Acer cissifolium
| Acer cissifolium | |
|---|---|
| Di Morton Arboretum | |
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | Plantae |
| Klad: | Tracheophyta |
| Klad: | Angiospermae |
| Klad: | Eudikotil |
| Klad: | Rosidae |
| Ordo: | Sapindales |
| Famili: | Sapindaceae |
| Subfamili: | Hippocastanoideae |
| Genus: | Acer |
| Spesies: | A. cissifolium
|
| Nama binomial | |
| Acer cissifolium | |
Acer cissifolium (bahasa Jepang:ミツデカエデ, mitsudekaede) dikenal juga sebagai tangkira berdaun anggur atau tangkira daun anggur, merupakan spesies tangkira yang berasal dari Jepang. Tumbuhan ini tumbuh alami mulai dari wilayah selatan Hokkaidō, kemudian menyebar ke Honshū dan Shikoku, hingga mencapai Kyūshū.[2] Baik nama ilmiah maupun nama umumnya mengacu pada kemiripan daunnya dengan Cissus, genus dalam keluarga anggur.[3]
Deskripsi
Tumbuhan ini berupa pohon gugur berukuran kecil atau semak besar dengan tinggi 5–10 meter (kadang bisa mencapai 15 meter), dan memiliki kulit batang abu-abu yang halus. Pucuk mudanya berwarna hijau dengan rona merah muda, awalnya ditutupi rambut halus berwarna keputihan sebelum berubah menjadi abu-abu pada tahun kedua. Daunnya terdiri dari tiga selebaran (trifoliat), dengan tangkai daun sangat tipis berwarna merah sepanjang hingga 10 cm. Masing-masing selebaran berukuran 4–10 cm panjang dan 2–4 cm lebar, bertangkai 1–2 cm, serta memiliki tepian bergerigi kasar. Permukaan atas daun berwarna hijau kusam, sedangkan bagian bawahnya lebih pucat dan sedikit mengilap. Di musim gugur, daunnya berubah menjadi kuning pucat hingga merah muda. Bunganya tumbuh dalam rangkaian menggantung sepanjang 10–16 cm, masing-masing bunga memiliki empat sepal dan empat kelopak. Spesies ini bersifat sebagai tumbuhan berumah dua, artinya bunga jantan dan betina tumbuh pada pohon yang berbeda. Buahnya berupa samara berpasangan, dengan bagian biji sepanjang 7 mm dan sayap sepanjang 15–25 mm yang terbuka pada sudut tajam.[4][3][5]
Kultivasi
Tangkira ini cukup sering dibudidayakan, meskipun jumlah kultivar yang dikenali masih terbatas. Salah satu kultivar variegata yang terkenal adalah ‘Gotenbanishiki’, yang dikembangkan di Jepang. Pohon betina umumnya diperbanyak melalui teknik pencangkokan dan banyak dipasarkan di pusat-pusat pembibitan.[6]
Acer cissifolium memiliki kemiripan dengan kerabat terdekatnya, A. henryi yang jarang dibudidayakan serta A. negundo, yang justru umum ditanam dan memiliki banyak kultivar. Perbedaannya dengan A. henryi terlihat pada pucuknya yang berubah menjadi abu-abu pada tahun kedua, sedangkan A. henryi mempertahankan warna hijau selama beberapa tahun. Sementara itu, dari A. negundo, spesies ini dibedakan oleh daunnya yang selalu trifoliat, tidak pernah memiliki lima selebaran seperti yang sering dijumpai pada A. negundo. Karena kemiripan visual di antara ketiga spesies tersebut, kesalahan pelabelan kerap terjadi.[3][4]
Referensi
- ^ Harvey-Brown, Y. (2020). "Acer cissifolium". 2020 e.T193534A2242541. doi:10.2305/IUCN.UK.2020-1.RLTS.T193534A2242541.en. ;
- ^ Yamaguchi prefecture ecology: Acer cissifolium Diarsipkan 2012-02-08 di Wayback Machine. (in Japanese; google translation)
- ^ a b c Rushforth, K. (1999). Trees of Britain and Europe. Collins ISBN 0-00-220013-9.
- ^ a b van Gelderen, C. J. & van Gelderen, D. M. (1999). Maples for Gardens: A Color Encyclopedia.
- ^ Mitchell, A. F. (1982). The Trees of Britain and Northern Europe. Collins ISBN 0-00-219037-0
- ^ Ganshukutei Botanic Garden: Acer cissifolium 'Gotenbanishiki' Diarsipkan 2007-10-12 di Wayback Machine. (in Japanese; google translation)
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


