Aci Sanghyang Grodog

Ritual adat Sanghyang sebagai salah satu upacara adat yang ada di Bali dan tetap lestari sampai masa kini

Aci Sanghyang Grodog adalah ritual adat sakral yang dilaksanakan setiap dua tahun sekali oleh masyarakat Desa Adat Lembongan, Bali, untuk memohon keselamatan dan kedamaian bagi seluruh warga desa. Ritual ini melibatkan tarian sakral bernama Sanghyang Grodog dan berbagai jenis Sanghyang lainnya, dengan tujuan membersihkan desa dari energi negatif dan menjaga keharmonisan hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta (konsep Tri Hita Karana).[1][2]

Latar belakang

Tradisi

Sanghyang Grodog memuat tarian ritual yang sangat unik dan eksklusif di Bali, di mana keberadaannya hanya ditemukan di Desa Adat Lembongan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Meskipun tidak ada bukti-bukti tertulis atau catatan sejarah yang pasti mengenai masa awal kemunculannya, tradisi sakral ini tetap terpelihara dan dilaksanakan oleh masyarakat setempat. Kesenian ini sangat berbeda dengan jenis tari Sanghyang lainnya yang lazim ditemui di daerah Bali. Sanghyang Grodog tidak melibatkan proses kerasukan yang menjadi bagian ciri khas mayoritas Sanghyang di Bali, sebaliknya, seluruh gerakan ditarikan dengan kesadaran penuh oleh pelakunya.[3]

Keunikan

Keunikan mendasar lainnya terletak pada jumlah jenis Sanghyang yang diwakili, yakni sebanyak 23 simbol masing-masing direpresentasikan oleh media yang dibuat menyerupai wujud sanghyang yang disebut gegulak dan penggunaan roda kayu pada setiap simbol tersebut. Secara estetik, Sanghyang Grodog memiliki perpaduan sempurna antara tiga unsur, yakni irama gending, rupa, dan gerak/kinetik. Meskipun berbeda dalam teknik pementasan, satu kesamaan dengan seluruh tari Sanghyang di Bali adalah penggunaan gending yang dibawakan oleh penyanyi perempuan sebagai iringan utamanya.[2][4]

Media

Media gegulak berupa wahana beroda yang seluruh bagiannya terbuat dari kayu dan digerakkan dengan iringan nyanyian atau gending Sanghyang. Istilah grodog berasal dari bunyi yang dihasilkan ketika roda kayu tersebut bergerak dan bersentuhan dengan permukaan tanah selama prosesi ritual berlangsung. Dari 23 jenis Tari Sanghyang yang dikenal di Desa Adat Lembongan, tidak semuanya memanfaatkan kereta kayu grodog sebagai sarana atau perangkat ritual; beberapa di antaranya seperti Sanghyang Penyalin, Sanghyang Tiling-tiling, Sanghyang Sampat, dan Sanghyang Bungbung menggunakan media yang berbeda.[1]

Pementasan

Sanghyang Grodog dipentaskan sebanyak setahun sekali, tepatnya pada sasih Karo antara penanggal ping 7 hingga panglong ping 3. Setelah sempat tidak diselenggarakan selama kurang lebih 29 tahun, tradisi ini berhasil direkonstruksi kembali dan kini disepakati untuk dipentaskan dua tahun sekali. Penyesuaian ini dilakukan karena jadwal pelaksanaannya harus bergiliran dengan upacara adat berskala besar lainnya, yaitu Pitra Yadnya, khususnya rangkaian upacara ngaben massal yang jatuh pada sasih atau bulan yang sama.[4]

Rujukan

  1. ^ a b Arshiniwati, Ni Made; Surya Peradantha, Ida Bagus Gede (2025-04-07). "Reviving the Sanghyang Grodog Ritual Dance: Promoting Social Harmony and Sustainable Cultural Tourism in Nusa Lembongan Island, Bali". Jurnal Kajian Bali (Journal of Bali Studies) (dalam bahasa American English). 15 (1): 61. doi:10.24843/JKB.2025.v15.i01.p03. ISSN 2580-0698.
  2. ^ a b "Keunikan Upacara Aci Sang Hyang Grodog di Nusa Lembongan". kumparan. Diakses tanggal 2025-11-13.
  3. ^ "Aci Sanghyang Grodog - Ritus | Ceraken Kebudayaan Bali". ceraken.baliprov.go.id. Diakses tanggal 2025-11-14.
  4. ^ a b Artawan, I. Putu Budikrista. "Aci Sanghyang Grodog: Tradisi Unik Tiap Dua Tahun Sekali di Nusa Lembongan". detikbali. Diakses tanggal 2025-11-14.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement