya hubungan antara individu dengan moralitas (atau klaim moral), dan ia membedakan penalaran semacam ini dengan penalaran apodiktik (melibatkan fakta-fakta yang tidak dapat dibantah atau telah ditetapkan secara jelas) dari naturalisme filosofis.[33]

Lihat pula

Referensi

  1. ^ Walton 2001, hlm. 208; Tindale 2007, hlm. 82.
  2. ^ Tindale 2007, hlm. 82.
  3. ^ Nuchelmans 1993, hlm. 43.
  4. ^ Walton 2001, hlm. 207–209; Wong 2017, hlm. 49.
  5. ^ Walton 2001, hlm. 208–210.
  6. ^ van Eemeren & Grootendorst 2015, hlm. 615–626.
  7. ^ Walton 2001, hlm. 210.
  8. ^ Tindale 2007, hlm. 91.
  9. ^ Wrisley 2019, hlm. 71–72.
  10. ^ Olivesi 2010; Sommers 1991.
  11. ^ Lewis & Short 1879, hlm. 859-860.
  12. ^ Walton 2008, hlm. 190; Bowell & Kemp 2010, hlm. 201–213; Copi 1986, hlm. 112–113.
  13. ^ van Eemeren 2001, hlm. 142.
  14. ^ Wrisley 2019, hlm. 88; Walton 2015, hlm. 431–435; Lavery & Hughes 2008, hlm. 132.
  15. ^ Wrisley 2019, hlm. 89.
  16. ^ Wrisley 2019, hlm. 89–91.
  17. ^ Tindale 2007, hlm. 94–96.
  18. ^ Walton 1998, hlm. 18–21; Wrisley 2019, hlm. 77–78.
  19. ^ Walton 2001, hlm. 211.
  20. ^ Walton 2001, hlm. 213.
  21. ^ a b Walton 1998, hlm. 18–21.
  22. ^ a b Kolb 2019, hlm. 351–352.
  23. ^ Tindale 2007, hlm. 92–93.
  24. ^ Hansen 2019, 1. The core fallacies.
  25. ^ Walton 2006, hlm. 123.
  26. ^ Wrisley 2019, hlm. 86–87.
  27. ^ Merriam-Webster 2019, note1.
  28. ^ Walton 2001.
  29. ^ Weston 2018, hlm. 82.
  30. ^ Walton 2006, hlm. 122.
  31. ^ Orkibi 2018, hlm. 497–498.
  32. ^ Walton 2008, hlm. 170.
  33. ^ Taylor 1995, hlm. 34–60.

Sumber

Pranala luar

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement